Headlineislam.com – Segala puji hanya milik Allah Penguasa semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan semua sahabatnya yang mulia.
Amma ba’du:
Setiap kali kata “Jihad” disebut,
maka orang-orang kafir tersentak marah dan gemetar karena kata ini. Setiap kali
umat Islam berbicara tentang perlawanan untuk membela hak-hak mereka, maka
media massa Barat berlomba-lomba untuk mendistorsi Islam. Mereka propagandakan
jihad dengan gambaran kebengisan dan kekejaman. Mereka gambarkan setiap muslim
yang jujur dan berjihad di jalan Allah sebagai manusia badui yang buas,
penunggang unta yang serampangan, pengganas yang membabi buta, dan tidak peduli
pada apapun. Mujahid adalah pembunuh yang menebas leher manusia hanya untuk
memenuhi hasrat kecintaannya pada darah, yang mana ia tidak akan pernah puas
kecuali dengan tumpukan tengkorak dan daging manusia.
Syaikh Abu Al-A’la Al-Maududi
telah menulis dalam bukunya yang berjudul “Jihad Dalam Islam” [1] :
“Kata ‘Jihad’ dalam Bahasa Inggris
diterjemahkan dengan ‘Holly War’ (Perang Suci), dan untuk waktu yang lama kata
‘Jihad’ telah disalah tafsirkan sehingga menjadi identik dengan gambaran yang
keliru, yang dihiasi dan dihancurkan citranya dengan makna yang samar dan
palsu. Demikianlah kini persepsi kata ‘Jihad’ terbentuk dalam benak
orang-orang, Jihad direfleksikan oleh gambaran dari keganasan sifat, barbarisme
dan gemar menumpahkan darah. Setiap kali orang-orang mendengar kata ‘Jihad’,
maka yang tergambar dalam benak mereka adalah gambaran manusia yang sangat
asing, sedang menenteng pedang, penuh amarah dan intoleran, matanya melotot
tajam, berteriak lantang ‘Allahu Akbar!’, lalu menyerang siapa saja yang ada di
hadapannya. Para seniman Barat telah memberikan gambaran ‘Jihad’ dengan sangat
luar biasa, kemudian mereka tulis sebuah kalimat dengan huruf yang tebal:
‘Demikianlah sejarah umat Islam penuh dengan pertumpahan darah dan pembantaian
atas orang-orang yang tak berdosa’.”
“Ironisnya Barat seakan sedang
mengklaim bahwa mereka adalah yang paling suci, padahal tangan mereka
bertanggung jawab dan berlumuran darah dalam ‘perang tidak suci’ selama
berabad-abad di berbagai belahan bumi. Mereka adalah para perampok yang membawa
berbagai persenjataan mematikan untuk menjalankan era perdagangan baru dan
perampasan sumber daya alam serta aset berharga. Mereka menginvansi berbagai
daratan dengan tujuan kolonialisme, dan merampas seluruh hasil tambang
berharga, untuk menjadi sumber bahan bakar pabrik-pabrik atau pemberdaharaan
kekayaan mereka. Sungguh sangat malang nasib berbagai negeri yang kaya sumber
daya alam, para penduduk negeri-negeri tersebut telah mengalami berbagai
pembantaian dahsyat, dan menyaksikan berbagai jenis penyiksaan yang dikukan
oleh bangsa Barat. Anehnya, kini Barat sedang mensifati kaum muslimin dengan
sifat buas dan hewani, sungguh tidak masuk akal!”
Tidak dapat dipungkiri bahwa
diantara kaum muslimin terdapat para pengecut yang malah membenarkan bahwa diri
mereka dan nenek moyang mereka adalah benar seperti apa yang dinyatakan oleh
Barat tentang sejarah Islam. Sehingga mereka merasa minder dan malu dengan
sejarah mereka yang diklaim telah banyak mengorbankan orang-orang tak berdosa.
Mungkin mereka lupa tentang perang
100 tahun, dan perang tujuh tahun yang terjadi antara Perancis dengan Inggris
dan negara-negara Eropa lainnya. Mungkin mereka lupa tentang pemabantaian sadis
umat Protestan oleh umat Katolik di gereja-gereja Eropa. Mungkin mereka juga
lupa tentang pembantaian kaum Yahudi di seluruh Eropa oleh umat Kristen,
padahal mereka berasal dari induk kitab yang sama.
Adapun fakta sejarah terbaru, Amerika
yang dianggap sebagai pionir peradaban Barat adalah bangsa yang bertanggung
jawab atas genosida dan pembantaian terhadap penduduk pribumi Indian. Para
pribumi telah dimusnahkan dengan sadis dan disisakan sebagian saja dari mereka
untuk ditempatkan di lokasi-lokasi wisata, atau mayat mereka diawetkan untuk
berbagai pameran. Sampai saat ini penduduk pribumi Indian yang masih bertahan
hidup berada dalam kesengseraan, padahal mereka adalah penduduk asli benua
Amerika.
Mungkin sebagian anak-anak kaum
muslimin telah lupa tentang dampak dua perang dunia yang dijalankan Barat
selama satu abad terakhir. Dua perang tersebut telah menelan sekitar 50 juta
korban jiwa, korban terluka dan yang lainnya ditawan. Hendaknya kaum muslimin
bisa membayangkan bagaimana gerombolan para perampok dan pembunuh berkeliaran
di muka bumi. Saat itu, pembantaian sadis, pemerkosaan dan penistaan atas
kehormatan manusia terjadi dimana-mana.
Bagi anak-anak kaum muslimin yang
tidak tahu bagaimana kelamnya sejarah Barat dan kaum salibis yang penuh dengan
darah dalam membantai kaum muslimin, hendaknya mereka malu karena sesungguhnya
sejarah Islam dipenuhi dengan kasih sayang Ilahi dan petunjuk bagi umat
manusia. Lihatlah bagaimana Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berhasil
menguasai seluruh Jazirah Arab sendirian di bawah panji tauhid, dan korban
terbunuh dari musuh-musuh kafir tidak lebih dari 800 orang saja.
Untuk melihat sejarah kelam umat
Nasrani mari kita lihat apa yang telah ditulis oleh Imam Ibnu Atsir mengenai
usaha mereka menyerang Baitul Maqdis pada 15 Juli 1099 M, bertepatan dengan
tahun 492 H:
“Orang-orang ditebas dengan
pedang, kaum Frank (Eropa Barat) menghabiskan seminggu penuh di Baitul Maqdis
untuk membunuh kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin ada yang berlindung di Mihrab
Daud, dan mereka berperang selama tiga hari disana. Lalu kaum Frank menjamin
keamanan bagi mereka, dan janji tersebut dipenuhi sehingga sebagian kaum
muslimin tersebut berhasil keluar pada malam hari untuk menuju Asqalan.
Kemudian pasukan Salib membantai lebih dari 70.000 kaum muslimin di Masjidil
Aqsha, sebagian besar mereka adalah para imam, ulama, ahli ibadah, para Zahid,
dan orang-orang yang tinggal di seputaran Al-Aqsha.” [2]
Raymond d’Agiles sejarawan Kristen
berkata ia telah mengunjungi Al-Quds selama pembantaian mengerikan yang
dilakukan oleh pasukan Salib. Ia kepayahan berjalan untuk mengarungi lautan
mayat dan cabikan tubuh kaum muslimin, dan darah yang tergenang disana telah
mencapai kedua betisnya.
Gustave Le Bon berkata [3]:
“Hal yang paling disukai Pasukan
Salib untuk menghilangkan rasa bosan mereka adalah membantai anak-anak,
kemudian memotong-motong kecil tubuh mereka”
Gustave Le Bon juga menyatakan
bahwa puluhan ribu kaum muslimin telah disembelih di seputaran Masjid Umar
(Dome of Rock).
Hendaknya kita tidak lupa bahwa
kampanye-kampanye brutal yang digencarkan oleh para orientalis atas jihad telah
menimbulkan dampak yang juga buruk bagi kalangan kaum muslimin. Mereka
terpengaruh secara ruhiyah dan mentalitas akibat serangan yang bertubi-tubi
oleh para oerientalis dan propagandis, serta dibawah tekanan kuat tatanan dunia
modern hari ini. Bukan rahasia lagi kini kaum muslimin takut dan paranoid
terhadap jihad serta sangat anti dan kontra terhadap perang fi sabilillah.
Majalah Al-A’lam Al-Islami yang
berbahasa Inggris pernah menyatakan dalam sebuah artikelnya:
“Ada sebuah ketakutan dahsyat yang
melanda dunia Barat, ketakutan itu disebabkan karena: Islam semenjak
kemunculannya di Makkah tidak pernah melemah, bahkan Islam semakin bertambah
dan meluas, dan Islam bukanlah sekedar ritual agama saja, melainkan sistem yang
paripurna dan bahkan di antara rukun-rukunnya terdapat ‘Jihad’.”
Robert Ben berkata:
“Sesungguhnya umat Islam pernah
memerangi seluruh belahan dunia di masalalu, dan mereka pasti akan melakukannya
lagi untuk kali kedua.”
Wilfred Cantwell Smith berkata:
“Sesungguhnya Eropa tidak akan
bisa melupakan kepanikan yang telah terjadi dalam beberapa abad terakhir ketika
Islam menyapu bersih Emperium Romawi di timur, barat dan selatan bumi.” [4]
Lawrence Brown telah berkata:
“Bahaya yang paling nyata terdapat
dalam sistem hukum Islam, dan kemampuan Islam untuk memperluas dan menaklukkan
wilayah. Kekuatan Islam adalah satu-satunya dinding penghalang untuk program
kolonialisme yang dijalankan Eropa” [5]
Barat telah lama membuat persiapan
untuk membunuh ruh jihad dari dada umat Islam. Oleh karena itulah mereka
menggagas berbagai strategi dan agenda yang bertujuan untuk menggerogoti
semangat jihad dari umat ini. Mereka hendak menghancurkan pilar aqidah Islam
dan ibadah jihad melalui beberapa agenda:
1.
Menghidupkan Semangat Perang Salib
Vasco
Da Gama ketika tiba di Tanjung Harapan telah berkata: “Kini kita telah
mencengkram leher Islam, dan yang tersisa bagi mereka hanyalah seutas tali
untuk ditarik, kemudian mereka tercekik dan mati.” [6]
2.
Sekolah-sekolah modern dibangun diatas
landasan yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai Ilahiyah agar menjauhkan
manusia dari dien terlebih jihad. Mereka berusaha untuk mencitrakan jihad
sebagai upaya pembelaan diri di era kolonial saja, agar Islam terkesan sebagai
dien yang berjuang hanya untuk mempertahankan batas-batas teritoriolnya saja,
seakan-akan Islam hanya milik bangsa tertentu, seakan-akan Islam adalah dien
milik Jazirah Arab saja.
Mereka
mengorbitkan beberapa tokoh untuk mempromosikan agenda ini seperti: Abdul Wahab
Khilaf melalui bukunya “Siyasah Syar’iyyah”, Muhammad Izzah Darwaza melalui
bukunya “Al-Jihad Fi Sabilillah”, Ali Manshur melalui bukunya “As-Syariah
Al-Islamiyah Wal Qanun Ad-Duwali”, Muhammad Rafat Utsman melalui bukunya
“Al-Huquq Wal Wajibat”, dan Ahmad Muhammad Al-Haufi melalui bukunya “Samahatul
Islam”. [7]
3.
Mereka coba mencegah Aqidah Wala’ dan Bara’
atau benci dan cinta dalam Islam.
4.
Mengkampanyekan sikap fanatik perkauman,
sehingga lebih mengutamakan persaudaraan dengan Nasrani Arab dibandingkan Muslim
Afghan, Turki atau Pakistan.
5.
Propaganda Hak Asasi Manusia (HAM).
6.
Propaganda pluralism untuk menyatukan
agama-agama dan menihilkan perbedaan prinsipal antar agama.
7.
Propaganda dan mengkampanyekan Islam yang
global dan damai.
8.
Menghidupkan kelompok-kelompok sesat untuk
menghapus jihad dari Islam, seperti Al-Qiayadiyah (Ahmadiyah), Al-Bahaiyah, dan
Al-Babaiyah (ajaran Sai Baba).
Mirza Ghulam Ahmad telah berkata
[8]:
“Aku telah dinaungi untuk
memoderatkan kaum sunni. Dalam sehari 60 kali saya berjihad dengan lisan dan
penaku untuk melunakkan hati kaum muslimin agar tunduk pada Pemerintah Inggris.
Saya rasa tulisan-tulisan saya telah menghebohkan kaum muslimin dan
mempengaruhi ratusan orang diantara mereka.”
Dia juga berkata:
“Mulai hari ini aku hapuskan hukum
jihad dengan pedang, tidak ada lagi jihad setelah hari ini! Barangsiapa setelah
hari ini mengangkat senjatanya kepada kaum kafir dan menyebut dirinya sebagai
pejuang, maka ia menyelisihi Rasulullah yang telah mengabarkan pada 13 abad
yang lalu bahwa jihad akan selesai tatkala Al-Masih yang dijanjikan datang.
Sesungguhnya akulah Al-Masih yang dijanjikan, maka tidak ada lagi jihad setelah
kedatanganku. Kita menyeru pada perdamaian dan mengibarkan panji keamanan!”
Dia juga berkata:
“Tinggalkanlah ideologi jihad,
sekarang berperang untuk dien telah diharamkan! Telah datang seorang Imam
Al-Masih dan cahaya telah turun dari langit. Tidak ada lagi jihad, barangsiapa
yang berjihad fi sabillah maka ia adalah musuh Allah!”
Adapun sekte Al-Baha’iyah, mereka
berkata tentang pengharaman jihad:
“Perintah pertama yang dibawa oleh
Ummul Kitab dengan telah diutusnya juru selamat bagi alam semesta adalah
penghapusan jihad dari kitab. Telah dihramkan bagi kalian untuk mengangkat
persenjataan perang!”
Berkata Abdul Baha’ tentang
ayahnya:
“Ia telah menghapus ayat pedang
dan meniadakan hukum jihad” [9]
Sesungguhnya ini adalah sekte
bentukan Yahudi. Setelah kematian pemimpin mereka yang ketiga “Mirza Syauqi”,
majelis tertinggi mereka berkumpul di Israel dan memilih seorang Yahudi Amerika
bernama “Maison” menjadi pemimpin spiritual bagi seluruh pengikut ajaran
Baha’iyah di seluruh dunia.
Adapun sekte Baha’iyah yang
bermarkas di Inggris adalah yang paling berpengaruh, bahkan merekalah yang
menjaga ideologi dan organisasi agar tetap berdiri dan berjalan. Berkata Abdul
Baha’ di London:
“Sesungguhnya magnet cinta kalian
telah menarik saya untuk berada di Kerajaan ini (Inggris). Sungguh kini
pemikiran-pemikiran Barat lebih dekat kepada Allah daripada pemikiran-pemikiran
Timur.” [10]
_ _ _
Sesungguhnya kita kaum muslimin
tidak boleh malu atas dien kita, mari kita nyatakan denan jelas tanpa ada
kesamaran dan keraguan bahwa:
1.
Jihad adalah hukum yang telah ditetapkan oleh
Rabb semesta alam atas umat ini, untuk membebaskan seluruh belahan bumi dari
penindasan dan perbudakan yang dilakukan oleh para thagut menuju keadilan dan
rahmat Islam.
2.
Sesungguhnya agama Allah adalah agama untuk
seluruh manusia, maka kita akan menyebarkannya keseluruh pelosok bumi.
Dalam
Shahih Muslim diriwatkan bahwa Rasulullah Shalalllahu Alaihi Wasallam telah
bersabda [11]:
“Sesungguhnya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperlihatkan kepadaku bumi bagian timur dan
bagian baratnya, dan kekuasaan umatku akan mencakup bumi yang aku lihat itu.”
Allah
Ta’ala juga telah berfirman:
“Dia-lah
yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia
memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.”
[QS. Ash-Shaff: 9]
3.
Sesunguhnya Rasulullah Shalallahu Alaihi
Wasallam telah bersabda dalam sebuah hadits shahih yang diriwatkan oleh Imam
Ahmad [12]:
“Aku
diutus dengan pedang menjelang hari kiamat hingga mereka menyembah Allah Ta’ala
semata dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatupun, dan telah dijadikan
rizkiku di bawah bayangan tombakku, dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi
siapa yang menyelisihi perkaraku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia
termasuk bagian dari mereka”
Pedang
yang dimaksudkan disini adalah untuk memerangi para penjahat dan pemimpin
kekufuran serta para penguasa tiran yang memperbudak manusia untuk tunduk dan
menyembah mereka dan bukan Allah. Dan termasuk siapa saja yang mengambil alih
hak-hak ilahiyah dalam kehidupan, walaupun ia tidak secara langsung menyeru
bahwa dirinya tuhan.
Saya
katakan: pedang ini juga harus digunakan untuk menghapus kekuasaan pemerintahan
kafir, lembaga-lembaga ekonomi neo-kolonial, dan organisasi-organisasi yang
menghalau manusia dari dienullah dan menghalangi mereka bernaung di bawah hukum
Allah.
Setelah
semua pilar kekafiran tersebut tumbang di hadapan Islam, maka saat itulah baru
berlaku pilihan bagi masyarakat:
“Barangsiapa
yang mau, maka berimanlah! Dan barangsiapa yang tidak mau maka ingkarilah!”
[QS. Al-Kahfi: 29]
“Tidak
ada paksaan untuk memasuki agama Islam. Sungguh telah jelas jalan kebenaran
dari jalan kesesatan.” [QS. Al-Baqarah: 256]
4.
Sesunguhnya kalimat “Jihad Fi Sabilillah”
dalam 4 mazhab Ahlus Sunnah bermakna: “Al-Qitaal” (Berperang di jalan Allah).
Berkata
Al-Qastalani: “Jihad adalah memerangi orang-orang kafir untuk membela Islam dan
meninggikan kalimat Allah”
Berkata
Ibnu Hajar Al-Asqalani: “Jihad adalah bersungguh-sungguh dalam memerangi
orang-orang kafir” [13]
Kita
adalah kaum yang tidak rela untuk menghapus hukum jihad dengan pedang hanya
untuk meraih keridhaan Barat. Kita tidak rela untuk menghapus salah satu rukun
Islam yang agung ini untuk menjadi sekedar kalimat yang dinukilkan di
mimbar-mimbar., atau sekedar ditulis di koran dan majalah.
Berkata
Ibnu Rusyd [14]: “Jihad dengan pedang adalah memerangi kaum musyrikin atas
agama, sehingga semua orang yang menyusahkan dirinya untuk dzat Allah maka ia
telah berjihad di jalan Allah. Namun kata jihad fi sabilillah bila disebut
begitu saja maka tidak dipahami selain untuk makna memerangi orang kafir dengan
pedang sampai masuk islam atau memberikan upeti dalam keadaan rendah dan hina”
Wahai
saudaraku kaum muslimin, sudahkah kalian pahami apa yang dikatakan oleh Ibnu
Rusyd diatas? Jika sudah, maka tidak boleh ada lagi diantara kita yang
menyelewengkan dan menggeser makna jihad!
5.
Kalimat “Kami telah kembali dari jihad kecil
-perang- untuk menuju jihad besar -jihad hawa nafsu-” yang telah menyebar dan
dinyatakan bahwa ini adalah hadits, sesungguhnya perawi dalam riwayat tersebut
bernama “Yahya bin Al-A’llaq”.
Berkata
Ibnu Hajar tentangnya: “orang yang ditolak dalam periwayatan hadits”
Berkata
Imam Ahmad: “Yahya adalah pendusta yang meriwayatkan hadist”
Berkata
Ad-Daraquthni: “Tertolak”
Perkataan
ini adalah hadist mungkar dan sangat lemah sekali [15]. Dan Al – Hafizh Ibnu
Hajar rahimahullah berkata : “Hadist ini diriwayatkan dari jalan Isa bin Ibrahim
dari Yahya dari Laits bin Abu Sulaim, padahal mereka seluruhnya adalah
orang-orang yang lemah. Dan an-Nasa’i membawakannya dari ucapan Ibrahim bin Abi
‘Ablah, salah seorang tabi’in Syam.”
6.
Tidak ada yang tersisa dari kita untuk para
musuh kafir yang memerangi Islam kecuali apa yang telah ditulis oleh
Al-Mutanabbi:
“Sesungguhnya
kami adalah kaum yang menjadikan perang sebagai ibu, tombak sebagai ayah dan
pedang sebagai saudara”[16]
Maha
suci engkau Ya Allah dan segala puji adalah milikmu. Aku bersaksi bahwa tiada
tuhan melainkan hanya Engkau dan aku memohon ampunan kepadamu dan bertobat
kepadamu.
Ditulis : Syaikh Dr. Abdullah
Azzam Rahimahullah
Majalah Al-Jihad
Edisi dua puluh tujuh
Jumadi At-Tsani, 1407 H.
Note:
[1] Lihatlah Ad-Dzilaal: Juz 3,
Hal: 1444, dari mukaddimah tafsir Surat Al-Anfal – dikutip dari Kitab Al-Jihad
Al-Maududi.
[2] Lihat lengkapnya di Kitab Ibnu
Al-Atsir: 10/283.
[3] Kebudayaan Arab oleh Gustave
Le Bon, Hal: 384.
[4] Al-Musytariqun Wal Islam oleh
Muhammad Qutub, Hal: 32.
[5] At-Tabsyir Wal Isti’mar,
Musthafa Al-Khalidi, Hal: 384.
[6] Al-Musytariqun Wal Islam oleh
Muhammad Qutub, Hal:32.
[7] Ahammiyatul Jihad, Dr. Ali
Al-Ilyani, Hal: 504
[8] Tabligh Risalah, Sekte
Al-Qadiyani: 7/10.
[9] Ahammiyatul Jihad, Dr. Ali Al-Ilyani,
Hal: 504 – 509.
[10} Hakikatul Babiyah Wal
Baha’iyah, Muhsin Abdul Majid, Hal: 237 – 244.
[11] Syarah An-Nawawi, Juz 8, Bab:
Al-Fitan, Hal: 13, di catatan nomer 2000.
[12] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad
dalam Al-Musnad: 2/92.
[13] Fathul Bari: Juz 6, Hal: 2.
[14] Muqaddimah Ibnu Rusyd: 1/368.
[15] Dha’if Al-Jami’ As-Shagir:
4/118.
[16] As-Samhuri: Tombak,
Al-Masyrufi: Pedang.



No comments:
Post a Comment