Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Mengenal Myanmar
Myanmar adalah salah satu negara yang terletak di Asia
Tenggara. Sama seperti Indonesia, negara ini juga merupakan anggota Association
of Southeast Asian Nations (ASEAN). Bagian utara negara ini berbatasan
dengan China dan India. Di sebelah selatan, berbatasan dengan Teluk Benggala
dan Thailand. Sebelah timur berbatasan dengan wilayah China, Laos, dan
Thailand. Dan sebelah barat berbatasan dengan Teluk Benggala dan wilayah
Bangladesh.
Adapun wilayah Rakhine –penjajah Inggris menyebut mereka
orang-orang Arakan- terletak di barat daya wilayah Myanmar, berbatasan dengan
Teluk Benggala dan wilayah Bangladesh.
![]() |
| Peta Wilayah Arakan |
Kurang lebih, luas wilayah Myanmar adalah 261.000 mil2.
Dan wilayah Rakhine 20.000 mil2. Wilayah ini dipisahkan oleh pagar
alami berupa pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Himalaya.
Jumlah penduduk Myanmar ditaksir sekitar 50 juta orang.
15% dari jumlah tersebut adalah muslim yang mayoritasnya adalah orang-orang
Arakan. 70% dari penduduk Arakan adalah muslim. Sisanya adalah orang-orang
Magh, orang-orang Arakan yang beragama Budha Theravada. Dan kelompok-kelompok
minoritas lainnya.
Myanmar merupakan wilayah yang terdiri dari banyak suku.
Lebih dari 140 suku menghuni wilayah bekas koloni Inggris tersebut. Suku
mayoritasnya adalah Bamar/Birma. Suku ini adalah suku kasta pertama dan
memegang pemerintahan. Oleh karena itu, dulu nama wilayah ini adalah Burma
kemudian berganti Mynamar. Kasta kedua adalah suku Syan, Kachin, Chin, Kayah,
Magh, dan umat Islam dari suku Rohingya. Jumlah kasta kedua ini kurang lebih
5juta jiwa.
Umat Islam Arakan
Sejarawan menyebutkan bahwa umat Islam tiba di wilayah
Arakan bertepatan dengan masa Daulah Abbasiyah yang tengah dipimpin oleh
Khalifah Harun al-Rasyid rahimahullah. Kaum muslimin tiba di wilayah
tersebut melalui jalur perdagangan. Dengan cara damai. Bukan peperangan apalagi
penjajahan.
Karena umat Islam semakin banyak dan terkonsentrasi di
suatu wilayah, jadilah ia sebuah kerajaan Islam yang berdiri sendiri. Kerajaan
tersebut berlangsung selama 3,5 abad. Dan dipimpin oleh 48 raja. Yaitu antara
tahun 1430 – 1784 M. Banyak peninggalan-peninggalan umat Islam yang terwarisi
di wilayah tersebut. Ada masjid-masjid dan madrasah-madrasah. Di antara masjid
yang paling terkenal adalah Masjid Badr di Arakan dan Masjid Sindi Khan yang
dibangun tahun 1430 M.
Ekspansi Budha Terhadap Kerajaan Islam Arakan
Pada tahun 1784 M, Arakan diserang oleh raja Budha dari
suku Birma yang bernama Bodawpaya (masa pemerintahan 1782-1819 M). Kemudian ia
menggabungkan wilayah Arakan ke dalam wilayahnya, agar Islam tidak berkembang
di wilayah tersebut. Sejak saat itu bencana umat Islam Arakan pun dimulai.
Peninggalan-peninggalan Islam, masjid dan madrasah, dihancurkan. Para ulama dan
da’i dibunuh. Budha dari suku Birma terus-menerus mengintimidasi kaum muslimin
dan menjarah hak milik mereka. Mereka juga memprovokasi orang-orang Magh untuk
melakukan hal yang sama. Keadaan tersebut terus berlangsung selama 40 tahun.
Sampai akhirnya berhenti dengan kedatangan penjajah Inggris.
Pada tahun 1824 M, Inggris menguasai Burma. Kemudian
kerajaan Britania itu menggabungkan wilayah itu dengan persemakmurannya di
India. Pada tahun 1937 M, Inggris memisahkan Burma dan wilayah Arakan dari
wilayah kekuasaannya di India. Maka Burma menjadi wilayah kerajaan Inggris
tersendiri yang bernama Burma Britania. Tidak bernaung di wilayah India lagi.
Tahun 1942 M, bencana besar menimpa kaum muslimin
Rohingya. Orang-orang Budha Magh membantai mereka dengan dukungan senjata dan
materi dari saudara Budha mereka suku Birma dan suku-suku lainnya. Lebih dari
100.000 muslim pun tewas dalam peristiwa itu. Sebagian besar mereka adalah
wanita, orang tua, dan anak-anak. Ratusan ribu lainnya melarikan diri dari
Burma. Karena pedih dan mengerikannya peristiwa tersebut, kalangan tua –saat
ini- yang menyaksikan peristiwa itu senantiasa mengingatnya dan mengalami
trauma.
Pada tahun 1947 M, Burma mempersiapkan deklarasi
kemerdekaan mereka di Kota Panglong. Semua suku diundang dalam persiapan
tersebut, kecuali umat Islam Rohingya. Pada tanggal 4 Januari 1948, Inggris
memerdekakan Burma secara penuh disertai persyaratan masing-masing suku bisa
memerdekakan diri dari Burma apabila mereka menginginkannya. Namun suku Birma
menyelisihi poin perjanjian tersebut. Mereka tetap menguasai wilayah Arakan dan
tidak mendengarkan suara masyarakat muslim Rohingya dan Budha Magh yang ingin
merdeka. Mereka pun melanjutkan intimidasi terhadap kaum muslimin.
Duka Muslim Arakan
– Pemusnahan Etnis
Sejak pemerintahan militer berkuasa di Myanmar melalui
kudeta Jendral Ne Win tahun 1962 M, umat Islam Arakan mengalami berbagai bentuk
kezaliman dan intimidasi. Dibunuh, diusir, diitekan hak-hak mereka, dan tidak
diakui hak-hak kewarga-negaraannya. Mereka disamakan dengan orang-orang
Bangladesh dalam hal agama, bahasa, dan fisik.
Menghapuskan identitas Islam dan pengaruhnya:
Hal ini dilakukan dengan cara menghancurkan
peninggalan-peninggalan Islam. Yaitu menghancurkan masjid, madrasah, dan
bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Lalu kaum muslimin dilarang sama sekali
untuk membangun suatu bangunan yang berkaitan dengan Islam. Dilarang membangun
masjid, madrasah, kantor-kantor dan perpustakaan, tempat penampungan anak
yatim, dll. sebagian sekolah-sekolah Islam yang tersisa tidak mendapatkan
pengakuan dari pemerintah, dilarang untuk dikembangkan, dan tidak diakui
lulusannya.
Upaya “Burmanisasi”, meleburkan ajaran Islam dan
menghilangkan identitasnya dalam masyarakat Budha:
Umat Islam diusir dari kampung halaman mereka.
Tanah-tanah dan kebun-kebun pertanian mereka dirampas. Kemudian orang-orang
Budha menguasainya dan membangunnya dengan harta-harta yang berasal dari kaum
muslimin. Atau membangunnya menjadi barak militer tanpa kompensasi apapun. Bagi
mereka yang menolak, maka tebusannya adalah nyawa. Inilah militer fasis yang
tidak mengenal belas kasihan.
Pengusiran dan diskriminasi dari wilayah Myanmar secara
berkesinambungan:
- Pada tahun 1962 M, militer fasis Myanmar mengusir 300.000 orang Arakan ke wilayah Bangladesh.
- Pada tahun 1978 M, lebih dari 500.000 kaum muslimin diusir dan mengalami tekanan yang sangat berat hingga hampir 400.000 orang dari mereka tewas. Termasuk di dalamnya orang-orang tua, wanita, dan anak-anak.
- Tahun 1988, 150.000 kaum muslimin diusir karena orang-orang Budha hendak membangun desa mereka sebagai tempat percontohan.
- Tahun 1991, hampir 500.0000 orang muslim diusir. Hal ini karena hukuman atas kemenagnan partai oposisi (NLD) dalam pemilu yang mendapatkan suara dari umat Islam. Hasil pemilu pun dibatalkan.
- Membatalkan hak kewarganeraan umat Islam.
- Melakukan kerja paksa dengan tanpa mendapatkan makanan, minuman, dan transportasi.
- Umat Islam dilarang untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Apalagi duduk di banguku kuliah. Bagi mereka yang berusah mendapatkan pendidikan di luar negeri, kemudian kembali ke Myanmar dalam keadaan terdidik, maka akan dijebloskan ke dalam penjara.
- Secara umum, tidak boleh menjadi pegawai negera. Jika pun ada, maka tidak akan mendapatkan hak-haknya secara penuh.
- Dilarang melakukan perjalanan ke luar negeri, walaupun untuk beribadah haji. Mereka hanya diperbolehkan pergi ke Bangladesh dengan ketentuan waktu yang terbatas. Mereka tidak diperbolehkan berpergian ke Ibu Kota Rangon dan kota-kota lainnya di Myanmar. Jika mereka hendak pindah kota, harus mendapatkan surat izin yang jelas.
![]() |
| Pemusnahan Etnis Rohingya di Myanmar |
Diskrimanis dalam ekonomi:
Dibebani pajak yang tinggi dalam segala hal. Dikenakan
banyak denda. Dipersulit melakukan perdagangan. Kecuali berniaga dengan
militer. Itupun dijual dengan harga yang jauh di bawah standar atau dipaksa
menjual sesuatu yang tidak ingin mereka jual. Hal itu bertujuan agar mereka
terus dalam keadaan miskin.
Penutup
Demikian gambaran singkat keadaan muslim Rohingya. Sejak
lama mereka ditindas dan menerima kekejaman umat Budha Myanmar, namun dunia
enggan berbicara membela mereka. Tidak ada atas nama kemanusiaan. Tidak pula
ada belas kasihan.
Pada tahun 1970-an Raja Faisal bin Abdul Aziz rahimahullah
menjadi pemimpin dunia yang pertama membangun puluhan ribu camp pengungsi
Rohingya di Arab Saudi. Saat ini sekitar seperempat juta warga Rohingya telah
tinggal aman di Arab Saudi.
Saat ini kita melihat respon yang baik dari pemerintah
Aceh, Turki, dan Arab Saudi, untuk menolong saudara-saudara kita kaum muslimin
Rohingya yang tengah tertimpa musibah. Semoga Allah meringankan beban mereka.
Sumber: Kisahmuslim.com





No comments:
Post a Comment