Headlineislam.com – Seseorang
melayangkan pertanyaan secara halus lewat WhatsApp: Ustad, bagaimana cara
menafsirkan dua hadist Rasulullah ini;
Yang pertama; Hadits dari Al-‘Irbadh bin
Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam memberi nasihat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan
hati dan menjadikan air mata berlinang.” Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai
Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan
berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam bersabda:
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ،
وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ
“Saya memberi wasiat kepada kalian
agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, tetap mendengar dan
ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, Hadits Hasan
Shahih)
Tolong jelaskan yang dimaksud dengan pemimpin hamba sahaya ini.
Yang kedua: Hadits Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam dari Hudzaifah Ibnul Yaman, Rasulullah bersabda:
"Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat
petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal).
Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati
setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah,
apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Beliau bersabda, “Dengarlah dan
ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil
hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847)
Bagaiamana menafsirkan pemimpin
yang tidak mendapat petunjuk dan berhati setan itu, Ustad?...
------------------------
Saya jawab pertanyaan antum, dan
antum baca baik-baik jawaban saya.
Pertama: Hadits-hadits yang antum nukil
di atas selalu diulang-ulang oleh para penjilat muka penguasa.
Tapi anehnya, kenapa hadits-hadits
tentang para syuhada' yang terbunuh melawan pemimpin zhalim tidak pernah mereka
bahas? tidak pernah mereka dengang-dengungkan!?
Sabda Nabi, "Jihad yang
paling afdhal adalah amar ma'ruf nahi munkar kepada pemimpin zalim", ini
juga kan hadits shahih , sebagaimana hadits-hadits yang antum nukil diatas,
tetapi kenapa juga nyaris tidak pernah dibahas? Disinilah letak standar
gandanya kaum talafi penyembah penguasa. Syariat menjadi keset di bawah
kaki mereka demi kekuasaan. Maka pantas jika Jokowi diisukan akan menghapus
perda syariah pun mereka adem ayem saja diam seribu bahasa bagaikan
tikus-tikus kejepit pintu. Kenapa? Karena alasannya harus mendengar dan taat
pada pemimpin berhati setan.
Kedua: Dua hadits yang antum bawa
diatas, tidaklah bermasalah sama sekali. Kedua hadits diatas di sepakati keshohihannya
oleh para Ulama (sebagaimana yang antum katakan). Tidak ada masalah pada dua
hadits diatas. Yang menjadi masalah adalah pemahaman orang yang berhujjah
dengan dua hadits itu dan cara beristinbath dengan dua hadits itu, itu yang
bermasalah.
Ketiga: Untuk menetapkan suatu perkara
dalam syariat, apalagi terkait Ushul agama, yakni ketaatan pada pemimpin, harus
menggunakan ilmu dan kaedah. Bukan asal comot satu dua hadits lalu di jadikan
hujjah untuk menetapkannya.
Contoh prilaku asal comot itu, ya
sebagaimana yang dilakukan para penyembah muluk (para penguasa) itu. Yakni
mencomot satu dua hadits lalu menetapkan hukumnya begitu saja tanpa perincian
dan tanpa kaedah-kaedah yang mengikat.
Keempat: kedua hadits yang antum bawakan
di atas tidaklah bermasalah, hanya saja betapa liciknya jika berhujjah dengan
satu dua hadits mutlaq tanpa mengindahkan hadits-hadits senada lainnya yang
bersifat muqoyyad.
Baginda Rasulullah 'Alaihi
Shalawatu Wa Salam bersabda :
إن أُمِّر عليكم عبدٌ مُجدَّعٌ أسودُ
، يقودُكم بكتاب اللهِ تعالى ، فاسمَعوا له وأَطيعوا " .
“Jika kalian di pimpin oleh
seorang hamba sahaya yang hitam berambut keriting, yang memimpin kalian DENGAN
KITAB ALLAH, maka taatlah kepadanya.” (Ini hadits shahih riwayat Imam Muslim )
LIHAT !! kata Rasulullah,
"Maka Taatlah kalian selama ia memimpin dengan KITABULLAH !! Inilah hadits
yang menjelaskan (atau tafsir) dari hadits yang antum tanyakan diatas.
Pertanyaan saya, apakah sama
pemimpin yang memimpin dengan KITABULLAH, dengan pemimpin yang memimpin
berdasarkan UNDANG-UNDANG PENJAJAH ?
Apakah sama pemimpin zhalim namun
menegakkan KITABULLAH dalam undang-undangnya (seperti Hajjaj Bin Yusuf
Ats-Tsaqofi), dengan pemimpin zhalim yang dikabarkan akan menghapuskan perda
syariah semacam JOKOWI !!?? Kalla wa Alfi Kalla !! Sama sekali tidak.
* Kemudian, dalam hadits lain
beliau bersabda:
إنَّ هذا الأمرَ في قريشٍ ، لا يُعاديهم
أحدٌ إلا كبَّه اللهُ على وجهِه ، ما أقاموا الدينَ
“Sesungguhnya urusan ini
(kepemimpinan kaum muslimin) adalah dari Quraisy, tidak ada seorangpun yang
menentangnya kecuali akan di campakkan oleh Allah wajahnya di neraka, selama
MEREKA MEMIMPIN DENGAN MENEGAKKAN DIN.”
(Ini hadits Shahih riwayat Imam Bukhari
dari sahabat Muawiyyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu'anhuma)
Lihat, kata Rasulullah meskipun
yang memimpin adalah kaum Quraisy, maka WAJIB mentaatainya selama mereka
menegakkan din (agama)! Apakah kurang jelas lagi? Dari sabda Nabi ini sangat
jelas bagi orang-orang berakal bahwa syarat mendengar dan mentaati pemimpin,
itu tidak bersifat mutlak. Ini sudah capek kami bahas berulang-ulang. Tetapi
tidak juga menyentuh fikiran mereka. Allah Yahdihim.
Pertanyaan saya, kemana
hadits-hadits ini??? Mengapa tidak pernah di nukil dan di dengang-dengungkan
oleh para pemyembah penguasa (kaum mulukiyyah) itu!!??
Sehingga, hadits-hadits yang antum
nukil itu seharusnya di jama'kan (dikolerasikan) dengan hadits-hadits senada
lainnya, kemudian diambil kesimpulan hukumnya berdasarkan kaedah-kaedah. Bukan
main comot satu dua hadits lalu menetapkannya begitu saja dan orang-orang yang
menyelisihinya langsung di vonis "Khawarij", ini namanya salah
kaprah !
Kelima: Setelah kita menjama'kan
hadits-hadits tentang wajibnya mendengar dan taat pada ulil amri, maka
kembalikan pemahaman tentang ulil amri itu kepada para Ulama. Artinya, baca dan
lihat penjelasan para Ulama dan Imam-imam Ahlus Sunnah terkait makna Ulil Amri
dan penjelasan mereka tentang siapa dan bagaimana Ulil Amri itu. Sehingga tidak
main comot!
Bacalah dengan seksama..
Satu: Di dalam kitab fathul qadir
1/556, Imam Syaukani Rahimahullah mengatakan:
والأولى الأمر : هم الأئمة والسلاطين،
والقضاة وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية
"Ulil Amri adalah para imam,
penguasa, hakim, dan semua orang yang memiliki kekuasaan yang syar'i (yakni
sesuai syariat) bukan kekuasaan Thoghut".
Lihat dan cermati; Apa kata Imam
Syaukani tentang makna Ulil Amri... jangan main comot sendiri. .
Dua: Dalam kitab Majmu' Fatawa wa
Maqolatun Mutanawwi'ah 1/ 117 cetakan Daarul Qasim lin Nasyr-Riyadh, Syaikh bin
Baz Rahimahullah mengatakan :
لأنه ليس كل حاكم يكون عالما يصح منه
الإجتهاد، كما أنه ليس كل حاكم سواء كان ملكاً أو رءيس جمهورية يسمي أمير المؤمنين،
وإنما أمير المؤمنين من يحكم بينهم بشرع الله ويلزمهم به، ويمنعهم من مخالفته، هذا
هو المعلوم بين علماء الإسلام والمعروف بينهم.
“...Karena tidaklah setiap
pemimpin di namakan seorang alim yang sehinngga di benarkan ia berijtihad,
sebagaimana tidaklah setiap pemimpin, baik itu kedudukannya sebagai raja atau
presiden di namakan "AMIRUL MUKMININ" (Ulil Amri), karena yang di
namakan "AMIRUL MUKMININ (Ulil Amri) hanyalah seseorang yang berhukum di
antara rakyatnya dengan SYARIAT ALLAH dan mengharuskan mereka atas itu, dan
melarang mereka untuk menyelisihinya. Inilah yang telah di ketahui di antara
Ulama Islam dan di kenal di kalangan mereka para ulama.”
-selesai-
Lihat ! Baca... Apa yang dikatakan
Syaikh bin Baz di atas adalah penjelasan tentang Ulil Amri berdasarkan
terminologi syariat.
Lagi-lagi jangan main comot, wahai
Saudaraku...
Asal sudah jadi pemimpin,
berkuasa, dengan cara apapun, maka ia langsung dianggap Ulil Amri dan wajib
mendengar dan mentaatinya. Kalau begitu, kafir belanda yang menguasai indonesia
selama 350 tahun (dalam jajahannya), antum anggap Ulil Amri dong ??!! Sehingga
konsekuensi logisnya -dari buah fikir sungsang seperti ini- para pahlawan
kemerdekaan itu "khawarij" semua..!!??
Demikian pula Israel Yahudi yang
sampai detik ini menguasai palestina (dalam jajahannya), dianggap Ulil Amri
dong? Karena mereka berkuasa disana, sehingga konsekuensi logisnya -dari buah
fikir prematur ini- Mujahidin Hamas dan semua pejuang kemerdekaan palestina itu
"khawarij" semua !!???
Tiga: Praktek para Ulama; diantaranya
sikap keras Imam An-Nawawi Rahimahullah terhadap penguasa yang
sewenang-wenang memungut biaya perang ke rakyata jelata yang susah, yang
membuat Imam An-Nawawi Asy-Syafi'i Rahimahullah dibuang ke Nawa!? Kenapa
sejarah emas ini tidak pernah di bahas oleh Kaum Talafi penyembah Muluk itu??
Kemudian sikap keras Al-Imam
Izzuddin bin Abdi As-Salam Rahimahullah yang sampai menjual rajanya
sendiri.
Lihat, ini di antara praktek para
Imam Ahlus Sunnah di masa lalu terhadap penguasa-penguasa mereka. Tentunya
mereka bukanlah orang-orang bodoh yang tidak tahu hadits-hadits yang di
dengang-dengungkan kaum Talafiyyun itu. mereka tahu dan sangat tahu, tapi
mereka tidak paham bagaimana menempatkannya. Wallahu A'lam.
Fa'tabiruu Yaa Ulil Albab...


