Headlineislam.com – Sebelumnya
telah dibahas pengkhiantan Syiah kepada Ali bin Abi Thalib dan Al-Hasan binAli, dan pada sesi ketiga ini akan kita bahas “Pengkhianatan Syiah kepada
Husain bin Ali.” Selamat menikmati sejarah yang sesungguhnay dan ambillah pelajaran
darinya.
Setelah wafatnya Muawiyah Radhiyallhu Anhu pada tahun 60 H,
berpalinglah para utusan ahli Irak kepada Husain bin Ali Radhiyallhu Anhu
dengan penuh antusias dan simpati. Lalu mereka berkata kepada Husain, “Kami
telah dipenjara hanya demi engkau, dan kami juga tidak mengikuti shalat Jum’at
bersama penguasa yang ada, sehingga datanglah sang imam (Al-Mahdi) kepada kami.”
Di bawah tekanan mereka, terpaksa Husain memutuskan untuk mengirim
anak pamannya, Muslim bin Aqil untuk emngetahui keadaan yang terjadi, maka
keluarlah Muslim pada bulan Syawal tahun 60 H.
Ia tidak mengetahui telah tibanya penduduk Irak sehingga mereka
datang kepadanya, maka mulailah mereka berbaiat kepada Husain. Disebutkan,
bahwa jumlah mereka yang berbaiat sebanyak dua belas ribu orang, kemudian
penduduk Kufah pun mengirim utusan untuk emmbaiat Husain dan semuanya berjalan
dengan baik.
Tetapi saying, Husain Radhiyallhu Anhu tertipu oleh
pengkhianatan mereka. Husain pergi menemui mereka walaupun sudah diperingatkan
oleh orang-orang terdekatnya agar tidak keluar menemui mereka, hal itu karena
mereka telah mengetahui pengkhianatan yang selama ini telah dilakukan oleh kaum
Syiah Irak. Sampai-sampai Ibnu Abbas Radhiyallhu Anhu berkata kepada
Husain:
“Apakah engkau akan pergi ke kaum/golongan yang telah membunuh
pemimpin mereka, merampas negeri mereka, dan memusnahkan musuh mereka. Walupun mereka
telah melakukan hal itu, apakah kamu tetap pergi kepada mereka? Mereka mengajakmu
ke sana, sedang penguasa mereka bersikap tirah terhadap mereka. Apa yang mereka
lakukan, hanya untuk Negara mereka saja. Mereka hanya mengajak Anda menuju
medan perang dan pembantaian, dan Anda tidak akan ama bersama mereka. Mereka akan
emngkhianati, menipu, membangkang, meninggalkan, dan berbalik memerangi kamu
dan nanti mereka menjadi orang yang sangat keras permusuhannya kepadamu…”
Secara jelas tampaklah pengkhiantan Syiah ahli Kufah, walupun
mereka sendiri yang telah mengharapkan akan kedatangan Husain, hal itu sebelum
Husain sampai kepada mereka. Maka penguasa Bani Umayyah, Ubaidillah bin Ziyad
ketika mengetahui sepak terjang Muslim bin Aqil yang telah membaiat Husain dan
sekarang berada di Kufah, ia segera mendtangi Muslim dan langsung membunuhnya,
sekaligus terbunuh pula tuan rumah yang menjamunya Hani bin Urwah Al-Murd. Dan kaum
Syiah Kufah tidak memberikan bantuan apa-apa, bahkan mereka mengingkari janji
mereka terhadap Husaian Radhiyallhu Anhu, hal itu mereka lakukan karena
Ubaidillah bin Ziyad telah memberikan sejumlah uang kepada mereka.
Ketika Husain Radhiyallhu Anhu keluar bersama keluarga dan
beberapa orang pengikutnya yang berjumlah sekitar 70 orang laki-laki, dan
langkah itu ditempuh setelah adanya perjanjian-perjanjian dan kesepakatan,
kemudian masuklah Ibnu Ziyad untuk menghancurkannya di medan peperangan, maka
terbunuhlah Al-Husain Radhiyallhu Anhu dan terbunuh pula semua
sahabatnya. Ucapannya yang terakhir sebelum wafat adalah;
“Ya Allah, berilah putusan di antara kami dan di antara orang-orang
yang mengajak kami untuk menolong kami, namun ternyata meraka membunuh kami.”
Bahkan doanya atas mereka sangat terkenal, beliau mengatakan
sebelum wafatnya;
“Ya Allah, apabila engkau memberi mereka kenikmatan, maka
ceraiberaikanlah mereka, jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan
janganlah restui para pemimpin mereka selamanya, karena mereka telah mengundang
kami untuk menolong kami, namun kemudian ternyata memusuhi kami dan membunuh
kami.”
Tahukan Anda perbuatan jelek mereka dan bagaimana mereka menipu dan
berkhianat kepada Ahlulbait yang konon mereka cintai, namun ternyata mereka
jadikan kecintaan tersebut hanya sebagai alas an untuk memusuhi setiap orang
yang mereka benci?
Apakah tidak mungkin setelah mereka berkhianat terhadap Ahlulbait
mereka juga akan berkhianat terhadap seluruh umat? Sejak pertama mereka takut
berperang dan menjual kehormatan mereka dengan harta. Mereka merencanakan
pengkhianatan untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan semata, walupun hal itu
harus dibayar dengan menyerahkan salah seorang tokoh Ahlulbait. Seperti yang
telah direncanakan oleh Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi dengan menyerahkan Al-Hasan bin
Ali kepada Bani Umayyah.
Untuk bersikap objektif kita harus menyatakan; orang-orang Syiah
pada periode ertama di masa Ali dan Hasan serta Husain Radhiyallhu Anhum,
di antara mereka terdapat orang-orang yang baik dan bijaksana, seperti beberapa
orang dari sahabat Radhiyallhu Anhum. Mereka tidak mungkin berkhianat
dan kita berlindung kepada Allah untuk tidak menuduh salah seorang dari mereka berkhianat.
Sesungguhnya sikap dan keputusan yang emreka telah ambil itu berdasarkan
ijtihad; mungkin mereka salah atau mungkin mereka benar.
Alasan mayoritas orang-orang menjadi Syiah pada saat itu adalah
karena kecintaan mereka kepada Ali Radhiyallhu Anhu dan Ahlulbaitnya. Ini berdasarkan pada
beberapa riwayat yang telah mereka dengar dari orang-orang, tentang anjuran
mencintai keluarga suci ini. Di mana saat itu tidak terdapat dasar-dasar yang
disepakati untuk menetapkan seseorang menjadi Syiah, seperti adanya; Taqiyah,
raj’ah, dan lain-lain, kecuali yang terjadi pada mereka yang ekstrim, yang
pemimpinnya adalah Abdullah bin Saba’, dengan menuhankan Ali Radhiyallhu
Anhu. Tetapi setelah itu, muncul hal-hal baru yang membentuk pemikiran
Syiah yang menyeretnya ke dalam kesesatan, dari satu bidang ke bidang yang
lainnya dan dipengaruhi oleh unsur-unsur Majusi dan Yahudi serta lainnya, dan
bersembunyi di balik Islam dengan mengaku sebagai pengikut Ahlulbait, serta
berusaha menghancurkan Islam sedikit demi sedikit.
Mungkin pembahasan terbaru yang paling objektif dan paling mendalam
yang menjelaskan hubungan antara tasyayu’ (mengaku pengikut Ahlulbait) dengan
unsur-unsur yang menyesatkan adalah sebuah studi dengan judul “Wa Ja’a Daur
Al-Majus (Mewaspadai Peran Majusi)” oleh Al-Ustadz Abdullah Muhammad Al-Gharib.
Studi ini mengungkapkan kebohongan mayoritas orang-orang yang mengaku tasyayu’
dan bermain dengan kata “cinta kepada Ahlulbait,” tetapi sesungguhnya mereka
sedang berusaha menghidupkan pemikiran-pemikiran Majusi dan
keyakinan-keyakinanannya, seperti; Zarawester, Manichaeanisme, Muzdakiyah dan
aliran-aliran kebatilan lainnyam yang mengatakan tetnang qidam-nya alam dan
mengingkari Sang Pencipta, hari kebangkitan, dan hal-hal yang mereka dustai lainnya.
Akankah kita ungkapkan lagi setelah ini pengkhianatan orang-orang
Syiah dari Al-Ismailiyah, Al-Itsna Asyariyah, Al-Qaramithah, Al-Buwaihiyah dan
orang-orang Fatimiyah seta lainnya?! Pada hakikatnya mereka tidak dapat dinisbahkan
kepada Ahlulbait (secara kekerabatan), dan bahkan tidak juga dalam hubungan
cinta. Mereka adalah para pengkhianat musuh-musuh semua orang Islam, dan bukan
hanya bagi Al Sunnah saja.
Sumber : Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap
Kekalahan Umat Islam. Karya : Dr. Imad Ali Abdus Sami’
“Ambillah
pelajaran hai orang yang mempunyai akal”
Oleh :
@ekomustaqiim | Headlineislam.com

