Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi97)
Peristiwa pembakaran sebuah masjid saat sedang
dilaksanakan Shalat Idul Fitri di Tolikara, Papua membuka mata semua
orang. Aksi terorisme bukanlah monopoli satu kelompok, agama, atau ras tertentu
saja. Teroris metelah lama ada dan diadopsi banyak manusia. Ia bukanlah
persoalan pelaku semata.
Tapi melibatkan ideologi juga. Ia bukanlah monopoli ras
atau agama tertentu. Tapi perjalanan sejarahnya telah ditulis oleh banyak
kemlompok dan individu. Ia tidak melulu menampilkan fisik berjanggut lebat dan
bersurban. Kadang mereka berdasi dan berlaku lebih mengerikan.
Kini, boleh jadi sekelompok orang menamakan diri moderat
dan toleran. Namun ternyata mereka sempit pengetahuan dan pemahaman. Karena
apa? Karena hanya tahu kalau terorisme itu adalah monopoli ras dan agama
tertentu saja.
Pengertian Terorisme
Terorisme belum memiliki pengertian yang utuh menyeluruh.
Ia masih didominasi banyak kepentingan dan dorongan kekuasaan. Negara-negara
kuat mendefinisikan terorisme dengan menyebut orang ketiga. Meskipun mereka
adalah pelakunya.
Intinya, terorisme adalah sebuah ideologi yang mendorong
untuk melakukan kekerasan, untuk menciptakan kondisi atau sebuah iklim
ketakutan di dalam masyarakat. Jadi, mereka bukan hanya sekedar melakukan
pembunuhan. Namun mereka juga menimbulkan efek ketakutan yang luas. Kemudian
pengertian ini berkembang bahwa terorisme adalah cara atau teknik intimidasi
dengan sasaran sistematik, demi suatu kepentingan tertentu (Hendropriyono,
2009: 25).
Sejarah Aksi Terorisme
Motivasi Agama/Ideologi
Pertama: Kelompok Assassins
Sejarah mencatat pada abad ke-11 terdapat Ordo Para
Pembunuh (Order of the Assassins) yaitu sebuah cabang dari kaum Syiah
Ismailiyah. Hassan Sabah, pendiri ordo ini lahir di Qom, pusat Syiah di Persia
utara (Iran sekarang). Hassan Sabah mengadopsi doktrin Syiah Ismailiyah yang
ekstrim yang mendorongnya untuk melakukan pembunuhan dan perampasan beberapa
benteng di pegunungan. Seperti Benteng Alamut yang direbut pada tahun 1090.
Lukisan
kelompok Assassins membunuh Nizam al-Mulk, perdana mentri Kerajaan Saljuk
Korban pertama pembunuhan mereka di perkotaan adalah
perdana mentri dari Sultan Baghdad, Nizham al-Mulk, yang bermadzhab
Sunni.Tahun-tahun berikutnya kelompok pembunuh ini aktif beroprasi di Persia,
Suriah, dan Palestina. Mereka membunuh sejumlah besar musuhnya yang kebanyakan
orang-orang Sunni.
Di samping itu, sasaran mereka juga orang-orang Kristen,
termasuk Count Raymond II dari Tripoli yang dibunuh di Suriah. Juga Marquis
Conrad dari Montferrat yang memerintah kerajaan Jerusalem.
Kedua: Thugee
Thugge (pembunuh sadis) adalah kelompok teroris Hindu
India yang muncul pada tahun 1356. Kelompok ini setidaknya beraksi selama 450
tahun atau bahkan 600 tahun. Mereka menjalankan aksinya atas dasar motivasi
religius. Aksi teror yang mereka lakukan adalah persembahan untuk Dewi Kali.
Mereka membunuh korban-korbannya dengan cara mencekik
leher. Setelah korban tewas, mereka membakar jasad-jasadnya dan merampok
benda-benda berharga.
Ketiga: Kelompok Teroris Yahudi,
Sicari.
Kelompok Sicari melakukan aksinya dengan sistematis.
Mereka terlibat dalam pengepungan terhadap ‘pengikut setianya’ untuk kemudian
melakukan bunuh diri kolektif. Seperti yang terjadi di Masada tahun 1973. Para
ultra-patriot tersebut menyerang musuh pada siang hari. Di tempat-tempat ramai.
Serta kerap dilakukan pada masa liburan atau hari-hari besar.
Kelompok teroris Yahudi ini menggunakan senjata tajam
yang disebut sica.Sejenis pisau pendek yang disembunyikan di balik jubah yang
mereka pakai. Mereka membunuh seorang petinggi Katolik. Membakar rumah orang
awam. Menghancurkan arsip-arsip negara. Serta menjarah istana dinasti Herodes.
Serangan mereka juga ditujukan kepada para lintah darat.
Kemudian mengadakan perang gerilya di daerah pedalaman Roma. Adapun pusat
kegiatan terorisme Sicari adalah di Jerusalem.
Keempat: Teroris Kaum Fasis dan
Komunis
Di era Perang Dunia I, di Rusia muncul kelompok yang
dikenal dengan The Black Hundred. Kelompok anti-Semit ini terlibat
dalam pembantaian umum dan pembunuhan beberapa pemimpin liberal saat itu. Ada
pula Ustasha di Kroasia. Kelompok ini menuntut kemerdekaan atas wilayah mereka.
Aksi Ustasha yang paling menyentak adalah pembunuhan atas Raja Alexander dari
Yugoslavia dan Perdana Mentri Perancis Louis Barthou saat keduanya
mengadakan pertemuan di Marseiles bulan April 1934.
Di Rumania muncul The Iron Guard yang
sebelumnya dikenal dengan Legiun Malaikat Michael. Kelompok ini melakukan aksi
terorisme di Eropa Timur sampai Timur Tengah. Demikian juga aksi teroris kaum
komunis di Bulgaria pada tahun 1923 yang meledakkan Katedral Sofia.
Kelima: Teroris Yahudi di
Palestina.
Aksi terorisme di Palestina dipelopori oleh kelompok
Yahudi yang bernama Irgun. Mereka muncul di era Perang Dunia II.
![]() |
|
Haganah
organisasi paramiliter Yahudi di wilayah
Palestina
pada masa ketika masih menjadi
wilayah
mandat Britania Raya sejak 1920
hingga
1948.
|
Kemudian beberapa anggota kelompok ini bergabung dengan
Inggris. Ada pula kelompok yang lebih kecil dari Irgun, Genk Stern (Pejuang
bagi Kebebasan Israel). Dan teroris Yahudi pendukung zionis yang dikenal dengan
Haganah.
Masih banyak sekali kelompok-kelompok teroris yang
memiliki motivasi ideologi, baik dari Islam maupun non-Islam. Seperti: Jamaah
Islamiyah, al-Qaeda, Hizbullah, ISIS, Biksu Budha Myanmar, dll.
Motivasi Sosial dan Politik
Pertama: Pejuang Kemerdekaan
Amerika
Dahulu, Kerajaan Inggris menyebut jaringan revolusioner
Amerika Serikat sebagai teroris. Para revolusioner ini terlibat dalam pemaksaan
wajib militer bagi orang-orang Amerika dengan sanksi yang mengerikan. Mereka
menembak mati orang-orang yang dituduh sebagai pengkhianat. Dan kebanyakan di antara
mereka adalah salah sasaran. Mereka menyiksa dan membunuh para pembelot dan
orang-orang yang lari dari medan perang karena sakit atau takut. Mereka
menjarah dan merampok dengan kejam tanpa terkecuali. Hal itu bertujuan untuk
mengumpulkan dana revolusi. Dalam kacamata abad 21, maka para pejuang
kemerdekaan Amerika Serikat dikategorikan sebagai teroris.
Kedua: The Secret Society (Masyarakat
Rahasia) di Italia.
The Secret Society berjuang
untuk persatuan Italia. Kelompok yang memiliki ciri menggunakan Karaben
(sejenis senjata api otomatis) ini berhasil mencapai cita-citanya padatahun
1871. Mereka adalah kelompok karaben yang tak mengenal belas kasihan.
Orang-orang yang menghalangi mereka, akan dibunuh tanpa terkecuali.
Sebagaimana kebiasaan teroris, anggota kelompok ini juga
memutuskan hubungan individual dengan keluarga-keluarga mereka. Setiap anggota
harus melakukan apa saja yang dikehendaki olehkelompok. Bahasa haus darah
menjadi ciri khas gerakan ini.
Kemudian, kelompok ini menginspirasi terbentuknya masyarakat
rahasia anti Austria dan masyarakat rahasia anti Revolusi Perancis.
Ketiga: Internal Macedonian
Revolutionary Organization (IMRO)
IMRO adalah alat pemerintah Bulgaria yang sebagian besar
digunakan untuk melawan Yugoslavia. Ketergantungan IMRO terhadap Bulgaria
berujung pada perpecahan dan perang internal di antara teroris IMRO sendiri.
Korban-korban yang berjatuhan pada akhirnya yang paling banyak adalah penduduk
Macedonia sendiri dari pada musuh-musuh IMRO.
Pada akhirnya, Macedonia tidak berhasil memperoleh
kemerdekaannya secara utuh. Kemerdekaan baru tercapai setelah bubarnya
Yugoslavia.
Dan masih banyak lagi kelompok teroris yang aksinya
dilatar-belakangi isu sosial dan politik. Seperti Tupamaros di Uruguay,
Organisasi Papua Merdeka (OPM), gangster-gangster,dan termasuk aksi terror
seorang Kristen yang bernama Andres Breivikpada 22 Juli 2011. Seorangdiri, ia
membunuh 77 orang dan melukai 319 lainnya. Kebanyakan dari korban adalah
anak-anak.
Penutup
Dengan demikian, memojokkan umat Islam dengan gelaran
teroris adalah tuduhan tak beralasan. Hal itu semata-mata hasutan dan upaya
menyebar kebencian. Sama halnya menuduh etnik atau ras tertentu sebagai
teroris.
Teroris tidak dipandang dari ciri fisinya. Ia adalah
sebuah ideologi atau pemikiran yang tersimpan di kepala dan dada pelakunya.
Sumber: Kisahmuslim.com





No comments:
Post a Comment