Oleh : Maaher At-Thuwailibi
Headlineislam.com – Beberapa contoh kasus:
Silahkan baca dan renungi dengan
hati nurani apa yang saya goreskan malam ini.. baca dengan cermat dari awal
sampai akhhir, agar saudara-saudari tidak salah faham, dan semoga Allah
merahmati kita semua..
PERTAMA: Istilah "Salaf"
itu mengandung makna agung, yaitu orang-orang terdahulu dari kalangan sahabat,
tabi'in dan tabi'ut tabi'in. cirinya, aqidah dan akhlaq mereka terpancar dari
aqidah dan akhlaq baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wa
shahbihi wa sallam. Mereka cinta kepada kaum muslimin dan keras terhadap
orang-orang kafir. Menjaga kehormatan dan hak-hak kaum muslimin. Menyampaikan
nasehat dengan penuh cinta kasih dan tanpa tebang pilih. Nah, orang-orang
terkini yang mengikuti jejak langkah kaum Salaf dalam beragama, disebut
"Salafi". tanpa mesti berwala' kepada Radio fulan dan TV fulan, atau
mengidolakan ustad fulan dan ustad fulan, dst. . dan meskipun istilah
"Salafi" ini muhdats, yakni tidak di syariatkan (alias tidak syar'i).
KEDUA: Adapun "Talafi",
ialah nisbah kepada kata "talaf", yang artinya rusak atau merusak.
Menurut Ustadz Harman Tajang, 'Talafi' ini ialah sekelompok manusia yang selalu
berburuk sangka pada orang lain.. mengumbar aib dan kesalahan orang lain, dan
merasa diri serta kelompoknya paling suci dan begitu mudah melempar tuduhan dan
vonis keji tanpa tabayyun.. uniknya, mereka berpenampilan
"multi-talent". wujud mereka bergamis atau berjubah, tutur kata
mereka di rangkai demikian indah, tetapi prilaku mereka persis Abu Jahal, yakni
MENEBAR FITNAH, PROPAGANDA, ADU DOMBA, MENEBAR AIB MANUSIA DENGAN ALASAN
MENJAGA AGAMA, MEMECAH BELAH, DAN MERUSAK KESEJAHTERAAN SERTA PERSATUAN KAUM
MUSLIMIN. Fakta ini mengingatkan saya dengan pesan singkat seorang Da'i mujahid
yang sudah sepuh (usianya sudah 70 tahunan), beliau sempat berbisik kepada
saya, "Saya khawatir kelompok ini bikinan intelijen kafir".
KETIGA: Sekedar tambahan tentang
kelompok 'Talafi'. mereka ini punya hobi mengoleksi dosa-dosa manusia. Mereka
merasa paling benar dan masuk Surga, sambil menghitung-hitung dan mengumpulkan
siapa saja yang akan masuk neraka. Inilah sifat dasar mereka sejak dahulu.
Wallahi Wa Rabbi, jika prilaku ini tidak mereka sudahi dan terus menerus mereka
budayakan sampai akhir hayatnya, maka mereka ini benar-benar "sukses"
menjadi orang-orang yang di tipu daya oleh syaithon dan akan menjadi
manusia-manusia bangkrut di akherat kelak. Dosa hamba-hamba Allah mereka
kumpulkan, lalu mereka sebarluaskan. Mereka lupa untuk menghisab dosa-dosa
mereka sendiri..
Yaa Allah ya kariim.. merinding
saya melihat tingkah polah kaum "pemilik surga" yang satu ini.
Seorang muslim berbuat dosa; baik itu kefasikan, maksiat, bid'ah, atau
penyimpangan, mereka langsung bergegas untuk mengoleksinya, lalu menyebarluaskannya
dihadapan manusia untuk dijadikan "santapan". Lalu, agar semua
kedzoliman itu di terima para pengikutnya, mereka hiasi ghibah dan celaan itu
dengan dalil-dalil dari Al-Quran dan Sunnah, lalu mereka labeli dengan istilah
"tahdzir demi menjaga agama". Yaa Allah yaa kariim...
Mereka tidak pernah bertemu dengan
yang bersangkutan, berbicara langsung, memberi nasehat, menegakkan hujjah, dan
setetusnya...tidak pernah mereka lakukan, tapi justru MENYEBARKAN KESALAHAN DAN
DOSA MANUSIA itu yang lebih dulu mereka lakukan. Namun egoisnya, saat mereka
yang di kritik, spontan mereka "kebakaran jenggot" dan teriak-teriak
serta kejang-kejang bagaikan orang yang tengah menghadapi 'sakaratul maut'. Beginilah aktivitas mereka.
Yaa Allah Yaa rabb.... berilah
mereka hidayah... tutuplah aib-aib mereka sebagaimana engkau menutupi aib-aib
kami, dan ampuni mereka sebagaimana engkau mengampuni dosa-dosa kami.. aamiin
yaa Rabb..
Fitnah ini sudah muncul sejak
akhir tahun 90-an atau awal tahun 2000-an. Kita hanya terkena "cipratannya"
saja. budaya lama itu ternyata melahirkan generasi penerusnya. walhasil, Ustad
Abu Abdurrahman At-Thalibi, Ustad Anung Al-Hammat, Ustad Ahmad Rafi'i, Ustad
Muhammad Sarbini, Ustad Farid Nu'man Hasan, Ustad Muhammad Zaitun Rasmin, Ustad
Abduh Zulfidar Akaha, dan Ustad Farid Ahmad Okbah, adalah sejumlah da'i yang
termasuk PALING LELAH menghadapi FITNAH kelompok yang satu ini. uniknya, mereka
selalu mencatut nama para Ulama Ahlus Sunnah sebagai doktrin yang di
"jejalkan" kepada para simpatisannya. Secara psikologis, mereka ini
perusak, atau disebut "Talafi". Sebagaimana yang di ungkapkan Ustad
Harman Tajang,Lc.M.Hi. Sedangkan secara Manhaj, mereka ini bermanhaj KHAWARIJ
terhadap para ulama dan aktivis dakwah, tetapi MURJI'AH kepada para penguasa
sekuler. Ustad Abi Syakir menyebut mereka ini sebagai sekte
"Mulukiyyah".
KEEMPAT: Menurut Penasehat Wesal
TV, Ustadz DR.Khalid Basalamah, semua harokah islam baik itu Ikhwanul Muslimin
(IM), Jihadis, Wahdah Islamiyyah, Jama'ah Tabligh, NU, atau organisasi apapun
namanya, mereka adalah SAUDARA SESAMA AHLUS SUNNAH, atau paling rendahnya
mereka adalah KAUM MUSLIMIN yang berhak mendapatkan penghormatan dan di
luruskan kesalahan-kesalahannya dengan hikmah dan ilmiah. Demikian menurut
Ustad Khalid Basalamah. Sedangkan menurut ajaran kaum Talafi ini, semua
komunitas muslim di luar kelompoknya adalah sesat, hizbi, ahli bid'ah,
ruwaibidhah, dst. Yang paling selamat di akherat kelak adalah kelompoknya,
sedangkan selainnya adalah termasuk 72 golongan yang sesat. Wal-'Iyaadzu
billah. Doktrin mereka ini persis aliran sesat LDII.
💥 Contoh Kasus Kejahatan Sosial
Kaum Talafi 💥
* Ustadz Abdullah Shalih Hadrami
mereka tuduh sebagai "Bukan Salafi". mereka cemooh sebagai da'i
narsis, hobi selfie, dst.., Berbagai fitnah dan kata-kata fahisyah mereka
alamatkan kepada da'i asal malang ini yang tidak sanggup saya ungkapkan dengan
kata-kata. diantara hinaan dan lontaran ghibah konyol yang mereka
dengang-dengungkan di berbagai kesempatan atas pribadi beliau ialah, karena
Ustad Abdullah Shalih Hadrami memotong jenggot nya dan tidak membiarkannya.
Menurut klaim mereka, ini menunjukkan bahwa beliau bukan 'Salafi', bukan ahlus
sunnah, tapi hizbi. Demikianlah prilaku konyol kaum Talafi ini. Di samping
jumud dan jahil terhadap 'masaa-il ikhtilafat', mereka juga tidak faham
perbedaan antara "memotong jenggot" dengan "merapihkan
jenggot".
Tidak hanya itu, Sang Ustad juga
mereka cela di berbagai jejaring sosial dengan alasan-alasan yang tidak masuk
akal dan nyeleneh, diantaranya karena ustad abdullah shalih hadrami berunjuk
rasa di dalam mall & hotel, berziarah ke markas sufi-deobandi &
mengambil ijazah sanad di sana. . Demikian klaim mereka. Padahal, Ustad
Abdullah Shalih Hadrami ke hotel dan mall di kota malang itu bukan
"berunjuk rasa" atau "demo", tetapi memberikan nasehat
kepada directur atau manager hotel dan mall untuk tidak mewajibkan para
karyawannya mengenakan atribut natal. Amar ma'ruf dan mencegah kemusyrikan,
mereka anggap "UNJUK RASA".??!! Laa haula walaa quwwata illa
billah. tak sanggup lisan ini bertutur kata menyaksikan betapa jahatnya LISAN
mereka mereka terhadap kehormatan kaum muslimin dan para da'i.
* Ustadz Oemar Mita,Lc pun tidak
luput dari fitnah lisan mereka. Mereka menuduh beliau sebagai khawarij.
Padahal, tak pernah sekalipun sang ustad mengajak untuk memberontak penguasa,
mengkafirkan kaum muslimin, keluar dari jamaah kaum muslimin, menumpahkan
darah, dst. Ini diantara contoh nyata betapa RUSAKNYA prilaku kaum Talafi ini
di tengah-tengah samudera kehidupan dan ketentraman kaum muslimin.
* Gerakan Tauhidisasi atau
revolusi kesyirikan melalui praktek Ruqyah Syar'iyyah dan bimbingan ruqyah yang
di bintangi Perdana Ahmad Lakoni, Adam Amrullah, dan Nuruddin Al-Indunisy pun
tidak selamat dari KOTOR nya lisan mereka. berbagai cemooh; mulai dari yang
"paling ilmiah" sampai yang sekedar menghina dan menista, nyaris
tidak absen dari catatan hidup mereka. Mereka melontarkan berbagai celaan yang
terkadang sudah keluar dari konteks kritik ilmiah dan bahkan melanggar norma syariat,
sebab jatuh pada merusak kehormatan seorang mukmin. Para praktisi Ruqyah
Syar'iyyah ini memang perlu di perbaiki secara sportif dan argumentatif,
mengingat karena mereka bukanlah kumpulan para malaikat yang dicipta dari
cahaya, tetapi perlu dicatat: Kata Rasulullah, "Sibaabul Muslim Fusuuqun
wa Qitaaluhu kufrun" (menghina seorang muslim adalah fasiq dan
memeranginya adalah kufur).
* Contoh kasus yang terakhir,
Seorang Da'i bernama Ustad Abdul Hakim. Aktivis dakwah alumni LIPIA ini pun
tidak luput dari cemooh dan celaan kaum Talafi di berbagai jejaring sosial,
khususnya Facebook. Beliau di hina dan di cemooh hanya karena membuat statemen
di status facebooknya bahwa istilah "Salafi" adalah muhdats
(dibuat-buat).
Padahal, istilah
"Salafi" itu ya memang muhdats. Artinya, istilah itu tidak ada
masyru'iyyahnya. Tidak ada dalil atau nash-nya, seperti misalnya istilah
"shalat", "zakat", atau istilah "tha'ifah
al-manshurah" dan "firqah najiyah", nah ini jelas masyru' karena
ada dalilnya.. ini jelas istilah yang Syar'i. Sedangkan penamaan
"Salafi" ya memang muhdats. Meskipun muhdats, istilah
"Salafi" itu merupakan istilah 'ilmi. Artinya, dia muhdats (tidak
syar'i tapi 'ilmi). Seperti misal istilah "Fiqih",
"Tafsir", dll.. itu tidak ada masyru'iyyahnya, hanya sekedar istilah
ilmiyyah saja.
KESIMPULANNYA: menganggap istilah
"Salafi" sebagai istilah syar'i dan menjadikannya sebagai instrumen
hizbiyyah, yaitu sikap mengklaim diri atau kelompok sendiri yang paling salafi
sedangkan selainnya adalah hizbi dan sesat, adalah BID'AH DHOLALAH.!
Kenapa itu merupakan BID'AH
DHOLALAH ?
Ya, karena prilaku itu ialah
prilaku hizbiyah. Yaitu menjadikan manusia selain Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam, atau menjadikan buku selain Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai standar
kawan dan lawan, atau standar kebenaran dan kesesatan. Maka, Hizbiyah adalah
persoalan standarisasi kawan dan lawan, standarisasi benar dan sesat pada sosok
manusia selain Nabi shallallahu alaihi wa salam, atau pada sebuah buku selain
Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Ormas dan parpol hanyalah wasilah
dari sebuah Hizbiyah, namun tidak berarti tanpa parpol atau ormas maka
tidak ada Hizbiyah, sebab hakikat Hizbiyah -sekali lagi- adalah: standarisasi
individu, kelompok, dan ide. Standarisasi individu dan ide inilah yang
memunculkan isme-isme dan aliran-aliran. contohnya dalam hasanah pemikiran
misalkan seperti marxisme, leninisme, komunisme, dll. Contohnya dalam literatur
Islam adalah seperti: Asy'ariyah, maturidiyah, dll.
Maka...., Radio, TV, ustadz,
kelompok, daerah, dll adalah Hizbiyah bila mana dijadikan sebagai standar kawan
dan lawan, standar kebenaran dan kesesatan.
Hakikat Syirik Ummat Nabi Nuh
'alaihis sallam adalah kultus individu. Ini perlu antum catat. dan standarisasi
individu kepada selain Nabi Shallallahu alaihi wasallam adalah sebuah kultus
yang dapat ber-proses menjadi syirik. oleh karenanya, kembalikan standarisasi
kawan dan lawan, benar dan salah kepada
Al-Qur'an dan As-Sunnah.
CATATAN akhir, dengan demikian
kelompok "Talafi" ini adalah kelompok perusak di akhir zaman. Perusak
tapi berkedok agama. Ciri mereka yang menonjol yaitu satu: STANDAR GANDA.
Standar ganda bagimana?
Begini contohnya, Bila Ulama yang
tidak sepemikiran mereka terjatuh pada satu kesalahan, mereka bergegas
menyebarkan kesalahan itu.. dan mereka hasut ummat manusia untuk membenci dan
menjauhi Ulama itu. Sampai-sampai saat sang ulama itu tertimpa musibah
sekalipun, istirja' dan bela sungkawa tidak mereka haturkan. Alasan mereka,
"tahdzir", "hajr", "boikot", "menjaga agama", dst. Namun,
apabila Ulama atau Ustadz idola mereka yang terjatuh pada kesalahan atau bahkan
kesesatan, mereka menunda menyebarkannya, dan mereka berikan seribu satu udzur
pada sang idola. bahkan, mereka undang ulama sesat itu ke negeri mereka untuk
menyampaikan ceramah. inilah yang di namakan HIZBIYYAH yang sebenarnya.
Lebih spesifik lagi. misal...,
ulama tertentu mengkritik Syaikh A'idh Al-Qarni atas satu atau dua kesalahannya
dalam mentafsirkan sebagian nash Al-Qur'an atau As-Sunnah, lantas kelompok ini
langsung berlomba-lomba menyebarkan kritik itu dan bahkan membumbuhinya dengan
celaan dan hinaan yang dahsyat. Namun ketika sosok idola mereka (Ali Hasan
Al-Halabi) di fatwakan menyimpang dan bahkan berpemahaman murji'ah oleh LAJNAH
DA'IMAH (dewan ulama resmi), mereka diam dan bungkam seribu bahasa. Mereka
cari-cari alasan dan "seratus satu udzur" untuk mentoleransinya.
Liciknya, untuk melawan FATWA RESMI DEWAN ULAMA itu, mereka cari-cari pujian
dari Syaikh fulan dan Syaikh Fulan terhadap sosok idola mereka. Pertanyaannya,
mengapa ketika Syaikh A'idh Al-Qarni dan Syaikh Salman Al-'Audah di kritik
Ulama, mereka tidak mencari-cari pujian dari Syaikh-syaikh lain untuk Syaikh
A'idh Al-Qarni dan Syaikh Salman Al-'Audah ??!!
Ketika kita membawa dan
menyebarkan FATWA RESMI DEWAN ULAMA tentang penyimpangan sosok yang mereka
idolakan itu, mereka seperti 'kalang kabut' bagaikan "cacing
kepanasan". Mereka pun mengemis-ngemis "blas kasih" sambil
berkata, "apakah antum sudah baca semua kitab-kitab Syaikh Ali
Hasan?"
Lihat, bila yang di fatwakan
'menyimpang' adalah sosok idola mereka, mereka suruh orang lain untuk membaca
semua kitab-kitab sang idola. tetapi ketika mereka dengan zolimnya menjatuhkan
kehormatan Syaikh A'idh Al-Qarni dan menyebarkan kesalahannya, mengapa mereka
TIDAK MEMBACA SEMUA KITAB-KITAB SYAIKH A'IDH AL-QARNI ??!! Inilah Manhaj Talafi
!
Contoh lagi,
- Ketika mereka di sebut
"Murji'ah", mereka tidak terima, ngamuk-ngamuk bagaikan kuntilanak
kesurupan sundel bolong. Tetapi lisan mereka begitu ringan menuduh orang lain
dengan tuduhan "khawarij".
- Ketika mereka di sebut
"Mulukiyyun", mereka pun gerah dan kepanasan bagaikan tikus tersengat
lebah. Lantas mereka bergumam, "dari mana itu istilah mulukiyyah, mana
dalilnya istilah mulukiyyah itu?". Tetapi lisan mereka begitu mudah
melabeli orang lain dengan tuduhan "Hizbiyyun", "Quthubiyyun",
"Harokiyyun", "Ikhwaniyyun", dst. Pertanyaannya, dari mana
istilah-istilah muhdats itu? Dari mana dalilnya ada istilah
"Quthubiy", "Ikhwaniy", "Harokiy", dst...? Dari
mana??!!
- Ketika kami menulis banyak
tentang perangai mereka, dan mengemukakan fitnah serta "kejahatan
sosial" mereka di tengah kehidupan ummat, karena tak mampu membantah dan
kalah argumentasi, cara yang mereka tempuh hanya satu: MEMBUKA AIB PRIBADI, MENYEBARKAN
TUDUHAN, MEMBUNUH KARAKTER, MENGOLEKSI DOSA DI MASA LALU, MENCELA DAN
MENJATUHKAN KEHORMATAN, dan bahkan memulung-mulung serta mengemis-ngemis
"fakta" untuk di kumpulkan kemudian di sebar luaskan dengan judul,
"Tahdzir Asatidzah Untuk At-Thuwailibi". Ini trik mereka saja. .
Sudah maklum.
Kesimpulan, kelompok ini
benar-benar merusak. Sehingga wajar bila seorang Ulama muda nusantara menyebut
mereka kelompok "Talafi", karena mereka bukan Salafi sejati
sebenarnya. Bahkan ada yang menyebut mereka sebagai kaum yang pemahaman ilmunya
terambil dari pemahaman Salaf, tapi pemahaman akhlaq mereka ambil pemahaman Abu
Lahab. Ya, karena kerusakan mereka tidak hanya perusakan manhaj dan persatuan,
bahkan sampai merebut masjid-masjid kaum muslimin. Uniknya, mereka-mereka ini
pun tidak selamat dari tahdzir. Kelompok talafi ini punya budaya khas yaitu
MENTAHDZIR. tetapi pada saat yang sama, mereka juga di tahdzir oleh sesama
mereka. Mereka mentahdzir para aktivis dakwah, lha mereka sendiri di tahdzir
dan di vonis sebagai Sururiyyah dan Hizbiyyah yang sesat.
So, Hizbiyyah teriak Hizbiyyah. ☺
Allahul Musta'an.



No comments:
Post a Comment