Headlineislam.com – Diriwayatkan oleh Imam Adz- Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam An- Nubala’ dan Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ bahwa Sa’id ibnul Musayyib menikahkan anaknya dengan mahar dua dirham.
Kisahnya adalah sebagai berikut ;
Sa’id Ibnul Musayyib adalah seorang tabi’in yang juga
merupakan ulama pada masanya, Majlis ilmunya banyak dihadiri oleh jama’ah
khususnya pemuda.
Ibnu Abi Wada’ah, ya! nama itulah yang beberapa hari
ini tidak hadir dalam majlis Sa’id Ibnul Musayyib. Pada suatu hari hadirlah Ibnu
Abi Wada’ah setelah absen beberapa hari.
Maka Sa’id pun bertanya kepadanya, “Kemana saja engkau
akhir-akhir ini wahai Ibnu Abi Wada’ah?”
“Istriku meninggal dan aku sibuk mengurusinya.” Ujar
Ibnu Abi wada’ah.
“Mengapa engkau tidak mengabari kami sehingga bisa
bertakziah dan membantumu! Apakah kamu ingin menikah lagi” Tanya Sa’id.
Ibnu Abi Wada’ah kembali bertanya; “Apakah ada yang
mau menikah denganku, sedangkan aku adalah orang miskin yang hanya memiliki dua
atau tiga dirham?”
Sa’id pun menjawab, “Aku yang akan menikahkanmu dengan
putriku.”
“Benarkah?” Tanya Ibnu Abi Wada’ah seolah tak percaya.
“Iya benar!” Tegas Sa’id.
Maka Sa’id pun menikahkan putrinya dengan Ibnu Abi
Wada’ah dengan mahar dua dirham.
Setelah itu, pengantin laki itupun kembali ke rumahnya
dengan perasaan yang berbunga-bunga sangking senangnya.
Menjelang magrib, ia pun bersiap-siap untuk berbuka
puasa dengan roti dan minyak. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. maka ia
bertanya; “Siapa di luar?”
“Sa’id.” Jawabnya.
Maka Ibnu Abi Wada’ah pun berusaha menebak siapa yang
datang, ia berkata dalam hatinya, “Sa’id yang mana kah ini?, yang jelas bukan
Sa’id bin Musayyib.” Karena Selama empat puluh tahun ia tidak pernah terlihat
kecuali hanya perjalanan antara rumahnya dan masjid. Sejarah pun mencatat
dengan tinta emas bahwa beliau tidak pernah ketinggalan takbiratul ihram
bersama imam selama empat puluh tahun. Allaahu Akbar.
Setelah dibuka pintu, ternyata yang datang adalah Said
bin Musayyib. Ibnu Abi Wada’ah pun heran dan berpikir bahwa Sa’id telah berubah
pikiran serta ingin membatalkan pernikahannya.
“Ada apa wahai Sa’id?” Tanya Ibnu Abi Wada’ah,
“Seharusnya engkau bisa mengirim utusan untuk memanggilku sehingga aku yang
mendatangimu” tambahnya.
Sa’id pun menjawab, “Orang seperti kamu memang layak
untuk didatangi. Engkau kembali sendiri membujang dan aku pun menikahkanmu,
sekarang aku membawa anakku yang sudah menjadi istrimu karena aku khawatir
engkau bermalam sendirian.”
Ternyata putrinya telah berdiri di belakang ayahnya,
sang ayah memegang tangan putrinya dan mendorongnya melalui pintu, tiba-tiba
putrinya terjatuh karena malu.
Kemudian Ibu Ibnu Abi Wada’ah berkata kepadanya, “Demi
Allah! Jangan engkau sentuh dia sebelum aku menghiasinya selama tiga hari
seperti hiasan seorang pegantin."
Berkata Ibnu Abi Wada’ah, “Setelah tiga hari, aku pun
mulai hidup bersamanya, sungguh dia merupakan wanita paling cantik yang pernah
kulihat, hafal Al-Qur’an, sangat paham Sunnah Rasulullah dan paling mengerti
akan hak suami.”
Ia melanjutkan: “Setelah sebulan berlalu, aku
menghadiri Majlis Sa’id, setelah semua hadirin pulang sehingga tidak tersisa
seorangpun kecuali hanya aku dan dia, Ia bertanya kepadaku, ‘Bagaimana keadaan
tamu kalian’ maksudnya adalah putrinya. ‘ia dalam keadaan baik wahai Abu
Muhammad (Sa’id)’ jawabku. ia pun berkata, ‘Jika engkau mendapatkan sesuatu
yang tidak engkau sukai pada dirinya, maka pukullah ia dengan tongkat!.’
‘Ketika aku hendak pulang, ia pun memberikan dua puluh ribu dirham kepadaku
seraya berkata, ‘Ambillah uang ini untuk kebutuhan keluargamu.”
(As-Siyar 4/233-234 dan Al-Hilyah 2/167)
Diriwayatkan juga bahwa pada suatu hari ketika Ibnu
Abi Wada’ah hendak pergi ke majlis mertuanya, sang istri pun bertanya, “Hendak
pergi kemana engkau wahai suamiku.” “Ke majlis Sa’id bin Musayyib.” Jawabnya.
Lantas sang istri pun berkata, “Duduklah di sini,
karena semua Ilmu Sa’id ada pada diriku.” Allah Akbar...!!!
Nasihat :
* Permudahlah urusan nikah…! Jangan dipersulit,
terlebih di zaman fitnah seperti ini.
* Walaupun
tak seshalih Ibnu Abi Wada’ah namun berapa banyak pemuda akhir zaman yang ingin
bertemu dengan mertua semisal Sa’id Bin Musayyib.
* Yaa Allah!
Jagalah pemuda kami dari fitnah syahawat dan syubhat, serta pertemukan mereka
dengan hambaMu yang shalihah nan baik. Wallaahu Muwaffiq.
Ditulis : Akhukum Fillah Fitra Hudaiya (Musallas,
Cairo)
Editor : Arham
Editor : Arham




No comments:
Post a Comment