Headlineislam.com – Densus 88 kembali melakukan
penggrebekan terhadap terduga teroris jaringan Santoso di Bima, pada Senin
(15/02). Dalam operasi tersebut dikabarkan bahwa terjadi aksi baku tembak, dan
Can alias Fajar warga Penatoi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, NTB meninggal
terkena tembakan.
“Iya baku tembak, informasinya
satu mati dari musuh,” ujar seorang sumber di Mabes Polri seperti dilansir
klikkabr.com.
Namun, dari pihak keluarga terduga
teroris membantah telah terjadi baku tembak antara aparat Detasemen Khusus 88
Antiteror dan Can alias Fajar. “Anak saya ditembak saat tidur, saya melihat
langsung,” kata Nurseha, ibu Fajar.
Menurut Nurseha, saat Densus datang,
ia sedang menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Adapun suaminya, Darwis,
duduk dekat Fajar karena kondisinya stroke.
“Saya tidak disuruh melihat oleh
polisi yang datang. Saya tidak menyangka dia tertembak dan tiba-tiba sudah
meninggal,” katanya.
Nurseha mengaku mendengar enam
sampai tujuh kali suara tembakan. Karena anak di gendongan terus menangis,
Nurseha minta izin masuk rumah buat mengambil susu dan popok. “Saat mayat
dibawa, saya tidak diizinkan masuk. Tidak ada baku tembak, tidak ada senjata di
rumah saya,” kata dia.
Nurseha menuturkan selama empat
tahun anaknya tidak pernah di Bima. Fajar adalah anak kedua dari lima
bersaudara. “Fajar tewas karena tertembak dalam keadaan tengkurap,” ucapnya.
Hingga Selasa siang garis polisi
belum dilepas dari rumah berpagar bambu dan bercat putih itu. Banyak warga dan
tetangga dekat berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa.
Wali Kota Bima Qurais Abidin
meminta warga tetap tenang dan tak terpengaruh dengan penggerebekan terduga
teroris. “Saya minta warga tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti
biasa,” kata Qurais.
Tiga terduga teroris yang diduga
jaringan Santoso digerebek Densus Senin pagi. Mereka adalah Imam alias Herman
alias David dan Sogir alias Yanto. Sedangkan yang ditembak mati adalah Can
alias Fajar alias Muhammad Fuad. (kt/headlineislam.com)



No comments:
Post a Comment