Headlineislam.com – “Hampir sebagian besar wanita,”
tutur CEO Keke Busana, “mau dinikahi oleh laki-laki yang belum menjadi
apa-apa.”
Yang dimaksud dengan belum menjadi
apa-apa, ialah laki-laki yang miskin, belum memiliki pekerjaan yang
menjanjikan, tampang pas-pasan, dan banyak kekurangan fisik (duniawi) lainnya.
Hampir semua wanita mau dinikahi
oleh laki-laki jenis itu.
“Akan tetapi,” lanjut Kang Rendy
dalam lanjutan video tersebut, “wanita tidak akan mau berada dalam kondisi
tersebut selamanya. Harus ada perubahan. Harus ada perbaikan.”
Kaidah ini berlaku dalam segala
bidang kehidupan, tidak terbatas pada bab menikah semata. Bahwa ada begitu
banyak wanita baik-baik yang mau menerima laki-laki apa adanya sebagai calon
suami.
Yang terpenting bagi sebagian
wanita ialah kepastian. Keberanian. Bahwa laki-laki tersebut benar-benar
bersedia menjadi imam bagi si wanita, mau berusaha agar menjadi lebih baik, dan
komitmen-komitmen kebaikan lainnya.
Kondisi saat itu, hanyalah
peralihan yang bisa diubah seiring berjalannya waktu.
Kita sebagai individu saja, tentu
tidak menghendaki hidup yang datar-datar saja. Miskin permanen. Mengontrak
rumah seumur hidup. Penghasilan stagnan. Hidup tanpa pertumbuhan. Dan
kondisi-kondisi stagnan lainnya.
Kita tentu mendambakan perbaikan
dalam hidup. Pekerjaan yang lebih menjanjikan. Gaji yang lebih dari cukup agar
bisa memberi lebih banyak. Istri dan keluarga yang semakin baik. Dan diri serta
orang-orang tercinta yang semakin dekat dengan Allah Ta’ala.
Maka kita, sebagai laki-laki atau
suami pun harus bersikap demikian. Hendaknya kita berniat sungguh-sungguh untuk
mengubah nasib, sebab ikhtiar merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan
oleh Allah Ta’ala tepat setelah usai mendirikan shalat.
Kita harus meningkatkan kualitas
diri sebagai seorang individu, karyawan, pekerja, pengusaha, atau apa pun agar
kehidupan semakin membaik. Sebab mau tidak mau, zaman akan semakin berubah.
Kebutuhan akan semakin meningkat.
Di antara alasan yang paling
penting mengapa kita harus bertumbuh ialah kepastian bahwa kita akan mati. Kita
akan mempertanggungjawabkan seluruh amal di hadapan Allah Ta’ala. Akankah kita hidup
biasa-biasa saja dan mati hanya meninggalkan nama yang tertulis di batu nisan?
Sebab saat kita tidak bertumbuh,
maknanya kita telah tertinggal. Karena ada jutaan bahkan miliaran orang yang
bertambah baik seiring berjalannya waktu.
Jadi, gak masalah menikahi wanita
dalam kondisi miskin. Asal jangan miskin permanen karena Anda malas bekerja
sebagai suami.
Wallahu a’lam.



No comments:
Post a Comment