Oleh : Abu Husein Maaher At-Thuwailibi
Kata Allah dalam Al-Qur'an:
لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ
مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا.
“Allah tidak menyukai Ucapan
buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya.
Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. An Nisa: 148)
Saya mendapatkan sebuah artikel
tidak ilmiah berjudul “Tahdzir Untuk Ahat Dari Asatidzah”. Ahat itu adalah
singkatan dari Abu Husein At-Thuwailibi.
Artikel ini di publish yang
sebelumnya sudah di sebarluaskan oleh seorang bernama Andy Bangkit Abu Tholib
melalui akun facebooknya. katanya, tahdzir itu diberi izin untuk disebar luaskan
ke seluruh penjuru dunia oleh seorang bernama Abu Salma Muhammad Rachdi. Dengan
tujuan agar ummat manusia mengetahui bahaya Abu Husein At-Thuwailibi.
Penulis artikel ini tidak di
ketahui secara pasti siapa orangnya. namun katanya artikel ini berasal dari Abu
Salma Muhammad Rachdi Pratama. dalam artikel ini ia menghalalkan mengghibahi saya
dan memakan “daging’ saya. Wal-‘Iyaadzu billah.
Satu Hal yang unik, di awal
artikel Abu Salma memberikan pendahuluan, ia mengatakan:
“Ketahuilah sesungguhnya di antara
prinsip Ahlussunnah wal jama’ah adalah menyakini bahwa mengghibahi saudara
sesama muslim itu hukumnya harom, tetapi tidaklah mutlak, ada ghibah yang
diperbolehkan diantaranya;
1. Menyebutkan keadaan orang yang
zholim.
2. Menyebutkan identitas seseorang
ahlil bid’ah agar terhindar darinya.
3. Untuk memperingatkan manusia dari
kejahatan seseorang (tahdzir).
4. Orang muslim yang berbuat maksiat
secara terang – terangan.
5. Orang yang meminta fatwa.
6. Orang yang meminta pertolongan
untuk menghilangkan kejahatan.
Maka 6 orang golongan diatas
tersebut boleh dighibahi, sedangkan asal hukum ghibah adalah harom dan termasuk
dosa besar.”
-selesai-
Dari pemaparan diatas dapat di
pahami bahwa saya berhak di ghibah karena salah satu sebab diantara sebab-sebab
di atas.
Pertanyaan saya:
Satu: Kezholiman apa yang saya lakukan
sehingga saya halal untuk di ghibah ? Mohon buktikan! Bila mana saya melakukan
tindak kezholiman maka saya mohon ampun kepada Allah dan memohon maaf kepada
orang yang saya zhalimi. Tapi tunjukkan, kezholiman apa yang saya lakukan dan
siapa yang saya zholimi sehingga saya halal di ghibah ?? Apakah saya membegal ?
Apakah saya membunuh ? Apakah saya memperkosa? Coba sebutkan kezholiman apa yang
saya lakukan. Bila benar saya melakukan tindak kezholiman, maka saya mohon
ampun kepada Allah dan saya siap meminta maaf kepada orang yang saya zhalimi
dan saya siap pula di hukum qishos. Bila tidak, maka tuduhan ini akan saya
tuntut di akhirat kelak di hadapan Allah ‘azza wa jalla. Kalau mengkritik satu
dua orang ustad dianggap mencela, berarti anda sakit jiwa. Apa ustad-ustad itu
malaikat-malaikat suci yang tidak boleh di kritik.!?
Dua: Kebid’ahan apa yang saya lakukan
di tengah ummat sehingga saya berhak di tahdzir dan halal di ghibahi ?
Mohon berikan bukti. bid’ah apa
yang saya lakukan dengan bangga dan terang-terangan sehingga ummat mesti di
jauhkan dari saya ? Saya walhamdulillah berupaya sebaik mungkin untuk menjauhi
bid’ah, bahkan dalam muamalah dan dakwah, saya kerap mengajak ummat kepada
Sunnah An-Nabawiyyah sebatas yang saya mampu. Tak sedikitpun saya mengajak
orang kepada bid’ah dan berbangga dengannya. Tuduhan ini wallahi akan saya
tuntut di akhirat kelak. Saya atau kalian yang akan menjadi orang-orang yang
bangkrut di hadapan Allah Ta'ala.
Tiga: Kejahatan apa yang saya lakukan
? Apakah saya merampas harta kalian? Apakah saya merebut istri-istri kalian ?
Apakah saya melakukan pengkhianatan dan berbangga dengannya ? Lantas, mohon
jelaskan kepada hamba yang lemah ini; kejahatan apa yang saya lakukan sehingga
saya halal di ghibah ? Apakah saya melakukan pemberontakan kepada presiden?
Kalau iya, kapan saya melakukan pemberontakan pada presiden ? Atau, apakah saya
melakukan tindak terorisme di negeri ini sehingga kalian katakan “kejahatan” ?
Dimana saya melakukan pengeboman ? Dimana saya melakukan aksi
"terorisme"?
Empat: Maksiat apa yang saya lakukan
terang-terangan sehingga saya berhak di ghibah dan layak di tahdzir ? Apakah
saya memperkosa istri-istri kalian terang-terangan ? Apakah saya melakukan
kawin sesama jenis di depan umum dan berbangga dengannya ? Apakah saya
melakukan zina di pinggir pasar ? Apakah saya menghisab sabu-sabu sambil selfie
lantas fotonya saya upload di medsos ? Apakah saya membuka toko kaset porno dan
menjualnya secara terang-terangan di tengah masyarakat ? atau apakah saya
memperkosa kucing tetangga dan berbangga dengannya ?
Lantas, maksiat dan dosa besar apa
yang saya lakukan secara terang-terangan sehingga saya halal di ghibah ?? Yaa
Allah yaa rabb, ampunkanlah segala dosa hambamu ini, maafkanlah segala
kesalahan hamba, tutuplah aib-aib hamba, berilah hamba ampunanmu.. Tunjukkanlah
kezaliman orang-orang yang zalim dan timpakanlah pada mereka azab-Mu yaa Rabb …
aamiin yaa mujibssaa-iliin…
** Siapakah Abu Husein
At-Thuwailibi ?? Apakah ia seorang missionaris kristen yang kerjanya
memurtadkan kaum muslimin di gunung kidul hingga mesti di waspadai ?
** Atau ia seorang Yahudi yang di
susupkan zionis untuk memecah belah ummat manusia di republik indonesia ??
** Ataukah Abu Husein
At-Thuwailibi adalah tangan kanan BNPT yang dipelihara Badan Intelijen Negara
guna melemahkan semangat jihad para aktivis muslim untuk menegakkan
Undang-Undang Syari’ah di bumi pertiwi ?
** Ataukah Abu Husein
At-Thuwailibi itu adalah seorang jelmaan dajjal yang membawa ummat manusia ke
pintu neraka ?
** Lalu, siapakah Abu Salma itu ?
Apakah ia seorang Ulama kibar ? ataukah ia seorang Professor dalam ilmu hadits
?
Demikian pula Andy Bangkit Abu
Tholib, apakah dia seorang ‘alim kabiir ? ataukah ia seorang Ulama pembawa
bendera Jarh Wa Ta’diil ?
Ikhwah, sebenarnya saya tidak
ingin menyusun tulisan ini. demi Allah, Demi Allah, demi Allah, tidak ada
keinginan hati untuk menulis seperti ini. Hanyut dalam fitnah semu yang telah
lama membudaya. isinya kosong tak berfaedah. Yang ada hanyalah menimbulkan
prasangka dan berujung dosa. para sahabat saya pun menasehati untuk
mengabaikannya dan berserah diri kepada Allah. Namun layaknya manusia biasa
yang di cipta bukan dari cahaya, ditambah batin ini juga tidak tahan dan merasa
sesak dengan fitnah yang mereka hembuskan, memaksa saya untuk memberi
klarifikasi. Menanyakan benar tidaknya “tahdziran” itu dan seterusnya. . Perih
hati ini menerima celaan dan makian dari mereka yang mengklaim sebagai “Salafi
Sejati”. Bukan saya malah berubah dan memperbaiki diri, justru saya semakin
benci pada mereka. Mereka, katanya mengeluhkan akhlaq saya, padahal mereka
sendiri memakan daging saya dengan cara jahiliyyah seperti ini, bahkan sampai
berdusta atas nama sejumlah Ustadz, apakah itu akhlaq ?
Dan Allah Ta’ala befirman:
وَجَزاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُها
“Dan balasan keburukan adalah
keburukan yang setimpal.” (QS. Asy-Syura: 40)
Demi Allah akhi, dengan merasa
terpaksa saya susun risalah ini guna memberikan tanggapan terhadap
testimoni-testimoni yang katanya “tahdzir” para asatidzah itu.
Dalam artikel itu, ditampilkan
sekumpulan perkataan/testimoni -yang katanya- dari asatidzah.
Nah, kemudian di beberapa
broadcast malah bertambah yang mentahdzir, di urutan paling awal:
1. Ustadz Ahmad Rofi’i: “Dia pernah
ana masukkan ke grup WA kita, tapi karena kasar maka ana keluarkan. Dia ngaku
murid ana, padahal ana (mungkin lupa) dia di majlis apa dia ikut talim ana.”
2. Sukpandiar Idris SH: “Saya
bersaksi ketemu si Ahat ini pada 20 Ramadhan 1436H / 7 Juli 2015, di RS Polri
RM Soekanto, Jaktim. Pas ada ikhwan yang mengenalkan: ‘Ini Pak Advokat S’, Dia
langsung bilang: ‘Nggak kenal!’. Padahal setelah ia memukul ‘I’, cukup lama
telpon ahsi dan dia begitu cemas bila dilaporkan. Tiba-tiba ia minta ma’af.
Kedua saat Ustadz NAI meruqyah, dia mau ikutan, seakan-akan pahlawan
kesiangan.. alhamdulillah dicegah Ustadz NAI.”
3. Ust Abul Jauza Dony Arif Wibowo:
“dia itu tukang kibul, ngakunya akun facebook di hack, tapi bisa muncul lagi
muncul lagi. Ini anak mesti di bawa ke rumah sakit jiwa”.
Demikianlah broadcast yang saya
dapatkan.
TANGGAPAN:
1. Demi Allah akhi, saya tidak kenal
dengan nama-nama ustadz itu. tidak pernah bertemu, tidak pernah bertatap muka
dan tidak pernah bicara langsung. dari daftar para ustadz itu yang saya tahu
dan pernah ketemu langsung hanya satu dua orang saja. Dan saya belum yakin itu
perkataan mereka. Saya curiga itu hanya mencatut nama mereka, sama seperti
perbuatan cabul Syaikh Idahram yang mencatut nama KH.Muhammad Arifin Ilham.
jadi, orang cerdas itu tidak akan langsung percaya.
Kalaupun benar itu adalah
perkataan Ustadz -ustadz tersebut, saya belum yakin yang bersangkutan
mengizinkan untuk disebarluaskan di media sosial. Bisa jadi itu hanya
testimoni-testimoni yang disampaikan individu ke indivudi lantas di kumpulkan
kemudian disebarkan oleh pemgangguran tukang fitnah. tujuannya bukan untuk
MENASEHATI, tapi untuk MEMBULLY DAN MENJATUHKAN HARGA DIRI. Karena setahu saya
ustadz-uatadz tersebut adalah orang-orang yang wara’, taqwa kepada Allah dan
mustahil menjatuhkan kehormatan saudaranya sesama muslim. Karena disadari atau
tidak, ini adalah GHIBAH murni. Bukan tahdzir syar'i.!
2. Kemudian testimoni Ust Abu Ghazy
As-Sundawy yang mengatakan bahwa saya adalah “khawarij”, sama dengan Syi’ah.
Pertanyaan saya:
khalifah mana yang saya berontak ?
Orang islam mana yang saya kafirkan ? Dosa besar mana yang saya anggap
kekufuran ? Orang islam mana yang saya tumpahkan darahnya ?
Kok semudah itu memvonis seorang
muslim sebagai “khawarij” ?? Ini perkataan seorang ustadz atau preman jalanan ?
Kalau lah saya tidak mengakui
Jokowi dengan sistem pemerintahan yang sekuler berasaskan pada undang-undang
penjajah sebagai Ulil Amri Syar’i, lalu anda anggap saya khawarij, maka saya
katakan ANDA ADALAH MURJI’AH.!
Demi Allah yang jiwaku berada di
genggamannya, saya berlepas diri dari manhaj khawarij. Saya berlepas diri dari
manhaj khawarij yang gampang mengkafirkan orang, dan saya juga berlepas diri
dari manhaj murji’ah yang meyakini bahwa seseorang menginjak Al-Qur’an tidak
kafir asal tidak istihlal.
3. Perkataan yang di klaim sebagai
perkataan Ust Musyaffa Ad-Darini bahwa ia khawatir kalau saya adalah Seorang
Syi’i (syi’ah) yang disusupkan untuk membenturkan salafi dan syiah agar syiah
punya alasan utk menghakimi salafi.
Saya membaca perkataan ini merasa
heran. Tampak sekali tahdzir murah yang memang sengaja di buat oleh para
pengangguran yang kurang kerjaan.
Komentar saya, ini nasehat atau
su’uzhon ?
Ini ‘tahdzir’ ilmiah atau buruk
sangka ?
Bagaimana bisa seorang Abu Husein
At-Thuwailibi yang katanya “bodoh” dan “ruwaibidhoh”, di susupkan Syiah agar
membenturkan Salafi dengan Syiah ? lelucon apa lagi ini ? Syuf, tanpa Abu
Husein At-Thuwailibi pun ya dari zaman Suharto sampai zaman Susilo Bambang
Yudhoyono yang namanya Salafi sudah berbenturan dengan Syiah ?! Buat apa
repot-repot pakai nyusupin Abu Husein At-Thuwailibi ?
perlu di catat, ini bukan tahdzir,
tapi buhtan (menuduh seorang muslim dengan keji tanpa bukti).
4. Perkataan yang disandarkan atas
nama Ustadz Ahmad Rafi’i. Ini juga kedustaan. Ustadz Ahmad Rofi’i baru pulang
umroh dan berhubungan baik dengan saya. Bahkan beliau menghadiahkan Syimagh
(gutroh saudi) dan tob saudi ke saya dari madinah. Ketika saya telfon terkait
tahdzir itu, beliau menjawab bahwa beliau tidak merasa mengatakan itu. Beliau
tidak kenal Abu Salma, beliau juga mengaku tidak kenal dengan manusia bernama
Andy Bangkit.
5. Anehnya, di tambah lagi tahdzir
dari seorang pengacara yang di klaim bertemu saya di rumah sakit, namanya
Sukpandiar Idris SH, dia mengatakan:
“Saya bersaksi ketemu si AHAT ini
pada 20 Ramadhan 1436H / 7 Juli 2015, di RS Polri RM Soekanto, Jaktim. Pas ada
ikhwan yang mengenalkan: ‘Ini Pak Advokat S’, Dia langsung bilang: ‘Nggak
kenal!’. Padahal setelah ia memukul ‘I’, cukup lama telpon ahsi dan dia begitu
cemas bila dilaporkan. Tiba-tiba ia minta ma’af. Kedua saat Ustadz NAI
meruqyah, dia mau ikutan, seakan-akan pahlawan kesiangan.. alhamdulillah
dicegah Ustadz NAI.”
Tanggapan saya, ya emang saya
nggak kenal dengan ini orang. Masak nggak kenal harus saya bilang kenal. Yaa
salaam…!??
Ceritanya begini, saya menelfon
seorang pengacara, itu atas arahan seorang teman, setelah terjadi konflik di
masjid raya bogor terkait kasus Idahram. tapi si teman ini tidak memberi tahu
siapa nama pengacara itu, hanya memberi no tlfn dan mengatakan “tlfn no ini, ia
seorang pengacara pembela Sunnah”. akhirnya saya tlfn, bertanya tentang hukum
ini dan hukum itu. Eh qadarullah sang pengacara ini ketemu dengan saya di rumah
sakit polri saat menjenguk oknum yang mengaku mantan Syi'ah. Lalu ada orang
yang mengenalkan saya sambil berjabat tangan seraya mengatakan, “ini kenalkan
namanya pak Advokat S”. “Oh , naam, saya nggak kenal..” sahut saya seraya menjabat
tangannya. Lantas si pengacara menimpali, “antum Abu Husein ya”. Lantas saya
jawab, “iya pak saya Abu Husein”. “Saya yang antum telfon waktu itu mengenai
Idahram, dst…” kata dia.
Lantas saya pun tertekun dan
berkata, “…oh masya’ Allah bapak to yang saya telfon, yang pengacara itu ya.
iya iya terimakasih pak. Maaf ya pak ana tidak kenal bapak sebelumunya. Maasya’
Allah, sekali lagi ma’af ya pak”.
Begitulah ceritanya.
Lah saya memang nggak kenal. Lah
kok dia sewot karena saya bilang nggak kenal. Sampai-sampai ikut bikin
testimoni segala atas nama “tahdzir” !? Tahdzir apaan in coba ? Coba dong
berfikir dengan akal sehat yaa akhi… tahdzir apaan ini ? Yang di tahdzir siapa
dan yang mentahdzir siapa ?! La haula wala quwwata illa billah..!?
Kemudian, pengacara itu berkata:
“Kedua saat Ustadz NAI meruqyah,
dia mau ikutan, seakan-akan pahlawan kesiangan.. alhamdulillah dicegah Ustadz
NAI.”
Tanggapan saya. begini ceritanya,
waktu oknum yang kami jenguk di rumah sakit itu di ruqyah oleh Ustadz NAI, saat
Ustadz NAI membacakan ayat, ia teriak histeris, satu ruangan waktu itu kaget
(termasuk saya dan Ustadz Syawqi). lantas karena kaget, maka spontan saya dan
ustadz Syawqi turut membaca ayat, kemudian ustadz NAI menegur, “Cukup ana saja
yang baca, yang lain jangan baca dulu agar fokus pada satu bacaan”. Lantas kami
pun diam. Begitulah ceritanya.
masa' membaca ayat Al-Qur’an di
anggap sebagai “pahlawan kesiangan”. !?
Apakah Membaca Al-Qur’an merupakan
“dosa besar” sehingga orang itu harus di “tahdzir” ? Ini ajaran dari mana ?!
Kayaknya salah terus saya ya ?
Cobalah anda berfikir akhil kariim, ini kah yang disebut nasehat ?? Nasehat apa
? Mana ? mana nasehatnya?
Saya sebagai orang bodoh sudah
bisa menilai kalau ini bukan nasehat, tapi ini HASAD, DENGKI, GHIBAH, DAN
BUHTAN. di bulan ramadhan masih sempat mereka melakukan hal semacam ini yaa
akhi..? Bukan mengumpulkan pahala dan mengoreksi diri, malah mengumpulkan dosa
dan kesalahan orang lain. Na’udzubillah.
6. “Tahdzir” dari Andy Bangkit Abu
Tholib, ia mengatakan:
” jangan korbankan nama baik
dakwah ini hanya karena satu orang bejat spt itu, dgn membuat dia jadi ketua
ketuaan itulah dia jadi besar kepala, sekarang sudah menempatkan diri jadi
ustadz beneran dia, ngisi seminar ttg perbankan syariah kemarin, siapa yang
akan tanggungjawab ttg isinya? siapa yang akan bertanggungjawab dia tidak
berbicara yang salah diforum itu. siapa yang tanggungjawab kapasitas ilmunya?
“.
Wahai Andy Bangkit, yang membentuk
FORUM NASIONAL SERUAN AL-HAQ itu adalah para Ulama. Tentunya para Ulama Ahlus
Sunnah, bukan ulama mulukiyyah. Dan yang memilih saya jadi ketua forum adalah
Para Ustadz yang tidak ada apa-apanya dibanding anda. diantara yang memilih
saya jadi ketua forum adalah seorang ketua ikatan da’i dan ulama se-asean,
Ust.DR.Muhammad Zaitun Rasmin,Lc.MA. ketua umum Wahdah Islamiyah. Ormas islam
yang menurut kelompok anda adalah izbiyyah, ahli bid’ah,dst. Ini bukan pamer,
tapi sekedar informasi buat anda agar anda bisa menahan lisan.
Demikian pula yang meminta saya
mengisi seminar perbankan Syariah adalah Ustadz AMDK. beliau adalah seorang
Praktisi perbankan syariah yang di tahdzir juga oleh guru-gurumu karena
dianggap syubhat.?! Kok jadi anda yang sewot ?
Ini “tahdzir” atau iri dengki ?
Kenapa orang lain dakwah, andy
bangkit yang sewot ? Perasaan, saya tidak pernah sedikitpun sewot dengan Andy
Bangkit dan tidak pernah mengusik lahan dakwahnya. Gelarnya yang Profesor tidak
mampu untuk memberikan perkataan yang berkelas.
Dia berkata lagi:
”siapa yang akan bertanggungjawab
dia tidak berbicara yang salah diforum itu. siapa yang tanggungjawab kapasitas
ilmunya? “
Siapapun, yang namanya manusia,
pasti bersalah. Tapi sudah pasti kesalahan Abu Husein At-Thuwailibi bukanlah
Andy Bangkit yang mempertanggung jawabkannya. Lantas, mengapa dia yang heboh ?
Bagaimana bisa Andy Bangkit ini
menghukumi bahwa saya tak punya kapasitas ilmu untuk mengisi seminar bank
syariah sementara ia sendiri tidak hadir dalam acara seminar itu !?? Jibril mana
yang mewahyukan kepadanya tentang isi seminar saya ?
Andy Bangkit ini memang sudah
sejak lama memfitnah para Ulama. Tidak hanya itu, ia pun pernah terlibat
konflik dan debat dengan Ustadz Farid Nukman Hasan. Diantara kejahilan Andy
Bangkit ini ialah tentang gelar Imamul A’zham bagi imam Abu Hanifah. Andy
Bangkit ini pernah mengingkari gelar ini karena dia anggap bukan khalifah.
padahal Imamul A’zham memang eksis sebagai gelar Abu Hanifah bahkan Imam
Asy-Syafi’i Rahimahullah.
Allahu A’lam.
7. Abu Salma. Siapakah Abu Salma ?
Abu Salma alias Muhammad Rachdi
Pratama. dulu di belakang kun-yah nya pakai nama “Al-Atsary”. Pria berdarah
ternate ini seorang mujadil, hobi debat. Dia suka mencaci maki para ulama yang
sudah meninggal. Sehingga saya merasa maklum, bila ulama-ulama yang sudah
meninggal saja ia caci maki, apalagi saya yang masih hidup. Wajar.
Imam Ibnu ‘Asâkir berkata,
إِن لُحُوم الْعلمَاء رَحْمَة اللَّه
عَلَيْهِم مَسْمُومَة وَعَادَة اللَّه فِي هتك أَسْتَار منتقصيهم مَعْلُومَة لِأَن
الوقيعة فيهم بِمَا هم مِنْهُ برَاء أمره عَظِيم والتنَاول لأعراضهم بالزور والافتراء
مرتع وخيم والاختلاق على من اخْتَارَهُ اللَّه مِنْهُم لنعش الْعلم خلق ذميم
“Sesungguhnya daging-daging para
ulama -semoga Allah merahmati mereka- adalah beracun. Kebiasaan Allah yang
menghinakan para penoda kehormatan mereka (ulama) adalah suatu hal yang telah
dimaklumi. Sebab, mencela mereka dalam hal yang mereka berlepas darinya adalah
perkara yang sangat besar, menjamah kehormatan mereka dengan kepalsuan dan
kebohongan adalah persemaian yang jelek, dan kedustaan terhadap orang yang
Allah pilih guna menyandang ilmu adalah akhlak tercela.”
Saking buruknya perangai Abu Salma
ini dan betapa kotor lisannya, ia pernah di usir dari sebuah majelis oleh
seorang Ustadz di malang. Bukan hanya itu, Abu Salma alias Muhammad Rachdi
Pratama ini juga sempat terlibat konflik dengan Al-Ustadz Abu Abdurrahman
At-Thalibi, sampai-sampai Ustadz Abu Abdurrahman At-Thalibi ini menulis buku
khusus untuk membantah syubhat dan kesesatan Abu Salma dengan judul “Dakwah
Salafiyah Dakwah Bijak”.
Dikalangan Salafi, Abu Salma ini
di anggap sebagai pemecah belah dan durhaka pada da’i Salafi. Anda bisa simak
disini:
Kemudian, bukan hanya itu, ia juga
sempat melakukan tuduhan dan kedustaan terhadap seorang Ulama, bisa anda baca
disini:
Satu hal yang menarik, Abu Salma
ini adalah seorang yang tidak memiliki kapasitas ilmu bahasa Arab. Dia tidak
bisa bahasa arab. Berbahasa indonesia saja ia kesusahan, apalagi berbahasa
arab. Seorang pendusta yang di dustakan. Bagaimana bisa ia katakan saya sebagai
“Ruwaibidhoh”, lah wong dikalangan Salafi dirinya sendiri dianggap RUWAIBIDHOH.
Moso' ruwaibidhoh teriak “ruwaibidhoh” !?
Bahkan, dalam situs Salafi, Abu
Salma ini di masukkan dalam kelompok gerakan “kanibalisme”, anda bisa baca di
sini:
8. Abul Jauza' mirip Syaikh
Idahram.
Adapun Abul Jauza alias Dony Arif
Wibowo, ia adalah seorang PENIPU. dusta dan hobi memanipulasi perkataan para
‘Ulama. Khususnya Ulama’ A-immatu dakwah an-najdiyyah. Itu sudah maklum dari
dulu. Bagi orang yang cerdas dan cermat, silahkan simak berbagai kedustaannya
atas nama para Ulama tatkala membahas bab Iman, Kufur, Tauhid, dan Syirik.
Tidak jarang ia memanipulasi atas nama Ulama dan memotong-motong perkataan para
Ulama. Persis kebiasaan Idahram alias Marhadi Muhayyar.
Berbagai kebohongan dan penipuan
publik yang dilakukan Abul Jauza alias Dony Arif Wibowo ini, diantaranya
menerjemahkan perkataan para Ulama dengan terjemahan yang ngawur dan sesuai
kepentingan aqidah murji’ahnya. Hal itu sudah sering di singkap oleh para
Ustadz dan sejumlah penuntut ilmu, diantaranya Ustadz Abdurrahman Abu
Nahdhiyyah,S.Kom -Hafizhahullah-. Sehingga wajar Abul Jauza alias Dony Arif
Wibowo ini pun di juluki sebagai MUSUH DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDIL WAHAB
AT-TAMIMI. terjemahannya terhadap perkataan Ulama sempat di salahkan oleh
Ustadz Musa Mulyadi dan menghimbau agar ia belajar bahasa arab lagi. belum lagi
gaya nya yang sok ilmuan mendebat Idrus Romli dengan berbicara sanad hadits kemudian
memvonis syirik orang yang menyebut “Yaa Muhammad” ketika sakit. Betapapun
bukan kelasnya dia berbicara itu, namun ia berlagak bagaikan pakar hadits. Dan
ini adalah musibah.
Disitus Salafi, Abul Jauza alias
Doni Arif Wibowo ini pun di kecam sebagai Sururi yang penuh propaganda, di
anggap sebagai penganjur demokrasi. Silahkan anda baca disini:
Kesimpulannya, Tiga orang ini,
yakni Andy Bangkit, Abu Salma, dan Abul Jauza alias Dony Arif Wibowo adalah
tukang tipu, sama seperti Idahram. kalau Idahram itu Syiah berbaju NU,
sedangkan ketiga orang ini (Andy Bangkit, Abu Salma, dan Abul Jauza’) adalah Mulukiyyah
neo-Murji’ah yang berbaju Salafi. Ini yang tidak di ketahui banyak orang.
Allahu A'lam.
[at/headlineislam.com]


