![]() |
| Janna Jihad Ayyad |
Headlineislam.com – “Kameraku adalah senjataku. Kamera
lebih kuat ketimbang senjata. Aku dapat mengirimkan pesan kepada segelintir
orang dan mereka dapat mengirimkan kepada orang lain.”
Kalimat yang amat tegas itu keluar
begitu saja dari seorang gadis kecil bernama Janna Jihad Ayyad. Bulan ini,
usianya baru menginjak 10 tahun. Bisa dibilang, Janna ialah jurnalis termuda di
dunia yang meliput di wilayah konflik.
Janna yang menetap di desa Nabi
Saleh di Tepi Barat, wilayah pendudukan Israel melakukan peliputan dan merekam
sejumlah kejadian-kejadian pilu yang dialami oleh saudara-saudaranya.
Dalam perjalanannya, Janna semakin
menekuni dunia jurnalistik tatkala ia kehilangan sejulah anggota keluarganya,
termasuk dua saudaranya di daerah Nabi Saleh. Pamannya, Rushdie Tamimi terbunuh
setelah tentara Israel melepaskan tembakan fatal yang bersarang di ginjalnya.
Sepupunya, Mustafa Tamimi juga ikut menyusul akibat terkena serangan gas.
Pasca kejadian yang amat memilukan
itu, gadis mungil tersebut meluaskan area liputannya ke sejumlah wilayah dengan
berkunjung di tempat saudaranya. Dengan menggunakan iPhone milik ibunya, Janna
membuat video tentang situasi di Jerusalem, Hebron, Nablus, dan Yordania.
Perjalanan liputan Janna
menunjukkan bagaimana kehidupan warga yang ditahan di tempat pemeriksaan, saat
berunjuk rasa, hingga kekerasan yang dilakukan tentara Zionis kepada anak-anak
Palestina.
Sebelum menjalani kehidupan
jurnalistik, Janna bersama teman-temannya rajin mengikuti aksi demonstrasi
melawan pendudukan tentara Zionis Israel. Di video pertamanya, ia merekam jejak
peristiwa yang terjadi di desanya saat baru berusia 7 tahun.
“Tak banyak jurnalis mengirim
pesan kami -warga Palestina- ke seluruh dunia. Jadi, saya pikir kenapa bukan
saya yang mengirim pesan… dan menunjukkan kepada mereka apa yang sedang terjadi
di desa saya,” katanya.
Untuk terjun ke dunia jurnalistik,
Janna sebenarnya terinspirasi dengan sepak terjang pamannya, yang tak lain
adalah seorang fotografer yang mendokumentasikan kejahatan tentara Israel di
Nabi Saleh.
“Saya berbicara tentang apa yang
sedang terjadi. Saya melihat pendudukan, tentara, meriam, dan polisi. Mereka
melakukan banyak hal untuk memmbuat kami keluar dari tanah kami,” tegasnya
seperti dikutip dari Al Jazeera pada 28 April 2016.
Menjadi seorang jurnalis, Janna
juga aktif di media sosial, bagaimana ia memiliki akun Facebook dengan jumlah
pengikut lebih dari 22 ribu orang. Dia juga mengunggah sejumlah video
keikutsertaannya dalam aksi demonstrasi menentang pendudukan Israel dan
melaporkan hasil reportasenya dengan bahasa Arab dan Inggris.
Melihat gadis kecilnya menjadi
Jurnalis, Nawal Tamimi (ibunya) pun mengaku bangga dengan sepak terjang putri
mungilnya. “Saya bangga pada anak perempuan saya karena sejak kecil dia
berbicara tentang pesan-pesannya kepada dunia. Dia menyampaikan rasa takutnya,
apa yang dia rasakan, dan cerita kenapa ia tak bisa sekolah seperti anak
lainnya,” ungkapnya.
Bersamaan dengan rasa bangga
terhadap anaknya, ibu Janna sekaligus merasa khawatir terhadap putrinya dan
mengenang bagaimana bengisnya tentara Israel saat mendobrak rumahnya. “Saya
khawatir padanya, ketika tentara datang di tengah malam dan menyiram gas air
mata ke rumah kami, dan kami terbangun dalam kepungan asap. Mereka menyerang
kami yang berdemo menentang pendudukan Israel,” ujar Nawal.
Sementara itu, paman Janna yang
bernama Bilal mengaku sulit bila harus menerima pekerjaan yang telah dilakukan
keponakannya. “Semestinya dia bermain dan belajar, namun kami tidak punya
banyak pilihan,” paparnya.
Bilal menuturkan bahwa para
keluarga Palestina telah mengajarkan anak-anak mereka untuk tidak melakukan
penganiayaan dan tidak mendukung hal yang berbau kejam. Terkait dengan hal ini,
para keluarga juga akan mengajarkan bauh hatinya untuk “berjuang dan
memerdekakan” Palestina.
Di tengah kekhawatiran orang tua
dan keluarga atas profesinya, Janna merasa beruntung sebagai jurnalis anak-anak
ketimbang jurnalis dewasa. “Tentara (Israel, red) hanya menangkap
jurnalis-jurnalis besar dan mengambil kamera mereka,” imbuhnya.
Saat usianya menginjak dewasa,
Janna mengungkapkan keinginannya untuk bekerja di kabar berita internasional seperti
CNN atau Fox News dengan alasan, “mereka tidak pernah bicara tentang Palestina,
dan saya mau membuat liputan-liputan tentang Palestina”.
Walau telah mengenal dunia
jurnalistik, Janna tetaplah gadis kecil Palestina yang masih ingin bermain dan
belajar. Ketika ditanya mengenai dunia yang ideal, Janna mengatakan “saya mau
dunia ini berwarna pink”.



