“Jihad yang paling utama adalah
menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi,
dan Ibnu Majah)
Tahun 1993, waktu itu Syekh Ali
Al-Qatthan sedang berdoa di Masjid Nabawi di Madinah. Beliau terkejut ketika
menemukan Husni Mubarak memasuki ruang shalat.
“Itu adalah kejadian yang terjadi
secara tiba-tiba, saya tidak merencanakan ini,” kata Syekh Qatthan di sebuah
acara Televisi Mesir “Al-Haqiqa” (Kebenaran) pekan ini.
“Setelah kami selesai berdoa, saya
berbalik dan melihat presiden. Apa yang terjadi betul-betul aneh, para ajudan
mengosongkan sebagian besar ruangan shalat hanya untuk jalan masuk Hosni
Mubarak. Dia memiliki pengawal di sekelilingnya yang bersenjata; semuanya
berwajah sangar dan membuat suasana masjid tidak nyaman.”
Kemudian, Syekh Qatthan berdiri
dan berjalan mendekati mantan presiden, lalu berkata kepadanya, “Takutlah kamu kepada
Allah!” Beliau mengatakan hal itu dengan memajang muka marahnya sebagaimana
kebengisan Mubarak dalam memimpin negara.
Pada waktu itu Syekh Qatthan
menjelaskan, “Pasukan keamanan berkeliaran di jalan-jalan Mesir dan secara acak
menembak warga Mesir.”
Syekh Qatthan kemudian berkata,
“Husni Mubarak tampak gelisah. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, memanggil
pengawalnya. Penjaga segera menangkapku dengan kasar dan mengelilingi Mubarak,
mendorong dia cepat keluar dari ruang shalat. Saya kemudian mengerti, dia takut
akan adanya kontak fisik lebih lanjut. Kemudian, para penjaga menutup mulutku
dengan tangan mereka, berusaha menghentikanku agar tidak mengatakan apa-apa
lagi. Tapi, saya tidak berencana untuk itu. Mereka membawaku keluar dari aula,
bahkan tidak memberiku kesempatan untuk memakai sepatu. Mereka meraba seluruh
tubuhku untuk mencari bom atau senjata. Ketika mereka tidak menemukan apa-apa,
seorang petugas mengatakan kepadaku, ‘Anda mempermalukan kami. Anda harus
memberitahu Mubarak tentang itu di Mesir’.”
Syekh Qatthan menjawab, “Kita
berada di masjid milik seluruh umat Islam sedunia, dan itu adalah hak saya
untuk menyampaikan tentang agama di masjid.”
Syekh Qatthan dibawa dari Madinah
ke provinsi Jeddah untuk diinterogasi. Dia diseret turun dengan rantai 10 kg
dan bola di kaki, sementara beliau berjalan dari bandara ke pesawat.
Setelah diperiksa di Arab Saudi,
unit Pasukan Keamanan Nasional Mesir datang untuk membawanya kembali ke Mesir.
Syekh Qatthan menuturkan, “Saya
diperlakukan seperti seorang teroris. Mereka mengikatku dengan beberapa rantai
dan borgol. Bahkan, mereka ingin menenangkanku, dengan memaksa saya untuk minum
obat penenang. Tapi, saya mengatakan kepada mereka bahwa saya berpuasa dan
tidak minum apa-apa.”
Mantan petugas lapas di penjara
Syekh Qatthan ditahan, Mayor Jenderal Ibrahim Abdul Ghaffar, menggambarkan
bagaimana Syekh Qatthan diperlakukan selama penahanannya. Ia menuturkan,
“Selama bertahun-tahun Syekh Qattan dikurung di sel isolasi dan tidak diizinkan
untuk dikunjungi kecuali atas izin menteri dalam negeri. Saya memutuskan untuk
membawanya keluar dari ruang di mana beliau dikunci, dan setiap hari saya akan
mengatakan kepadanya untuk datang ke kantorku, di mana ia bisa duduk denganku
dan minum teh. Saya tahu beliau sedang dizalimi.”
Selama wawancara di televisi,
Syekh Qatthan menyebutkan bahwa dalam sejarah Islam, ucapan “Bertakwalah
(takutlah) kepada Allah” sering diucapkan oleh rakyat kepada seorang khalifah
(pimpinan negara). Bahkan, para khalifah Islam dahulu meminta rakyatnya untuk
menasihati dirinya supaya bertakwa kepada Allah. Dan ketika mereka mendengar
ucapan itu dari rakyatnya, mereka tidak marah seperti yang dilakukan Mubarak,
bahkan mereka senang dengan nasihat tersebut.”
Syekh Qatthan benar, pemimpin yang
baik adalah yang sangat senang ketika ada dari rakyatnya yang berdiri dan
memberinya nasihat. Seperti yang dicontohkan pada kisah Amirul Mukminin Umar
bin Khattab
Suatu hari Khalifah Umar bin
Khatthab berdiri dan menyampaikan pidato, beliau berkata, “Wahai manusia, siapa
pun di antara kalian yang melihat penyimpangan dalam diriku, maka luruskanlah.”
Kemudian, seorang pria berdiri dan
berkata, “Demi Allah, jika kami melihat penyimpangan pada diri Anda, kami akan
meluruskannya dengan pedang kami.”
Umar berkata, “Segala puji Allah
yang telah memasukkan ke dalam rakyatku seseorang yang akan meluruskan
penyimpangan yang dilakukan Umar dengan pedangnya.”( Dr Muhammad As-Sallabi,
Umar bin Khattab)


