Headlineislam.com – Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam bersabda :
اذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ
، وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى
تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُم
Hadits dari Abdullah bin Umar, ia
berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kalian telah berjual
beli dengan cara ‘inah, dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi,
dan telah senang dengan bercocok tanam dan kalian telah meninggalkan jihad,
niscaya Allah akan kuasakan/timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan
dicabut/dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama
kalian.” (HR Abu Dawud no. 3003 dalam kitab Al Buyu’, bab An-Nahyu ‘anil ‘Inah; Musnad Ahmad Jilid 2/28)
Sabda Nabi SAW: “Jika kalian telah
sibuk memegang ekor-ekor sapi” merupakan kinayah atau kiasan, tersibukkannya
seseorang dengan membajak ladang dan beternak (salah satu sarana penghidupan di
masa beliau) sehingga lalai untuk berjihad di jalan Allah. “Telah senang dengan
bercocok tanam” merupakan kinayah tentang keberadaan mereka yang menjadikan
bercocok tanam sebagai ambisi dan perhatian utama, seolah-olah mencari nafkah,
bertani dan berladang merupakan orientasi utama kehidupannya. “Dan kalian telah
meninggalkan jihad” maksudnya enggan berperang di jalan Allah. Maka Allah pasti
akan menguasakan orang-orang kafir atas kalian, menimpakan kaum Muslimin dengan
kehinaan, izzah kaum Muslimin terlecehkan, karena tidak mau atau begitu enggan
berperang di jalan Allah.
Jihad yang dimaksud dalam
Rasulullah SAW ini merupakan jihad dalam istilah syar’i bukan istilah bahasa.
Adapun maksud ucapan Rasulullah, menurut Imam Shan’ani, “Hingga kalian kembali
kepada agama kalian” adalah kalian kembali menyibukkan diri dengan
amalan-amalan agama (Subulus Salam,
3/64), kehinaan kaum Muslimin sendiri berawal dari meninggalkan jihad fii
sabilillah atau perang di jalan Allah. Seolah-olah simbol amalan-amalan agama
Islam adalah jihad. Bahkan sudah maklum diketahui bahwa puncaknya amal Islam
adalah jihad, jihad merupakan mahkota Islam.
Atsar terkenal dari sayyidina Abu
Bakar Ash-Shiddiq, "Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fie sabilillah
melainkan Allah hinakan mereka, dan tidaklah suatu kaum meninggalkan amar
ma’ruf dan nahi munkar melainkan Allah ratakan azab atas mereka.” (HR Said bin
Mansur di dalam Syifaa’ ash Shuduur). “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad
fii sabilillah, kecuali Allah timpakan kefakiran kepada mereka.” (HR Ibn
Syakir)
Dahulu masa kejayaan Islam dari
masa Rasulullah hingga Turki Utsmani, kegiatan umat selalu diisi dengan jihad
dan futuhat, memang ada kalanya kaum Muslimin kalah ketika jihad tidak menemui
kondisi keislamannya yang ideal, namun kemenangan demi kemenangannya jauh lebih
banyak diraih kaum Muslimin dengan jihad. Singkatnya kaum Muslimin dipertuan
agungkan di muka bumi oleh seluruh bangsa dan peradaban tidak lain dan tidak
bukan karena jihad.
Bahkan jihad kaum Muslimin
mendahului puncak-puncak keemasan intelektual dan penemuan sains Islam di masa
Bani Abbas, Bani Mamluk dan Turki Utsmani. Jika tidak ada panglima-panglima
semacam Abu Ubaidah, Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Yazid dan Muawiyah bin Abi
Sufyan, Qa’qa bin Amr, maka tidak ada peradaban keilmuwan Islam di masa Bani
Umayyah dan Bani Abbas di Syam maupun Iraq. Jika tidak ada Musa bin Nushair dan
Tariq bin Ziyad maka tidak ada peradaban Andalusia yang gemilang itu.
Al-Qur’an menyebutkan: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang
beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia
benar-benar akan mengganti keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan
menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir
sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)
Beriman dan bertaqwa dengan
sebenar-benarnya, serta mengerjakan amal shalih dalam komitmen Islam akan
berkonsekuensi menegakan jihad fii sabilillah tanpa terkecuali, khususnya bagi
laki-laki. Di sinilah jihad menemui momentumnya. Puncak keimanan dan ketaqwaan
sendiri berkonsekuensi salah satunya pada pengamalan jihad, puncak keimanan dan
ketaqwaan bisa diraih saat seorang hamba Allah berada di medan pertempuran
meninggikan kalimatNya. Sedangkan amal shalih Islam sendiri berpuncak pada
jihad. Oleh karena itu makin besar keimanan, ketaqwaan dan semangat beramal
shalihnya pasti akan membuat seseorang berupaya merealisasikan jihadnya dengan
segenap kemampuan yang dimiliki. Umat Islam kini, jika ingin memuncaki
peradaban dunia dan dipertuan di muka bumi lagi, kuncinya hanya dengan jihad.
Jihad merupakan penawar dan obat
bagi penyakit Wahn yang melanda umat Islam, yang dikatakan dalam hadits riwayat
Ahmad dan Abu Dawud: umat Islam dikerebuti orang kafir layaknya anjing berebut
makanan serta lemahnya umat Islam bagaikan buih di lautan, banyak orang Islam
tapi tak berdaya melawan orang kafir, sebabnya karena penyakit Wahn itu, Wahn
sendiri dimaknai Nabi SAW sebagai “cinta dunia dan enggan berperang”, atau
“cinta dunia dan takut mati syahid dalam membela agama.” Maka tinggal pilihan
kita, akankah memilih ‘obatnya’ ataukah memilih terus-menerus dijangkiti Wahn.
Ditulis oleh Ilham Martasyabana {Pegiat
Sejarah Islam}



No comments:
Post a Comment