Headlineislam.com
– Salah satu hal yang membuat kita
bersemangat untuk melakukan amal shalih adalah pengetahuan tentang manfaat yang
terkandung di dalamnya. Semangat itu semakin besar saat kita berhasil
menumbuhkan rasa cinta hingga dasarnya bukan lagi karena manfaat atau kurang
manfaat.
Sebaliknya, saat tidak memiliki
pengetahuan tentang manfaat suatu amal, hendak mengerjakan pun rasanya sangat
berat. Tidak ada motivasi. Malas. Enggan. Bahkan tak jarang yang menolak dengan
satu dan lain alasan.
Mendatangi adzan untuk shalat
berjamaah, misalnya, merupakan amalan unggulan. Ianya merupakan kebiasaan
oran-orang shalih lintas zaman. Satu langkah mendatanginya dijanjikan sebagai
pengampunan dosa sedangkan langkah lainnya merupakan kafarat atas dosa-dosa
yang dikerjakan.
Sayangnya, banyak kaum Muslimin
akhir zaman yang malas mengerjakan amalan ini. Seperti ada beban berat yang
mencegah atau tembok besar nan panjang yang menghalangi langkahnya menuju
masjid.
Seorang tabi’in yang mulia bernama
Said bin Musayyib pernah menuturkan, “Sudah tiga puluh tahun, setiap kali
muadzin mengumandangkan adzan, aku sudah berada di dalam masjid.”
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam
Ahmad bin Hanbal Rahimahullahu Ta’ala dalam al-‘Ilal wa Ma’rifah ar-Rijal dan
dikutip oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam mensyarah Risalah
al-Mustarsyidin Imam al-Harits al-Muhasibi.
Apa rahasianya? Mengapa Said
Musayyib bisa istiqamah mendatangi adzan bahkan sebelum muadzin
mengumandangkannya? Apa yang menjadi pendorong hingga beliau istiqamah
melakukan amalan ini selama 30 tahun atau 360 bulan atau sekitar 10.000 hari?
Alasan apa yang bisa kita kemukakan hingga beliau rutin mendatangi sekitar
50.000 kali adzan sebelum muadzin mengumandangkannya?
Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah
menjelaskan hal ini dengan mengatakan, “Ini adalah puncak dari perasaan diawasi
oleh Allah Ta’ala. Sebab seorang hamba sahaya harus sudah siap di hadapan
tuannya sebelum dipanggil, bukan setelah dipanggil baru dia datang.”
Sebuah perumpaan yang amat terang.
Jika kita seorang sahaya, bukankah menjadi kewajiban untuk bergegas saat tuan
kita memanggil? Dan jalan yang harus ditempuh agar bisa bergegas adalah dengan
bersiap diri. Jangan sampai saat dipanggil, seorang sahaya justru sibuk dalam
permainan yang tak bermanfaat secuil pun.


