Headlineislam.com – Ribuan migran Suriah usia anak-anak tanpa pendamping sedang dikecewakan oleh negara Eropa, termasuk Inggris. Mereka dibiarkan jatuh ke tangan pedagang, laporan telah memperingatkan.
Anak-anak sedang menghadapi
ancaman “dicurigai” pada saat kedatangan mereka ke Eropa dan dibiarkan dalam
kondisi telantar, kata Komite House of Lords Uni Eropa.
Para bangsawan Inggris menuduh
negara-negara Eropa secara fundamental melanggar aturan Uni Eropa dan hukum
internasional untuk menerima dan melindungi anak-anak.
Lebih dari satu juta migran dan
pengungsi, banyak di antara mereka melarikan diri dari konflik di Suriah, tiba
di Eropa tahun lalu dan setidaknya 10.000 dari mereka adalah anak-anak.
Di Inggris tahun lalu ada 3.043
anak-anak dalam pencarian suaka tanpa pendamping, meningkat 56 persen sejak
tahun 2014.
Mengutip The Telegraph, laporan
itu mengatakan, negara-negara Eropa termasuk Inggris enggan mengambil tanggung
jawab untuk melindungi mereka dan memperlakukan anak-anak sebagai masalah orang
lain.
Para bangsawan Inggris mengatakan
bahwa perlakuan yang tidak adil terhadap generasi muda itu telah menyebabkan
mereka kehilangan kepercayaan kepada otoritas nasional. Mereka juga rentan
jatuh ke tangan penyelundup dan pedagang manusia.
Laporan menambahkan bahwa ada rasa
kurang untuk “berbagi beban” antara otoritas lokal di Inggris dengan satu dewan
yang hanya menangani 412 anak tanpa pendamping, sementara itu banyak lainnya
tidak memiliki pendamping.
Laporan itu juga memperingatkan
bahwa kondisi di kamp-kamp di pelabuhan Perancis Channel sepenuhnya tidak cocok
untuk anak-anak.
Pada bulan Mei, Cameron berpikir
untuk tidak membiarkan pengungsi anak tanpa pendamping untuk datang ke Inggris
dari kamp-kamp pengungsi di daratan Eropa.
Dia mengumumkan migran anak di
kamp-kamp di Benua Eropa yang memiliki anggota keluarga di Inggris akan
mendapatkan formulir untuk berpindah ke Inggris, setelah Tory anggota parlemen
berpendapat bahwa mereka rentan terhadap eksploitasi dan pelecehan.
Baroness Prashar, Ketua Komite,
mengatakan, “Kami menemukan bahwa anak-anak ini dihadapkan pada kecurigaan pada
saat kedatangan. Mereka dipandang sebagai ‘masalah orang lain’, dan kondisi
tinggal mereka digambarkan kepada kita sebagai menyedihkan dan kotor.”
“Kami menemukan kegagalan yang
jelas dari negara-negara Uni Eropa, termasuk Inggris, untuk berbagi beban yang
adil.”
“Kami sangat menyesal keengganan
Pemerintah Inggris untuk perpindahan anak-anak migran ke Inggris, khususnya
mereka yang hidup dalam kondisi mengerikan di kamp-kamp dekat pelabuhan
Channel.”
Laporan itu menyerukan pembentukan
sebuah skema perwalian independen untuk menetapkan standar minimum untuk
anak-anak migran tiba di Inggris dan Wales.


