مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ
عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan fitnah
(cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki melebihi cobaan wanita.” [HR.
Al-Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’ahuma]
Beberapa Pelajaran:
1) Hadits yang mulia ini jelas
mengingatkan bahwa wanita adalah cobaan yang paling berbahaya bagi kaum lelaki.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata;
وَفِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْفِتْنَةَ
بِالنِّسَاءِ أَشَدُّ مِنَ الْفِتْنَةِ بِغَيْرِهِنَّ وَيَشْهَدُ لَهُ قَوْلُهُ تَعَالَى
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ فَجَعَلَهُنَّ مِنْ حُبِّ الشَّهَوَاتِ
وَبَدَأَ بِهِنَّ قَبْلَ بَقِيَّةِ الْأَنْوَاعِ إِشَارَةً إِلَى أَنَّهُنَّ الْأَصْلُ
فِي ذَلِك
“Dalam hadits ini ada pelajaran
bahwa fitnah wanita lebih dahsyat dari yang lainnya, dan itu dipersaksikan oleh
firman Allah ta’ala;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ
مِنَ النِّسَاءِ
“Dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini (syahwat), yaitu:
wanita-wanita…” (Ali Imron: 14)
Maka Allah menjadikan para wanita
bagian dari kecintaan lelaki terhadap syahwat, dan Allah memulai dengan
penyebutan wanita sebelum berbagai bentuk syahwat yang lain, sebagai isyarat
bahwa para wanita adalah pokok dalam hal tersebut.” [Fathul Baari, 9/138]
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengingatkan;
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ،
وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا
الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ
فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan
hijau, dan sesungguhnya Allah menguasakannya kepada kalian, lalu Allah melihat
bagaimana kalian beramal, maka takutlah kepada cobaan dunia dan takutlah kepada
cobaan wanita, karena fitnah (cobaan) pertama yang menimpa Bani Israil adalah
pada wanita.” [HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu]
2) Wajib berhati-hati dan menjauhi
fitnah wanita, tidak boleh merasa aman. Al-‘Allamah Al-Faqih Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah
berkata;
وإخبار النبي صلى الله عليه وسلم بذلك
يريد به الحذر من فتنة النساء، وأن يكون الناس منها على حذر؛ لأن الإنسان بشر إذا عرضت
عليه الفتن، فإنه يخشى عليه منها.
“Maksud pengabaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini adalah agar
berhati-hati dari godaan wanita, dan manusia hendaklah selalu waspada, karena
manusia hanyalah orang biasa, apabila diperhadapkan kepada cobaan maka
dikhawatirkan ia akan terjerumus.” [Syarhu Riyadhus Shaalihin, 3/151]
3) Wajib menutup semua pintu fitnah
dari kedua belah pihak, baik laki-laki maupun wanita;
·
Kaum lelaki diperintahkan menjaga pandangan,
·
Kaum wanita diperintahkan untuk berhijab;
menutup aurat,
·
Dilarang bercampur baur antara lelaki dan
wanita.
Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah
berkata;
ويستفاد منه سد كل طريق يوجب الفتنة
بالمرأة، فكل طريق يوجب الفتنة بالمرأة؛ فإن الواجب على المسلمين سده، ولذلك وجب على
المرأة أن تحتجب عن الرجال الأجانب، فتغطي وجهها، وكذلك تغطي يديها ورجليها عند كثير
من أهل العلم، ويجب عليها كذلك أن تبتعد عن الاختلاط بالرجال؛ لأن الاختلاط بالرجال
فتنة وسبب للشر من الجانبين، من جانب الرجال ومن جانب النساء.
“Dapat dipetik pelajaran dari
hadits ini untuk menutup semua jalan yang memunculkan fitnah dengan wanita,
maka setiap jalan yang memunculkan fitnah dengan wanita wajib bagi kaum
muslimin untuk menutupnya, makanya wajib bagi seorang wanita untuk berhijab dari
laki-laki non mahram, hendaklah ia menutup wajahnya, demikian pula menutup
kedua tangan dan kakinya menurut pendapat banyak ulama. Demikian pula wajib
atas seorang wanita untuk menjauhi ikhtilat (campur baur) dengan kaum lelaki,
karena ikhtilat dengan kaum lelaki adalah cobaan dan sebab terjerumus dalam
kejelekan dari kedua belah pihak, baik dari pihak lelaki maupun wanita.”
[Syarhu Riyadhus Shaalihin, 3/151-152]
4)
Fitnah
terjelek wanita adalah ketika menyibukkan kaum lelaki dengan dunia dan lupa
akhirat. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menukil dari sebagian ahlik
hikmah bahwa mereka berkata;
النِّسَاءُ شَرٌّ كُلُّهُنَّ وَأَشَرُّ
مَا فِيهِنَّ عَدَمُ الِاسْتِغْنَاءِ عَنْهُنَّ وَمَعَ أَنَّهَا نَاقِصَةُ الْعَقْلِ
وَالدِّينِ تَحْمِلِ الرَّجُلِ عَلَى تَعَاطِي مَا فِيهِ نَقْصُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ
كَشَغْلِهِ عَنْ طَلَبِ أُمُورِ الدِّينِ وَحَمْلِهِ عَلَى التَّهَالُكِ عَلَى طَلَبِ
الدُّنْيَا وَذَلِكَ أَشَدُّ الْفَسَادِ وَقَدْ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي
سَعِيدٍ فِي أَثْنَاءِ حَدِيثِ وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي
إِسْرَائِيل كَانَت فِي النِّسَاء
“Wanita itu jelek seluruhnya, dan
sejelek-jeleknya yang ada pada wanita adalah ketidakmampuan kaum lelaki tanpa
wanita, dan meski wanita kurang akal dan agama, namun ia bisa membawa laki-laki
terjerumus dalam kekurangan akal dan agama tersebut, seperti disibukkannya
seorang lelaki dari mengejar amalan-amalan agama dan terbawa pada pembinasaan
diri dalam mengejar dunia, dan itu adalah kerusakan terbesar.
Al-Hafizh berkata: Dan Al-Imam
Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu,
di pertengahan hadits:
وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ
فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيل كَانَت فِي النِّسَاء
“Dan takutlah kepada wanita,
karena fitnah (cobaan) pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada wanita.”
[Fathul Baari, 9/138]
5) Setan-setan manusia dan jin
memanfaatkan kaum wanita sebagai senjata penghancur kaum muslimin. Al-‘Allamah
Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata;
ولهذا كان أعداؤنا- أعداء الإسلام- بل
أعداء الله ورسوله من اليهود والنصارى والمشركين والشيوعيين وأشباههم وأذنابهم وأتباعهم
كل هؤلاء – يحرصون غاية الحرص على أن يفتنوا المسلمين بالنساء، يدعون إلي التبرج، يدعون
إلي اختلاط المرأة بالرجل، يدعون إلي التفسخ في الأخلاق، يدعون إلي ذلك بألسنتهم، وأقلامهم،
وأعمالهم، – والعياذ بالله؛ لأنهم يعلمون أن الفتنة العظيمة التي ينسي بها الإنسان
ربه ودينه إنما تكون في النساء
“Karena bahayanya godaan wanita
maka musuh-musuh kita, yaitu musuh-musuh Islam, bahkan musuh-musuh Allah dan
Rasul-Nya dari kalangan Yahudi, Nasrani, Musyrikin, Komunis dan yang semisal
dan semodel dengan mereka serta para pengikut mereka seluruhnya benar-benar
bersemangat untuk menjerumuskan kaum muslimin dalam bencana dengan senjata
wanita;
·
Mereka menyerukan kaum wanita agar
menampakkan kecantikan (tabarruj),
·
Mengajak campur baur antara laki-laki dan
wanita,
·
Mengajak kepada kerendahan akhlak,
·
Mereka mengajak kepada itu semua dengan
lisan, tulisan dan perbuatan –hanya kepada Allah kita mohon perlindungan-,
Karena mereka mengetahui bahwa
godaan besar yang dapat membuat manusia lupa dengan Rabbnya dan agamanya,
terdapat pada kaum wanita.” [Syarhu Riyadhis Shaalihin, 1/95]
6) Sungguh dahsyat daya rusak wanita,
meski ia kurang akal dan agama namun sanggunh dapat merusak seorang laki-laki
yang cerdas. Al-Faqih Ibnull ‘Utsaimin rahimahullah berkata;
النساء اللاتي يفتن أصحاب العقول كما
قال النبي عليه الصلاة والسلام: ما رأيت من ناقصات عقل ودين أذهب للب الرجل الحازم
من إحداكن .هل تريد شيئاً أبين من هذا. أذهب للب
الرجل – لعقله – الحازم، فيما بالك بالرجل المهيمن؛ الذي ليس عنده حزم، ولا عزم، ولا
دين، ولا رجولة؛ يكون أشد والعياذ بالله. لكن الرجل الحازم تذهب النساء عقله- نسأل
اله العافية-، وهذا هو الواقع لذلك قال الله تعالي عقب الأمر بغض البصر، قال: (وَتُوبُوا
إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ) النور: من
الآية31
“Para wanita yang dapat
menjerumuskan kaum lelaki yang berakal, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam;
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ
وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ
“Aku tidak melihat wanita-wanita
yang kurang akal dan agama namun sanggup menghilangkan akal yang sempurna
seorang lelaki yang cerdas dibanding kalian (wahai para wanita).” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu)
Apakah engkau masih ingin yang
lebih jelas dari keterangan ini?! Bahwa wanita meski lemah akal dan agama tapi
sanggup menghilangkan akal yang sempurna seorang laki-laki yang cerdas, maka
bagaimana lagi dengan laki-laki yang lemah akal, yang tidak memiliki kecerdasan,
kekuatan, amalan agama dan kejantanan, maka tentu akan lebih dahsyat lagi -wal’iyaadzu billaah-. Maka seorang lelaki cerdas dapat
dihilangkan akalnya oleh wanita -kita memohon keselamatan kepada
Allah-. Inilah kenyataannya, oleh karena itu Allah ta’ala berfirman
setelah memerintahkan untuk menundukkan pandangan dari lawan jenis;
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا
الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertobatlah kamu sekalian
kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur:
31).” [Syarhu Riyadhis Shaalihin, 1/95-96]
7) Bahaya ikhtilat (campur baur) antara
kaum lelaki dan wanita di sekolah-sekolah, kantor-kantor, dan lain-lain,
perbuatan itu hakikatnya adalah menuruti hawa nafsu dan ajakan setan serta
ikut-ikutan kepada orang-orang kafir. Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata;
ولا ينبغي أن يغرنا ما يدعو إليه أهل
الشر والفساد من المقلدين للكفار، من الدعوة إلى اختلاط المرأة بالرجال؛ فإن ذلك من
وحي الشيطان والعياذ بالله
“Dan tidaklah patut kita tertipu
dengan ajakan orang-orang yang jelek dan rusak dari kalangan pengikut
orang-orang kafir, yaitu ajakan untuk campur baur antara laki-laki dan wanita,
karena sesungguhnya itu dari wahyu setan -wal’iyaadzu billaah-.” [Syarhu Riyadhis Shaalihin,
3/152]
8) Karena dahsyatnya fitnah wanita,
maka inilah salah satu sebab dilarangnya seorang wanita melakukan safar tanpa
mahram. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata;
وقال ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال
من النساء فلهذا تمنع المرأة من السفر بلا محرم
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah aku
tinggalkan fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki melebihi
cobaan wanita”, karena itulah wanita dilarang melakukan safar tanpa mahram.”
[Syarhu Riyadhis Shaalihin, 4/628]
9) Demikian pula para pemuda
diperintahkan untuk segera menikah demi menjaga diri dari godaan kaum wanita.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ
البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ
لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, siapa diantara
kalian telah memiliki kemampuan hendaklah segera menikah, karena itu lebih
menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, barangsiapa belum mampu menikah
maka hendaklah ia berpuasa, karena itu akan menjadi perisai baginya.” [HR.
Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu]
10) Maka jelaslah wanita termasuk sebab
kerusakan terbesar bagi masyarakat, akan tetapi juga sebaliknya, wanita
shalihah adalah permata yang indah dan termasuk sebab kebaikan terbesar bagi
masyarakat. Bukankah
para ulama besar dan para pahlawan Islam umumnya lahir dari rahim para ibu yang
mulia dan didampingi istri-istri shalihah?! Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;
الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ
الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” [HR. Muslim dari Abdullah
bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma]


