Oleh : Maaher At-Thuwailibi
Headlineislam.com – Saya tergelitik mendengarkan
ceramah seorang ustad "salah fikir" yang sudah tersebar di medsos.
Seorang yang menurut informasi ia baru lulus kuliah dari Universitas Islam
Al-Azhar Cairo, Mesir. Ceramah-ceramahnya berseliweran di Youtube. salah satu
ceramahnya yang cukup menyesatkan adalah ia mengatakan bahwa Ikhwanul
Muslimin adalah Khawarij.
Pada satu kesempatan ia berceramah
yang intinya bahwa kalau mau pemimpin baik maka ummat harus baik dulu. Jangan
menuntut pemimpin baik kalau masyarakatnya saja tidak baik. Lalu, untuk
menguatkan logikanya itu, ia membawakan statemen Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu'anhu
yang saat ditanya oleh seseorang, "Kenapa di zamanmu ummat tertimpa fitnah
sedemikian rupa, tidak seperti di zaman Abu Bakar dan Umar?" Ali menjawab,
"Di zaman Abu Bakar dan Umar masyarakatnya seperti aku, sedangkan di
zamanku masyarakatnya seperti kamu dan orang-orang semisalmu".
Membawakan statemen Ali bin Abi
Thalib di atas, sang ustadz menyimpulkan bahwa kalau ingin pemimpin baik,
masyarakatnya harus baik dulu. Begitu kira-kira.
Jawaban saya:
·
Ini
adalah logika terbalik. Bagaimana mungkin pemimpin baik rakyatnya harus baik
dulu. Yang ada adalah rakyat menjadi baik tergantung pemimpinnya. Pemimpin
dengan masyarakat itu ibarat kereta api. pemimpin itu kepalanya, dan rakyat
adalah gerbongnya. Yang namanya gerbong pasti ikut kepala, mana ada kepala
ngikutin gerbong. Ada-ada saja..! Dalam rangkaian shalat berjama'ah misalnya,
yang ada ialah makmum ngikut imam. tidak ada sejarahnya Imam yang ngikutin
makmum. Kalau shalat berjamaah yang di pimpin imam bagus, maka bagus lah shalat
berjamaah itu. Tetapi jika imam pemimpin shalat berjamaah itu tidak bagus, ya
tentu tidak bagus lah rangkaian shalat berjamaah itu. Singkat kata, rakyat itu
ikut pemimpin. Bukan pemimpin ikut rakyat.
·
Logika lain, pemimpin masyarakat DKI Jakarta
adalah Ahok (orang kafir peminum khamr), ya tentu masyarakatnya akan santai-santai
saja minum khamr. Bahkan khamr akan diperjual-belikan secara bebas. Kalau
pemimpin masyarakat Jawa Barat seperti Ustad Ahmad Heryawan dan Bima Arya misalnya
(pemimpin yang shalih dan anti maksiat), tentu masyarakat pun akan menjadi
shalih secara bertahap.
·
Kenapa negeri ini nyaris hancur-hancuran dan
dirundung masalah terus menerus?
Jawabannya bukan karena rakyatnya
yang tidak baik. Tetapi jawabannya sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam:
وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله عز وجل ويتحروا فيما أنزل الله
إلا جعل الله بأسهم بينهم) .صحيح) [هـ ك] عن ابن عمر. الصحيحة ١٠٦
"Selama pemimpin-pemimpin
mereka tidak berpegang kepada Kitabullah 'Azza Wa Jalla dan tidak
berhukum degan apa yang Allah turunkan, maka Allah jadikan keburukan di antara
mereka". (HR. Ibnu Majah dari Ibn Umar. Lihat kitab Ash-Shahihah No.106)
·
Kalau ustad itu membawakan perkataan Ali,
maka saya membawakan perkataan Nabi. Oleh sebab itu, sebuah kemestian memilih
pemimpin yang pro syariah, yang bisa menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai
dasar di semua sisi kehidupan umat Islam. Bukan pemimpin macam Ahok. Sudahlah
kafir, jahat, pengkhianat, anti syari'at pula. Maka, perlu antum ketahui bahwa
besarnya pengaruh pemimpin yang shaleh terhadap rakyat adalah salah satu hikmah
dari syarat-syarat kepemimpinan Islam yang ketat.
·
Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, bahwa
Umar bin Khathab pernah berkata kepadanya;
ﻫَﻞْ ﺗَﻌْﺮِﻑُ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺪِﻡُ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡَ؟ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻠْﺖُ : ﻻَ. ﻗَﺎﻝَ
: ﻳَﻬْﺪِﻣُﻪُﺯَﻟَّﺔُ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢِ ﻭَﺟِﺪَﺍﻝُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻖِ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺣُﻜْﻢُ ﺍﻷَﺋِﻤَّﺔِ
ﺍﻟْﻤُﻀِﻠِّﻴﻦَ
“Tahukah engkau apa yang menghancurkan
Islam?”
Lalu Ziyad menjawab,“Tidak tahu.”
Umar berkata, “Yang menghancurkan
Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafiq terhadap
Al-Qur’an, dan KEPUTUSAN PARA PEMIMPIN YANG MENYESATKAN”.
(Riwayat Ad-Darimi, dan berkata
Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih).
Saya bawakan satu perkataan Nabi
dan satu perkataan Umar.
Kesimpulannya, kalau rakyat mau
baik, maka baiklah dulu pemimpinnya. Pemimpin itu suri teladan bagi rakyat.
Jangan dibalik; rakyat adalah suri tauladan bagi pemimpin. Ini logika orang
sinting.
Allahu A'lam.


