Oleh: Fadh Ahmad Arifan*
Headlineislam.com – Lahir di Mekkah pada 573 Masehi.
Ayahnya bernama Affan bin Abul-Ash dan ibunya bernama Urwa
binti Kuriz. Utsman adalah satu diantara beberapa
orang Mekkah yang tahu baca dan tulis. Memeluk agama Islam bersama Thalhah bin Ubaidillah. Karena berani memeluk
Islam, Utsman sempat mengalami penyiksaan oleh
pamannya yang bernama Hakam.
Utsman dikenal memiliki akhlak yang
luhur, selalu membantu orang miskin. Tidak ragu membelanjakan uang/hartanya
demi melenyapkan kesengsaraan orang miskin dan sebelum memeluk Islam, tidak
pernah minum khamr. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam pernah berkomentar tentang Utsman,”Utsman adalah orang pertama dari
umatku yang hijrah (karena Allah) dengan keluarganya” (Majid ali Khan, Para
khalifah Saleh, hal 143-145). Utsman punya julukan “Dzunnurain”
yang bermakna yang memiliki dua cahaya. Julukan tersebut diperoleh Utsman karena menikahi dua putri
Rasulullah, yakni Ruqayyah dan Ummi Kulsum.
Seperti yang tercatat dalam
sejarah, Utsman ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi pengganti Amirul mukminin,
Umar bin Khaththab. Sebelum Umar wafat, beliau
membentuk Majelis syura yang ditugasi memilih dan mengangkat khalifah
berikutnya. Terdiri dari Abdurrahman bin Auf, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah,
Saad bin Abi Waqqash dan Zubair bin Awwam. Utsman menjadi khalifah
disaat usianya 70 tahun. Apakah beliau berambisi? Usia 70 tahun bukanlah usia
yang cocok buat ambisi dan bukan usia berkembangnya kesukaan terhadap kekuasaan
(khalid muhammad khalid, Kehidupan para Khalifah teladan, hal 245).
Khalifah Utsman memerintah selama
12 tahun. Prestasinya di bidang militer adalah: mampu membangun armada kapal
laut. Kapal-kapal ini digunakan untuk ekspansi ke Siprus dan Rhodes. Prestasi
lainnya yang bisa dirasakan manfaatnya hingga sekarang ialah kodifikasi mushaf
Al-Qur’an. Kala itu, Utsman membuat naskah mushaf berdasar kepada suhuf yang
disimpan oleh Hafshah. Versi lain, Utsman membentuk panitia yang terdiri dari
12 orang yang berasal dari suku Quraish dan Anshar. Di antara mereka adalah
Ubay dan Zaid bin Tsabit. Utsman juga mengambil Suhuf yang ada di bawah
pengawasan Siti Aisyah sebagai perbandingan. (M.M. al-Azami, Sejarah Teks
al-Quran, hal 98-102).
Bila membaca beberapa versi
sejarah Khalifah Utsman bin Affan, akan ditemukan tuduhan dari orientalis bahwa
beliau melakukan nepotisme. Utsman mengangkat sanak saudara dalam jabatan
strategis. Misalnya: Muawiyah yang menjadi gubernur Syam. Abdulah ibn Amir jadi
gubernur Basrah dan Walid ibn Uqbah menjadi menjadi gubernur di Kufah. Fakta
yang tak terbantahkan, Muawiyyah sebelumnya ditunjuk Umar bin Khattab karena
kecakapannya. Lalu alasan penggantian gubernur Basrah kepada Ibn Amir, karena
Abu Musa al-Asyari tidak lagi disukai rakyat. (M. Abdul karim, Sejarah
pemikiran dan Peradaban Islam, hal 92-93).
Terkait wilayah Kufah, semasa kepemimpinan
Utsman terjadi 6 kali pergantian gubernur. Sa’ad ibn Waqas yang digantikan oleh
Walid, karena menyalah gunakan jabatan. Pinjam uang dari kas provinsi dan tidak
lapor ke khalifah Utsman. Gubernur Walid yang konon adalah saudara sepersusuan
Utsman, seiring perjalanan waktu juga diberhentikan. Karena ia peminum khamr
dan pembawaannya kasar. Pengganti Walid adalah Said ibn al-Ash. Ia ditunjuk
karena berprestasi dalam penaklukan Azerbaijan (M. Abdul karim, hal 93-94).
Nepotisme yang dituduhkan kepada
Khalifah Utsman tidak terbukti, pengangkatan sanak familynya itu berdasar dari
prestasi/kinerja di lapangan. Tetapi memang pada akhir kepemimpinan Utsman,
para Gubernur yang diangkat tersebut bertindak sewenang-wenang terutama di
bidang ekonomi. Hidup mewah orang Umayyah dan keluarga Utsman di protes, sikap
protes salah satunya dilakukan oleh Abu Dzar al-Ghifari (M. Abdul karim, hal
100-102).
Wafatnya Utsman karena para
pemberontak yang dihasut Abdullah bin saba’ mengepung rumah Utsman di Madinah.
Meski gerbang rumahnya dijaga Hasan, Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair,
sebagian pemberontak yang komandoi Muhammad bin abu bakar berhasil memanjat
tembok belakang rumah. Mereka memasuki ruangan dimana Khalifah Usman sedang
membaca ayat suci al-Quran. Salah seorang diantara pemberontak memukul
kepalanya dengan kapak, sementara yang lain menyerang dengan pedang. Dalam
keadaan luka-luka berat karena serangan pemberontak, kepala Utsman dipenggal
oleh Amr bin Hamq. Utsman mati syahid pada hari Jumat, 17 Dzulhijjah 35 H/656 M.
Setelah membunuh Utsman, para pemberontak menguasai Madinah dan mereka juga
merampok Baitul Mal. Orang-orang Madinah takut terhadap mereka dan tidak keluar
rumah. Jenazah Khalifah Utsman selama 2 hari belum bisa dikuburkan. Akhirnya
ada beberapa orang masuk ke dalam rumah dan melakukan penguburan (Majid ali
Khan, hal 175-177).
-------------------------------
* Fadh Ahmad Arifan adalah seorang pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Muhammadiyah 2 Malang.


