Headlineislam.com – Pengkhianatan Syiah kepada
Ahlulbait Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terus berlanjut. Sebelumnya
telah dibahas pengkhianatan Syiah kepada Ali bin Abi Thalib (baca: http://www.headlineislam.com/2016/03/pengkhianatan-syiah-kepada-ali-bin-abi.html)
sekarang akan kita bahas pengkhianatan syiah kepada Al-Hasan bin Ali.
Ketika Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu
Anhu terbunuh dan putra beliau Al-Hasan Radhiyallahu Anhu dibai’at
menjadi khalifah, beliau tidak yakin dapat berhasil melawan Muawiyah. Terutama,
bahwa sebelumnya para pengikutnya telah meningggalkan ayahnya. Tetapi para
pengikut mereka di Iraq kembali meminta Al-Hasan untuk memerangi Muawiyah dan
penduduk Syam.
Al-Hasan berusaha menunjukkan
kearifannya yang dalam sebagai bukti akan wawasannya yang luas. Dari awal
beliau tidak ingin menghadapi penduduk Iraq, beliau lebih cenderung berdamai
dengan Muawiyah dan menyerahkan urusannya kepadanya untuk menghindari
pertumpahan darah di antara kaum Muslimin.
Beliau sebenarnya telah mengetahui
kesembronoan dan ketikdakpedulian mereka, namun beliau juga ingin membuktikan
pandangan yang benar tentang mereka (bagaimana sejatinya mereka itu) dan
pendapat yang telah beliau kemukakan. Kemudian beliau setuju untuk pergi
memerangi Muawiyah, dan menyiapkan pasukannya serta mengirim Qa’is bin Ubadah
di bagian terdepan guna memimpin dua belas ribu pasukan, sedangkan beliau
berjalan di belakangnya.
Ketika berita tersebut sampai ke
Muawiyah, dia mulai bergerak dengan pasukannya dan singgah di Maskan. Ketika Al-Hasan
sedang berada di Al-Mada’in, tiba-tiba salah seorang penduduk Iraq berteriak,
bahwa Qa’id telah terbunuh. Mulailah terjadi kekacauan di dalam pasukan,
penduduk Iraq kembali pada tabi’at mereka yang asli (berkhianat), mereka tidak
sabar dan mulai menyerang kemah Al-Hasan serta merampas barang-barangnya,
bahkan mereka sampai melepas karpet yang ada di bawahnya, mereka menikamnya dan
melukainya.
Dari sinilah salah seorang
penduduk Syiah Iraq, Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi[1]
merencakan sesuatu yang jahat, yaitu mengikat Al-Hasan bin Ali dan menyerahkan
kepadanya, karena ketamakannya dalam harta dan kedudukan.
Pamannya yang bernama Sa’ad bin Mas’ud
Ats-Tsaqafi telah datang, dia adalah salah seorang wali di Al-Mada’in dari
kelompok Ali. Dia (Mukhtar bin Abi Ubaid) bertanya kepadanya, “Apakah engkau
menginginkan harta dan kedudukan?” Dia berkata, “Apakah itu?” Dia menjawab, “Al-Hasan
kamu ikat lalu kamu serahkan kepada Muawiyah.” Kemudian pamannya berkata, “Allah
akan melaknatmu, berikan kepadaku anak putrinya Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam, ia memperhatikannya lalu mengatakan; kamu adalah
sejelek-jelek manusia.”
Bahkan, Al-Hasan Radhiyallahu
Anhu berkata, “Aku memandang Muawiyah lebih baik terhadapku dibanding orang-orang
yang mengaku-ngaku pendukungku, mereka malah ingin membunuhku, mengambil hartaku,
demi Allah saya dapat meminta dari Muawiyah untuk menjaga keluargaku dan
melindungi keselamatan seluruh keluargaku, dan semua itu lebih baik daripada
mereka membunuhku sehingga keluarga dan keturunanku menjadi punah. Demi Allah,
jikalau aku berperang dengan Muawiyah niscaya mereka akan menyeret leherku dan
menganjurkan untuk berdamai, demi Allah aku tetap mulia dengan melakukan
perdamaian dengan Muawiyah dan itu lebih baik dibandung ia memerangiku dan aku
menjadi tahanannya.”
Sumber :
Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat
Islam. Karya : Dr. Imad Ali Abdus Sami’
“Ambillah pelajaran hai orang yang mempunyai
akal”
[1] Mukhtar
bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi inilah yang menentang Daulah Umawiyah dan mengaku
sebagai pengikut Ahlulbait serta menuntut kematian Al-Husain. Itu semua tidak
lain hanyalah topeng dan kedok untuk bersembunyi dari kerakusannya terhadap
kekuasaan.

