![]() |
| Masyarakat Adat Dayak Ma'anyan Panju, Barito Timur, Kalimantan Tengah Mendatangi Gedung KPK |
JAKARTA (Headlineislam.com) – Presidium Dewan Rakyat Dayak
mengecam tindakan Menteri Dalam Negeri
(Mendagri) Tjahyo Kumolo yang meresmikan
monumen perjuangan laskar CIna di Taman Mini. Menurut dia kebijakan itu tidak
benar karena menyakiti nurani suku bangsa yang lain.
"Kenapa harus monumen laskar
Tionghoa, padahal laskar Rakyat Dayak banyak yang berjuang namun tidak pernah
di apresiasi bentuk perjuangnanya. Kami mengecam Mendagri yang menganak emaskan
etnik tertentu, peresmian monumen Po An Tui Laskar Tiong Hoa jelas
menyakiti rakyat Dayak yang lebih banyak
membuat laskar untuk membela negeri ini," tegas Ketua Presidium Dewan
Rakyat Dayak Bernadus dalam pernyataanya di Jakarta, (29/2).
![]() |
| Mendagri resmikan Monumen Laskar Cina (foto: Suaramerdeka.com) |
Bernadus menambahkan, suku Dayak adalah satu-satu nya suku yang
menyatakan sumpah setia kepada Republik Indonesia pada tanggal 17 Desember 1946
dengan tata cara upacara sakral suku dayak di Gedung Agung Istana Presiden
Yogyakarta yang di pimpin langsung oleh tokoh Dayak Cilik Riwut. Cilik
merupakan anggota tentara nasional Indonesia, penerjun pertama yg dimiliki oleh
republik Indonesia asli suku Dayak.
Hingga hari ini, kata dia,
pengajuan nama Cilik Riwut sebagai pahlawan nasional pun belum mendapatkan hasil.
Apalagi membuat monumen sumpah setia rakyat Dayak untuk Bela NKRI, jauh dari
impian.
"Suku Dayak juga pernah
terlibat aktif dalam memadamkan upaya pemberontakan dari etnis Tionghoa yang
dikenal dengan peristiwa penyerangan Pangkalan II angkatan udara RI di Sangau
Ledo yang dilakukan oleh barisan rakyat," katanya.
Menurutnya, pemberontakan yang
dilakukan oleh etnis Tionghoa, menyisakan luka bagi suku dayak yang dikenal
peristiwa makuk merah.
"Tanah kami tanah Dayak hanya
sebagai tempat eksploitasi Sumber Daya Alam saja. Tambang tambang berdiri
dimana mana menyisakan kerusakan alam, pemaksaan pembukaan perkebunan dan
bahkan tiap tahun rakyat Dayak mendapat
kado asap dari pembalak liar yang membuka lahan, tanah kami dijadikan lahan
transmigran tanpa minta imbalan,"
katanya.
Bernardus melihat persepsi yang
dibentuk agar Dayak tetap menjadi warga kelas dua dan para bandar tetap bisa
meng eksploitasi tanah Dayak. Pemerintah pusat seharusnya memberikan perhatian
yang lebih kepada rakyat Dayak, karena banyak suara kami saat pemilu yang
mendukung pemerintah.
Sumber: ROL Online | Arham |
Headlineislam.com




No comments:
Post a Comment