Oleh: Maaher At-Thuwailibi
Asalnya dari kata Muluk.
"Muluk" artinya raja-raja atau penguasa. Secara umum, aliran
ini masih bagian dari kaum Muslimin, mereka hidup dan berkembang di tengah umat
Islam, bahkan zhahirnya mereka berjenggot dan berjubah, layaknya para aktivis Muslim lainnya. Tapi mereka menyimpan aqidah yang
sesat, yakni murji'atul 'ashr, murji'ah gaya baru. Di antara rujukan mereka adalah
seorang Ulama dari Yordan pembawa ajaran neo-murji'ah yang difatwakan sesat
oleh Lembaga Fatwa Resmi Arab Saudi, dan fatwa itu belum di cabut sampai hari
ini.
Adapun tentang fatwa itu bisa Anda baca pada link berikut ini:
Dan juga disini:
Ciri utama sekte ini ialah: mereka
membangun keyakinan, sikap, dan dakwah untuk menjaga kepentingan para raja-raja
(penguasa), di manapun mereka berada. Dalam bahasa lain, menjilat atau
menjadi anshorul muluk (budak-budak penguasa). Mereka lakukan itu alasannya selalu
"taat ulil amri". Maka mereka dikenal di kalangan ahlul 'ilm dan penuntut
Ilmu dengan sebutan "Mulukiyyah". Artinya, sekte menyimpang
neo-murji'ah penjilat penguasa. Sekte Mulukiyyah ini di samping punya ciri utama menjilat penguasa,
mereka juga punya ciri-ciri khawarij. Bila dengan penguasa sekuler mereka
lembut, namun dengan para da'i Sunnah dan aktivis Muslim mereka bersikap keras. Ini
yang aneh. Panah tabdi', tafjir, dan tahdzir mereka arahkan pada para da'i Ahlus
Sunnah serta aktivis dakwah, akan tetapi kelembutan dan kasih sayang itu mereka
berikan sepenuhnya pada para pemimpin zhalim dan sekuler. Bahkan tidak
tanggung-tanggung, densus 88 yang membunuh seorang Muslim yang di duga
"teroris" pun di samakan dengan mujtahid karena alasan "tidak
sengaja".
Akal mereka sudah di bolak
balikkan oleh setan, kepada para pemimpin sekuler yang karbitan dan merugikan
kaum Muslimin serta menguntungkan kaum kafirin mereka haramkan
kritik, kalau ada kritik terbuka terhadap penguasa zhalim, mereka katakan
ghibah, khawarij, hizbiyyah, dst. Tapi untuk para da'i, penuntut ilmu, dan
aktivis-aktivis dakwah, mereka halalkan ghibah, mereka halalkan munuduh dan
mencela secara terbuka dan membabi buta, dengan alasan "tahdzir",
dengan alasan "menjaga agama", dst. Bahkan tidak sedikit para Ulama
(dulu dan sekarang) yang mereka makan bangkainya. Lebih-lebih terhadap para
aktivis jihad dan mujahidin, mereka sungguh antipati dan foby. Demikianlah
manhaj sesat kaum mulukiyyah ini.
Ada fakta unik di negeri ini yang
sempat kami ukir dengan tinta 'emas', saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) di
undang oleh presiden Joko Widodo -Hafizhahullah- ke istana negara untuk menghadiri
acara tertentu, ada dua Ulama di MUI yang menolak untuk hadir, dialah Syaikh Achmad Chalil Ridwan dan Syaikh
Teungku Zulkarnain,MA. Mereka berdua tak sudi menghadiri acara presiden yang menurut
mereka merugikan ummat Islam itu. saat mendengar fakta ini, demi
Allah kami menangis, air mata ini mengalir deras, melihat ketaqwaan dan sikap
wira'i dua Ulama ini yang menjaga kehati-hatian untuk mendatangi pintu-pintu
penguasa.
Hal ini mengingatkan kami dengan
kisah nyata Imam Malik bin Anas Rahimahullah yang suatu kali diminta
Khalifah Harun Ar-Rasyid berkunjung ke istana khalifah dan mengajar hadist
kepadanya. Tidak hanya menolak datang, tapi ulama yang bergelar Darul Hijrah
itu malah meminta agar Khalifah yang datang sendiri ke rumah beliau untuk belajar.
Kata beliau: "Yaa Amiral Mukminin, Al-'Ilmu yu'ta wala Ya'ti (“Wahai
Amirul Mukminin, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi”, ucap Imam Malik.
Dan akhirnya Harun Ar-Rasyid yang
datang ke rumah Imam Malik untuk belajar. Demikian sikap Imam Malik, ketika
berhadapan dengan penguasa yang adil sekalipun (seperti Harun Ar-Rasyid), tetap
diberlakukan sama dengan para pencari ilmu lainnya dari kalangan rakyat jelata.
Suatu hari Harun Ar-Rasyid meminta
kepada Abu Yusuf, qadhi negara waktu itu, untuk mengundang para ulama hadist
agar mengajar hadist di istananya. Tapi tidak ada yang menanggapi undangan itu.
Hampir seluruh Ulama Hadits tak menanggapi. Kecuali dua ulama, yaitu Abdullah
bin Idris dan Isa bin Yunus, mereka bersedia mengajarkan hadist, tapi dengan syarat:
belajar harus dilaksankan di rumah mereka, dan tidak di istana negara.
Para ulama dalam kitab
Adabus-Syari’iyah, menegaskan bahwa kedekatan ulama dengan penguasa bisa
menimbulkan fitnah. Menurut Abu Hazim, ulama di masa tabi’in, menyatakan, di
masa sebelum beliau, jika umara mengundang ulama, ulama tidak mendatanginya.
Jika umara memberi, ulama tidak menerimanya. Jika mereka memohonnya, mereka
tidak menurutinya. Kemudian, para penguasa yang mendatangi pintu-pintu ulama
dan mereka bertanya. (Riwayat Abu Nu’aim).
Kedekatan ulama dengan penguasa
merupakan aib oleh para ulama saat itu. Abu Hazim mengatakan, “Sebaik-baik
umara adalah mereka yang mendatangi ulama, dan seburuk-buruk ulama adalah mereka
yang mencintai penguasa.”
Wahab bin Munabbih lebih tegas
lagi, dan menyatakan agar para ulama menghindari pintu-pintu penguasa, karena
di pintu-pintu mereka itu ada fitnah. Kata beliau, “Kau tidak akan mendapatkan
dunia mereka, kecuali setelah mereka membuat musibah pada agamamu.”
Demikianlah sikap para Ulama
Salafus Shalih, tidak rakus terhadap dunia, tidak
menjilat terhadap penguasa. Karena biasanya seorang Muslim Muwahhid (muslim
yang bertauhid) mendedikasikan hidup dan agamanya untuk Allah Ta’ala, sebagai
konsekuensi aqidah dan ibadah kepada-Nya. Inilah yang sering disebut Mukhlishina
lahud diin (mengikhlaskan agama semata kepada-Nya). Dalam salah satu versi
doa iftitah sering dibaca: Innas shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati
lillahi Rabbil ‘alamiin (Sesungguhnya shalatku, manasikku,
hidupku, matiku, ialah untuk Allah Rabbul ‘alamiin).
Tapi aneh, ada yang mengabdikan
hidupnya, ibadahnya, pemikiran, dan amal-amalnya untuk selain Allah, yaitu
kepentingan para raja-raja. Ya kita tidak menuduh mereka musyrikin, atau kafir,
tidak. Karena kita bukan takfiri yang mudah
mengkafir-kafirkan orang. Tapi kita menasihatkan agar mereka berubah,
meluruskan aqidah, dan memperbaiki diri.
Dalam membangun sikap
keagamaannya, sekte Mulukiyah dikenal tidak memiliki prinsip atau manhaj yang
jelas. Bagi mereka, apa saja bisa halal, kalau menguntungkan posisi para raja
atau penguasa. Dan apa saja bisa haram, kalau merugikan kepentingan raja atau
penguasa. Sikap keberagamaan mereka jauh dari istiqamah, tetapi "plin-
plan", menjilat ludah, dan standar ganda. Itu sudah dari dulu kita
ketahui.
Musuh terbesar sekte ini adalah
semua yang namanya gerakan Islam, harakah islamiyyah. Sebab kaum harakah itu dianggap
sebagai pengganggu utama kekuasaan raja-raja monarkhi atau penguasa-penguasa
sekuler. Cita-cita gerakan Islam membentuk Daulah Islamiyah atau Khilafah
Islamiyah 'Ala Manhajin Nubuwwah dianggap sebagai ancaman atas kekuasaan
raja-raja monarkhi; maka itu karakter utama aliran ini ialah: memusuhi gerakan
Islam lahir batin, sejak awal sampai akhir. Mereka bisa kerjasama dengan Nasrani
(Amerika) dan Yahudi (Israel), tapi tidak dengan gerakan Islam. Saking parahnya
manhaj mereka, salah seorang Ulama panutan mereka di Yordan mengatakan bahwa
tidak boleh membunuh orang Yahudi yang tidak menyerang lebih dulu.
Astaghfirullah.
Menurut Abu Muhammad Abi Syakir,
ciri-ciri pemahaman kelompok Mulukiyah ini antaranya:
[1]. Semua orang boleh membentuk
organisasi, lembaga, yayasan, perkumpulan, dan seterusnya. Itu semua tidak
dituduh hizbiyah dan tidak di anggap ahli bid’ah, kecuali untuk gerakan Islam.
Gerakan Islam (harokah) biasa mereka tuduh "hizbiyah" dan "ahli
bid’ah."
[2]. Semua pemimpin di negeri
Muslim (seperti Indonesia) bisa diangkat sebagai Ulil Amri, sekalipun berasal
dari partai Liberal PDIP. Tetapi kalau pemimpin itu berasal dari gerakan Islam,
seperti di Mesir dan Palestina, mereka “menunda gelar” Ulil Amri itu.
[3]. Semua jenis pemberontakan dan
kudeta, adalah bathil; kecuali kalau kudeta dan pemberontakan kepada pemimpin
yang berasal dari gerakan Islam. Jadi mendemo pemimpin gerakan islam itu boleh.
Tetapi kalau yang di demo Bashar Assad, presiden Suriah yang KAFIR itu, tidak
boleh. Katanya nanti akan terjadi fitnah dan kemudhorotan, sebab tidak
mendengar dan taat pada "Ulil Amri" (sebagaimana kezholiman yang
terjadi di Suriah saat ini). Sehingga muncullah 'fatwa' aneh dari salah seorang
da'i mereka bahwa jihad di Suriah adalah fitnah. Inna lillah..!?
[4]. Semua jenis demonstrasi
adalah salah, mungkar, haram, bid'ah, dan tidak sesuai manhaj Salafus
Shalih; kecuali demo yang ditujukan untuk menggoyang pemimpin gerakan Islam;
itu sah, benar, diperlukan oleh agama.
[5]. Kezhaliman Bashar Assad di
Suriah menurut mereka terkutuk, terlaknat, harus dibasmi dari muka bumi. Tapi
kezhaliman rezim militer di Mesir, yang tak kalah biadabnya dengan Bashar
Assad; itu harus diterima, harus dimaafkan, dinasihati baik-baik, jangan dilawan.
Kenapa? Karena yang ditumpas oleh rezim militer itu adalah gerakan Islam yang
membahayakan para raja-raja dan penguasa rakus pada waktu itu!!
[7]. Demokrasi adalah batil,
kufur, sesat, musyrik; tetapi hasil kepemimpinan dari demokrasi adalah sah,
legal, harus didukung, harus "sami’na wa atho’na" meskipun pundak
dipukuli dan harta dirampas. Meskipun sarananya dianggap bathil, hasilnya bisa
diterima. Shalat lima waktu dengan tata-cara Kristiani adalah batil, tidak sah,
tertolak. Tapi kalau sudah melakukan “shalat begituan”; pelakunya didoakan,
dianggap orang saleh, didekatkan, dimintakan rahmat dan hidayah baginya. Persis
ajaran murji'ah!
[8]. Semua jenis pemberontakan
mereka anggap teroris khawarij; semua revolusi mereka anggap sesat, bid'ah,
khawarij. tapi kalau pemberontakan dan makar kepada pemimpin dari gerakan Islam
boleh, sah, diberkahi, didoakan ulama “Salafus Saleh”. Kenapa ya? Karena
lagi-lagi gerakan Islam dianggap membahayakan posisi raja-raja monarkhi dan
para penguasa itu.
[9]. Perjuangan melawan Yahudi
Israel adalah sah, benar, dan bagian dari Jihad Fi Sabilillah. Tetapi kalau
yang melakukan jihad itu adalah gerakan Islam semisal Hamas, nanti dulu; harus
dilihat dulu orang Hamas itu siapa? Mereka itu biasa pakai jeans, biasa membuka
baju, kadang merokok, kadang tidak shalat; wanitanya jilbabnya tidak Syar’i,
anak-anak kecilnya masih memakai celana isbal (menutup mata kaki), dan
seterusnya. Jadi, kalau HAMAS yang jihad tidak di anggap mujahid, di anggap
hizbiyyun, Harokiyyun, dst. Yang Salafiyyun sejati hanya mereka. Begitu...
[10]. Syi'ah Rafidhah adalah
bathil, aqidah rusak, menghujat para Shahabat Nabi, dan seterusnya. Tapi kalau
Syiah mendukung kudeta militer di Mesir, mendukung kudeta pemimpin muslim yang
Sunni, itu manis sekali.... so sweet gitu lho. Kalau presiden Syi'ah
(Ahmadinejad) tidak boleh dikudeta, malah harus disambut dengan ramah-tamah dan
uluran tangan persahabatan.
[11]. Ummat Islam dibantai di
mana-mana, bersimpah darah, di zhalimi; kata mereka: “nanti dulu, buat apa koar-koar
jihad, kita menunggu keputusan Ulil Amri”
[12]. Semua gerakan Islam yang
bersatu dalam ukhuwah mereka anggap sesat, khawarij, hizbiyyah, dst. Yang Ahlus
Sunnah dan pemilik surga hanyalah mereka. Berbeda jauh dengan manhaj dan akhlaq
para Ulama Salafi, seperti Syaikh Al-Albani, Syaikh bin Baz, dan Syaikh 'Utsaimin,
Syaikh Shalih Fauzan, dll.
Nah, begitulah sekilas ciri-ciri
pemahaman kelompok Mulukiyah ini. Lha beragama kok jadi kayak main-main
(istihza’). Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
Maka bersyukurlah bagi mereka yang
tidak berhutang budi kepada para raja-raja dan penguasa. Karena mereka bisa
selamat agama dan Syari'atnya, karena bisa mengikhlaskan hati dan jiwa untuk
menghamba kepada Allahu Rabbul ‘alamiin.
Rabb kita itu Allah Al-A’la, bukan
raja-raja atau penguasa di mana saja. Kita tak butuh bantuan dan derma mereka;
jika untuk itu agama kita dipenjara; iman kita disandera; akal kita
dikendalikan seperti budak-budak tak merdeka.
Allahumma inna nas’alukal huda wat
tuqa wa ‘afaf wal ghina (Ya Allah, kami meminta kepada-Mu
petunjuk, ketakwaan, rasa kehormatan, dan rasa kecukupan).
Amin Allahumma amin.
Editor :
Arham | Headlineislam.com



No comments:
Post a Comment