Oleh : Arief Siddiq Razaan
Headlineislam.com – “Mas, kalau
punya mata dijaga ya! Ngapain jelalatan begitu? Nggak pernah lihat cerwek
cantik pakai rok mini? Makanya sering piknik, jangan cuma baca buku di
perpustakaan saja,” celoteh perempuan seksi pada seorang pemuda.
“Mbak, kalau punya tubuh dijaga
ya! Ngapain diobral gratis begitu? Nggak pernah bisa dapat cowok tanpa
mengandalkan rok mini ya? Makanya belajar biar nggak cuma modal seksi tapi juga
modal pintar, jangan cuma keluyuran saja,” jawab pemuda itu dengan santai.
“Eh! Urusan saya mau jaga tubuh
atau tidak. Lagian siapa yang obral coba? Aku berpakaian begini karena tuntutan
kerja. Dasar kurang pergaulan. Ini mengikuti perkembangan zaman. Emang situ
saja yang mata keranjang, mata jelalatan.”
“Eh! Urusan saya mau lihat siapa
saja. Lagian siapa suruh situ lewat di depan saya, itu sama saja ngobral untuk
dilihat. Dasar kurang pengetahuan. Zaman purbakala pakaian nyaris telanjang itu
sudah ada. Emang situ aja yang mata buta, mata hati tertutup iblis.”
“Hargai wanita, kalau bicara sopan
ya! Sudah jelas salah karena menatap wanita dengan pandangan penuh nafsu, masih
saja tidak mengaku. Dasar munafik!”
“Hargai lelaki, kalau dinasihati
dengarkan ya! Sudah jelas salah berpikir karena saya menatap Anda karena jijik,
masih saja belagu. Dasar syirik, membunuh, durhaka kepada orang tua sekaligus
munafik!”
“Apa katamu? Jangan seenaknya
menyebutku syirik ya. Aku masih percaya Tuhan itu ada dan tidak
mempersekutukannya!”
“Tabiatmu merupakan bentuk syirik
yang tersembunyi yaitu ketika hati dan akal pikiran seseorang dipenuhi oleh
dunia. Akal pikirannya, badan, tidur dan bangun semua hanya untuk dunia, ia
selalu berusaha mencari dunia tidak peduli halal atau haram karena ia telah
diperbudak dunia. Lihat, sudah tahu berpakaian nyaris tejanjang itu sangat
dibenci Allah, haram hukumnya. Lalu mengapa dilakukan? Alasan tuntutan kerja,
bukankah itu bukti mempersekutukan takdir Allah perihal rezeki yang seolah
tidak lebih hebat daripada mengandalkan rok mini?”
“Ah, terlalu mengada-ada alasanmu
itu! Terus… kenapa pula aku kau sebut pembunuh?”
“Makanya jangan cuma sibuk piknik,
baca koran juga. Kemarin ada kakek-kakek yang meninggal, gara-gara penyakit
jantungnya kumat akibat melihat perempuan menggunakan rok mini terlalu ketat.
Tahu apa yang dikatakan saksi mata, mereka menyebut nama perempuan itu dengan
inisial yang menjurus namamu. Jadi, dirimu itu sudah melakukan pembunuhan
secara tidak langsung.”
“Udah waktunya mati mungkin, itu
sudah takdir! Kemudian atas dasar apa kau menyebutku durhaka pada orang tua?”
“Yaa Allah, jangan menyalahkan
takdir! sekiranya dirimu tidak nyaris telanjang begitu, In syaa Allah keadaan
kakek tua itu akan baik-baik saja. Aku mau tanya, waktu SMP atau SMA apa orang
tuamu mengajarkan agar dirimu berpakaian nyaris telanjang? Pasti tidak boleh,
kalau tidak boleh berarti dirimu sudah durhaka pada orang tua.”
“Sok tahu. Emang situ kenal orang
tuaku? Huh! Tadi menyebutku munafik pula, apa maksudmu?”
“Aku itu kenal orang tuamu, beliau
pernah curhat tentang kelakuan anaknya yang kelewat batas. Beliau yang minta
tolong supaya diriku menegurmu, jadi dirimu bukankah munafik tidak mengakui
nasihat yang sudah diajarkan orang tuamu?”
Perempuan itu terdiam, tak mampu
lagi menghindar. Wajahnya pucat pasi, dirinya tidak menyangka hanya karena
pakai rok mini sudah melakukan empat dosa besar yang dilaknat Allah.
Dari itu, waspadalah kepada
pengguna rok mini. Jangan-jangan secara tidak langsung Anda adalah salah satu
pelaku yang memiliki empat dosa besar tersebut. Segeralah bertobat sebelum maut
menjemput! (ip/headlineislam.com)


