Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Sejenak merenungi masa lalu, saya teringat
dengan masa-masa polos saat menjadi tholibul 'ilm (mahasantri) Tadrib Ad-Du'at
di sebuah pondok pesantren bermanhaj Salaf. Satu pengalaman yang masih saya
ingat sampai hari ini adalah, nyaris di setiap waktu kosong saat ustadz yang
mengajar tidak hadir atau jam kelas tidak ada yang mengisi, guru besar kami
Al-Ustadz Abu Usamah ZS,Lc (Alumnus Universitas Islam Madinah) kerap mengarahkan
kami para mahasantri ke maktab untuk kemudian membuat halaqoh dan mendengarkan muhadhoroh
para masyayikh melalui proyektor/in focus.
Tahukah Anda siapa di antara syaikh yang
menjadi tontonan utama kami di pondok pesantren saat mengisi waktu kosong?
Dialah Syaikh Muhammad Al-'Arifi!
Ulama muda terkemuka Arab Saudi, yang memiliki
keahlian dalam kbutbah dan berbahasa, fasih bahasanya, mahir retorikanya, mulia
akhlaknya, dan kuat manhajnya.
Wajar, bila kami disarankan untuk membeli
buku best seller karya Syaikh Muhammad Al-'Arifi berjudul “Istamti' bi-Hayaatik”
yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan tersebar luas di berbagai
negara, termasuk Indonesia, dengan judul “Nikmatilah Hidup Anda.”
Seiring berjalannya waktu, kami pun terjun ke
dunia dakwah dengan kapasitas ilmu yang terbatas. Berinteraksi dengan para
tokoh Muslim nusantara, meminta nasihat dan bimbingan mereka, sampai akhirnya
kami mulai aktif menulis dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Tanpa disadari,
nama Syaikh Al-'Arifi semakin mewarnai dunia dakwah wal jihad dewasa ini. Nama beliau kian harum semerbak di kalangan
aktivis Muslim dan para pemuda bermanhaj Salaf pasca menggemparnya “Khutbah”
tentang Jihad Suriah yang menggoncang dunia. Tak hanya para aktivis Salafi yang
menaruh simpati padanya, bahkan sampai para pemuda NU alumni pondok pesantren
gontor pun turut mengidolakan sosok sang Muhammad Al-'Arifi.
Jauh sebelum “Forum Seruan Al-Haq” diresmikan
pembentukannya pada april 2015 lalu di Hotel Sahira Bogor oleh Al-Ustadz DR.
Muhammad Zaitun Rasmin Lc.MA, kami secara pribadi sempat terbetik keinginan untuk
mengundang Syaikh Muhammad Al-'Arifi ke Indonesia. Saya berencana menggalang
dana dan dukungan untuk mengadakan tabligh akbar di Istiqlal Jakarta dengan
narasumber Asy-Syaikh Muhammad Al-'Arifi. Namun qadarullah, niat itu tak
berlanjut sampai hari ini. Hingga akhirnya saya mendapatkan informasi dari guru
saya tercinta Al-Ustadz Abu Ahmad Syuhada (Juru bicara KH. Arifin Ilham) bahwa
Syaikh Muhammad 'Arifi akan berkunjung ke Indonesia dalam acara tabligh akbar di
Masjid Az-Zikra sentul bogor.
Akan tetapi, ketahuilah ikhwah! Tidaklah
kedatangan seorang ulama yang di benci Amerika, musuh abadi Syi'ah Rafidhah;
kecuali membuat hati orang-orang mukmin menjadi bahagia. Demikian pula,
tidaklah kedatangan seorang Mujahid dari Arab Saudi, yang akan memberi pelita
bagi anak-anak pertiwi, kecuali membuat orang-orang zindiq dan munaafiq
berkecil hati.
Syaikh Prof. DR. Muhammad bin Abdillah bin
Abdirrahman bin Malahi 'Al-Arifi Al-Jabiri Al-Khalidi, seorang Ulama muda
Salafi, berasal dari negeri Saudi, negeri Sunni terbesar di seluruh penjuru
bumi, yang sangat ditakuti rezim-rezim Majusi, beliau meraih gelar Doktor (S3)
dengan nilai tertinggi, di Imam Muhammad bin Sa'ud Of University, dengan
disertasi gemilang berjudul “Pendapat-pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
tentang kelompok Shufi.”
Dialah Syaikh Muhammad Al-'Arifie.
Seorang Ulama muda murid Syaikh Bin Baz,
kurang lebih 10 tahun berguru langsung dengan Syaikh Bin Baz Rahimahullah.
Seorang Haafizh Qur'an yang memiliki Sanad
muttashil sampai ke Rasulullah dengan 7 qira'ah.
Di antara gurunya adalah Syaikh Abdullah
Al-Jibrin, Syaikh Abdul Karim Al-Lahim, dan Syaikh Abdurrahman Nashir Al-Barrak
- Rahimahumullahu Hayyan wa mayyitan.
Media sosial ramai mengabarkan Acara Tabligh
Akbar yang katanya akan menghadirkan Syaikh DR. Muhammad Al-Arifi pada
pertengahan bulan januari 2016 mendatang.
Tak ayal, hal itu membuat aliran sesat di Indonesia
bernama Syi'ah Rafidhah lumayan sempoyongan. Dengan berbagai propaganda konyol
yang mereka lakukan demi membunuh karakter Syaikh DR. Muhammad Al-'Arifi, di antaranya
ialah menyebar fitnah bahwa Syaikh Al-'Arifi adalah anggota ISIS. semua tingkah
konyol itu mereka lakukan guna mencekal kedatangan Syaikh Muhammad Al-'Arifi ke
negeri ini.
Uniknya, tuduhan keji dan fitnah konyol
mengenai pribadi Syaikh Al-'Arifi bukan hanya datang dari orang-orang kafir dan
sekte sesat Syi'ah Rafidhah, tetapi juga datang dari segelintir kerbau
"bergamis" yang di kenal di alam ilmiah dengan komunitas Jama'ah
Tahdzir Wal Hizbiyyah atau Sekte Mulukiyyah (gelar kehormatan untuk kelompok
neo-Murji'ah).
Di hinggapi penyakit hasad (dengki) yang
cukup akut, kerbau-kerbau dungu yang tidak sayang pada tanduknya ini membentuk
opini busuk tentang Syaikh Muhammad Al-'Arifi Hafizhahullah guna
membunuh karakter beliau.
Diantara tuduhan mereka adalah:
Pertama: Bahwa Syaikh Muhammad Al-'Arifi
adalah seorang khawarij.
Ø Tanggapan kami, Ulama menyebutkan
bahwa di antara ciri pokok kesesatan Khawarij ialah:
(1).
Mengkafirkan ummat Islam tanpa alasan yang bisa dibenarkan.
(2). Mereka keluar dari ikatan
persaudaraan/kesatuan ummat.
(3). Memerangi kepemimpinan Islam, setelah
mengkafirkan lebih dulu.
(4). Mengkafirkan manusia karena dosa besar.
Pertanyaan kami;
* Kapan Syaikh Al-'Arifi mengkafirkan ummat
islam???
* Siapa ummat Islam yang beliau kafirkan
karena perbuatan dosa???
* Dan pemimpin Islam mana yang beliau
berontak??? Coba sebutkan wahai kerbau-kerbau dungu!
Sekedar mengkritik penguasa atas kebijakan
politik seorang penguasa yang dianggap zhalim dan merugikan ummat, tidak bisa
serta merta dianggap khawarij. Itulah manhaj Mulukiyyah. Mudah sekali menuduh
seorang Muslim dan ulama yang tidak sekelompok dengannya dengan tuduhan "khawarij".
Tapi saat mereka dituduh Murji'ah, langsung menolak dan teriak-teriak seperti
orang kesurupan jin ifrit.
Jika sikap Syaikh Al-'Arifi yang mengkritik
Raja Saudi (sebelum dipimpin raja Salman) Anda anggap "khawarij" dan
bathil, lantas bagaimana dengan sikap Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
yang mengkritik Raja Saudi di tahun 1990-an saat terjadi kasus teluk di mana Saudi
meminta bantuan kepada negara kafir Amerika berupa kekuatan militer guna
mengantisipasi serangan Iraq pimpinan Saddam Husein Al-Komunis???
Syaikh Al-Albani Rahimahullah mengecam
keras kebijakan politik raja Saudi waktu itu. Meskipun disetujui oleh Syaikh
Bin Baz, namun Syaikh Al-Albani menyelisihi Syaikh Bin Baz dalam hal ini.
Beranikah Anda wahai kerbau-kerbau dungu mengatakan bahwa Syaikh Al-Albani
adalah "khawarij"?
Syaikh Al-'Arifi dan para pengikutnya yang
sungguh-sungguh memperjuangkan Syariat, membela Ummat, melakukan amar makruf
nahi munkar, menentang penguasa zhalim (sekuler); bukanlah Khawarij. Justru
mereka bisa disebut Mujahid. Kecuali kalau mereka melakukan ciri-ciri kesesatan
Khawarij yang disepakati para Ulama. Demikian pula sebaliknya, orang-orang yang
menentang Syariat, anti Syariat, men-'teroriskan' para pejuang Syariat, anti
konsep negeri Islami; mendukung kezholiman penguasa sekuler, hakikatnya
merekalah Khawarij!!! meskipun mereka bergamis, berjenggot, dan bersembunyi dibalik
istilah "Salafi".
Kedua: Tuduhan konyol mereka yang lain
adalah, bahwa Syaikh Al-'Arifi memiliki penyimpangan karena menerjemahkan
hadits Hudzaifah, "wa in ukhidza maluk wa dhuriba dzhahruk", dengan
pemahamannya yang batil.
Ø Tanggapan kami, kalau tidak dungu
ya tidak disebut kerbau. Karena dungu makanya lebih layak disebut kerbau. Sebab
tidak ada kerbau yang cerdas. Lebih terhormat lagi kalau disebut "Kerbau
Muluki". Kerbau peliharaan para penguasa zindiq.
Bagaimana bisa hanya karena beda penafsiran
terhadap sebuah teks hadits lantas seorang Ulama divonis "menyimpang"
?? haihaata haihaata... wahai kerbau, sayangi tandukmu!
Betapa banyak para ulama yang menafsirkan
hadits-hadits Rasulullah berbeda dengan ulama lain, apakah mereka menyimpang
semua? Syaikh Al-'Arifi memiliki pemahaman berbeda dengan ulama lain dalam
menafsirkan sebuah hadits, itu suatu hal yang wajar. Kalaupun dia salah, sekali
lagi, kalaupun dia salah, ya dia terjatuh dalam satu kesalahan yang tidak
pantas diikuti kesalahan itu dan wajib dinasihati. Tentunya para ulama kredibel
yang punya otoritas mengkritik beliau secara ilmiah. Bukan berarti beliau
"menyimpang" harus dihina, difitnah, dicaci, sampai-sampai Anda
halangi-halangi ummat Islam untuk menghadiri dauroh beliau.
Terkait dengan hadits-hadits tentang taat
pada penguasa dan wajib menasihati penguasa secara sembunyi-sembunyi, Syaikh
Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i Rahimahullah (ulama besar Salafi negeri Yaman)
pernah ditanya oleh Ustadz Ja'far Umar Thalib:
“Wahai Syaikh, kenapa Anda sering mencerca
penguasa? Bukankah banyak hadits-hadits yang melarang mencerca penguasa di
hadapan umum?” Tanya Ustadz Ja'far.
Lantas Syaikh Muqbil menjawab, "Semua
hadits-hadits itu dha'if!"
-Selesai-
Wahai kerbau dungu, bagaimana pendapatmu
tentang Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i (ulama kharismatik yang sempat menjadi
rujukan Salafiyyun di Indonesia) yang semasa hidupnya beliau sering mengkritik
dan mencerca penguasa-penguasa negeri Arab? Bahkan kritikan dan cercaan beliau
demikian pedas kepada pemerintah Arab Saudi. Itu terjadi sejak beliau menuntut
ilmu di universitas Islam Madinah. Sampai akhirnya beliau diusir dari Saudi, dideportase
ke negaranya (Yaman), bahkan dilarang masuk Saudi, dilarang haji dan umroh
selama beberapa tahun. Itu semua karena sikap kritisnya secara terang-terangan
terhadap pemerintah yang beliau anggap zhalim. Apakah Anda berani mengatakan
bahwa Syaikh Muqbil adalah "khawarij"??? Atau Anda sebenarnya tidak
mengetahui fakta ini karena Anda tergolong 'kerbau' yang lahir terlambat?
Syaikh Muqbil mendha'ifkan hadits-hadits yang
berkaitan dengan larangan mencerca penguasa secara terbuka, apakah Syaikh
Muqbil menyimpang? Sebagaimana Anda
menuduh Syaikh Al-'Arifi menyimpang?
Sekalian saja Anda umumkan di internet tidak
boleh menuntut ilmu ke Markaz Syaikh Muqbil di Dammaj karena Syaikh Muqbil
"menyimpang"! Biar sekalian Anda disembelih oleh para pengikut Syaikh
Muqbil.
Ketiga: Kerbau dungu itu mengatakan bahwa kebatilan
Syaikh Al-'Arifi telah dibantah oleh para Ulama, di antaranya; Syaikh Abdul
'Aziz Alu Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fawzan dalam website resmi beliau, Syaikh
'Ubaid Al-Jabiri, dll.
Ø Tanggapan kami, demikianlah potret
kedunguan berikutnya dari segerombolan kerbau-kerbau yang lahir terlambat ini.
Syaikh Al-'Arifi keliru dalam berpendapat
tentu itu suatu hal yang wajar, sebab beliau manusia bukan malaikat. Dan lebih
wajar lagi ketika ulama-ulama itu meluruskan kesalahan Syaikh Al-'Arifi.
Wajar... Semua Ulama ya begitu. Saling lurus meluruskan dan saling membangun
dalam mewujudkan kebenaran. Syaikh Shalih Fauzan menasihati Syaikh Al-'Arifi,
dan Syaikh Al-'Arifi pun sudah menemui Syaikh Shalih Fauzan. Demikian pula
Mufti Saudi, Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh. Para Ulama itu tidak ada yang
memvonis Syaikh Al-'Arifi sebagai ahlu bid'ah, sesat, dll. Kalau konsekuensi
dari ucapan keliru Syaikh Al-'Arifi itu bisa berindikasi sesat, iya. Namun
bukan serta merta Syaikh Al-'Arifi itu seorang yang sesat seutuhnya. Sekali
lagi, itu lebay!
Fakta yang tidak diketahui kerbau-kerbau
cacat ini ialah, Syaikh Al-'Arifi memiliki kedekatan dengan para Ulama,
termasuk Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh. Di antara bentuk pemandangan yang indah
di tengah-tengah mereka adalah saat Syaikh Al-'Arifi di rawat di rumah sakit,
Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh (Mufti besar Arab Saudi) menjenguknya. Beliau
mencium Syaikh Al-'Arifi dan mendoakannya. Duduk di hadapan Syaikh Al-'Arifi
yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Tidak ada kebencian dan permusuhan
di antara para ulama itu seperti yang dikesankan oleh kerbau-kerbau setengah
gila ini.
Kalau urusan bantah-membantah, Syaikh Ubaid
Al-Jabiri pun dibantah oleh Ulama Salafi lainnya, semisal Syaikh Muhammad
Al-Imam, Syaikh Abdurrahman Al-Mar'ie, Syaikh Yahya Al-Hajuri, dll. Yang mereka
semua itu adalah murid-murid senior Syaikh Muqbil. Kalau ngurusin
"bantah-membantah" kapan habisnya? Ustadz Firanda juga dibantah oleh
Syaikh Abdullah Al-Bukhari, bahkan dikatakan Dajjal. Lalu apakah Ustadz Firanda
"sesat" ? "Menyimpang"? Tidak ada yang selamat dari
"tahdzir mentahdzir" ini wahai kerbau dungu. Itu budaya basi yang
sudah lama membusuk!
Mau ngurusin bantah membantah lagi?
Syaikh Robi' bin Hadi Al-Madkhali pun dibantah
oleh ratusan ulama.
Dalam risalah berjudul Al-Majmu'ul Badi'
Fii Raddi 'Ala Rabi' Al-Madkhali terdapat 186 tulisan para ulama dan para syaikh
yang membantah penyimpangan pemikiran Syaikh Robi'.
Belum cukup?
Dalam kitab berjudul Al-Watsaa'iqul
Jaliyyah Allatiy Yata'aama 'anha Ad'iyyah As-Salafiyyah terdapat kumpulan
fatwa para Ulama berjumlah 120 judul yang seluruhnya membantah pemikiran Syaikh
Robi'.
Ada lagi kitab karya Syaikh Abu Abdillah
Shalih An-Najdi yang berjudul Nazharat Salafiyyah Fii Ar-Raa'i Syaikh Robi',
isinya membantah pemikiran Syaikh Robi'.
Yaa salaam... Ada ratusan bantahan para ulama
terhadap Syaikh Robi'.
Kira-kira, siapa yang selamat dari
"bantah-membantah" ini wahai kerbau?
Saya cukupkan sampai di sini dulu, sebenarnya
masih terlalu banyak yang mesti saya jelaskan tentang fitnah konyol kerbau-kerbau
pengangguran ini. Di antaranya masalah Syaikh Salman Al-Audah, Syaikh Safar
Al-Hawali, Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, Sayyid Quthub, dll. yang semuanya
itu sebenarnya budaya basi yang coba-coba didaur ulang oleh gembel-gembel
kurang kerjaan ini. Tapi, setidaknya saya cukupkan sampai di sini karena fokus
kita kepada masalah Syaikh Al-'Arifi. Untuk masalah Syaikh Salman, Syaikh
Safar, dll, akan saya bahas dalam tulisan tersendiri.
Terakhir sebagai penutup, saya ingin
sampaikan secara terbuka kepada kerbau-kerbau ingusan dan para pembebeknya di
manapun Anda berada, untuk apa Anda sibuk dan menghabiskan energi hanya demi
merusak kehormatan seorang da'i dan Mujahid Salafi yang dicintai ummat ini???
Kenapa kau begitu "percaya diri"
menyebarkan kesalahan Syaikh Al-'Arifi yang kesalahan itu bersifat ijtihadi dan
tidak sampai membuat Dewan Ulama Saudi harus menetapkan secara remi bahwa
Syaikh Al-'Arifi sebagai orang sesat? Padahal Syaikh Al-'Arifi sendiri
berhubungan baik dengan para ulama dan masyayikh di negerinya.
Kenapa kau tidak sibuk menyebarkan Fatwa
Dewan Ulama Saudi (Lajnah Da'imah) yang memfatwakan secara resmi bahwa seorang
Ulama dari Yordan (yang mengatakan tidak boleh membunuh orang Yahudi di Palestina)
sebagai pembawa pemikiran MURJI'AH YANG SESAT? Kenapa kau diam!? Bahkan tidak
sedikit di antara kalian yang mendatangkannya ke Masjid Istiqlal Jakarta.
Padahal di negeri Saudi beliau itu dicekal dan buku-bukunya di beredel oleh
pemerintah Saudi.
Namun, saat Syaikh Al-'Arifi ingin datang ke
Indonesia dan membimbing ummat dalam acara tabligh akbar di masjid Istiqlal,
kau sebarkan tuduhan-tuduhan kotor yang tak keluar kecuali dari tong sampah.
Padahal, Syaikh Al-'Arifi tidak difatwakan sesat atau menyimpang oleh Dewan
Ulama Resmi Arab Saudi (yakni Lajnah Da'imah), lantas mengapa kau begitu
semangat menyebarkan tuduhan dusta tentangnya dan menebar kebencian di tengah
kehidupan ummat?
- Ketika datang suatu fatwa dari
Lajnah Da'imah kerajaan Saudi, di mana lembaga ini sangat diperhitungkan oleh
Ahlus Sunnah di seluruh dunia, apa yang kau lakukan? Apakah kau menerima fatwa
itu, menimbang-nimbangnya dulu, atau menolak? Jika kau menerimanya, maka hal
itu wajar, karena kau sudah biasa merujuk fatwa-fatwa Lajnah Da'imah. Jika kau
menimbang-nimbangnya dulu, pernahkah kau lakukan itu sebelumnya wahai kerbau
dungu? Jika kau ingin menolaknya, lalu otoritas dewan ulama seperti apa lagi
yang bisa memuaskan "dahaga ilmiah" mu??? Apakah semua fatwa Lajnah
Da'imah bisa kau terima, kecuali yamg merugikan kelompokmu??
- Fatwa Lajnah Da'imah itu
dikeluarkan pada tahun 1421 Hijriyyah atau sekitar 16 tahun yang lalu. Sampai saat
ini fatwa itu tetap berlaku dan tidak pernah dicabut. Termasuk ketentuan di
dalamnya juga berlaku, yaitu pelarangan percetakan dan pengedaran buku-buku
murji'ah itu.
- Memang, menolak fatwa Ulama juga
tidak dilarang. Tidak ada satupun dalil syar'i yang mengharuskan kita
menerima seluruh fatwa ulama. Hal ini
termasuk kebebasam berijtihad (bagi ulama) dan kebebasan mengikuti ijtihad
(bagi ummat). Namun, untuk menolak fatwa ulama diperlukan hujjah qawiyyah
(argumentasi yang kuat) dan kesepadanan martabat. Tidak mungkin fatwa ulama
yang kredibel harus dilawan oleh fatwa ustadz-ustadz yang baru pandai menukil
apalagi fatwa facebooker-facebooker kerdil semacam Fikri Abu Hasan yang dungu
itu.
- Seharusnya, kerbau-kerbau bergamis
yang merasa paling "Salafi" itu bersikap adil ketika datang fatwa
dari Dewan Ulama Ahlus Sunnah. Ketika mereka bersemangat menyebarkan kritik
para Ulama tentang Syaikh Muhammad Al-'Arifi, maka fatwa resmi dewan ulama
tentang pembawa pemikiran murji'ah dari Yordan itu juga perlu diketahui oleh
ummat. Bahkan fatwa terhadap murji'ah pendusta itu lebih kuat, sebab ia
merupakan fatwa resmi dari sebuah lembaga resmi dan disebarkan secara terbuka.
Sedangkan kritik untuk Syaikh Al-'Arifi hanya berasal dari satu dua ulama dan
bukan fatwa resmi. Meskipun begitu, cecunguk-cecunguk mulukiyyah itu sangat
bersemangat menyebarkannya. Seharusnya mereka juga bersemangat ketika datang
fatwa Lajnah Da'imah tentang penyimpangan Syaikh dari Yordan itu, lalu
menyebarkannya sekuat kemampuan ke lingkungan sekitar, sebagai bentuk sikap
memuliakan pendapat ulama. Jika kemudian mereka membabi buta membela
habis-habisan tokoh "pujaannya" dan tidak segan menentang fatwa dewan
ulama terhormat seperti Lajnah Da'imah, justru merekalah yang terjerumus pada
sikap Hizbiyyah! Bukan lagi ilmiah!!!
Nasihat saya kepada seluruh kaum Muslimin di mana
pun Anda berada, kalau ternyata benar bahwa Syaikh Al-'Arifi datang ke
Indonesia, yang juga akan disambut meriah oleh sejumlah Du'at Salafi ternama
semisal Ustadz Yusuf Utsman Ba'itsa dan Ustadz DR. Khalid Basalamah Lc.MA,
bahkan disambut baik oleh para kyai NU yang berarti ini adalah wadah ukhuwwah
kita dengan berbagai ormas Islam, maka mari kita hadiri tabligh akbar beliau baik
di Masjid Az-Zikra Sentul maupun di Masjid Istiqlal Jakarta. Lalu kita
bersorak, "Biarkan kerbau menggonggong, dauroh tetap berlalu".
Mari kita dengarkan nasihat Syaikh Shalih
Fauzan untuk menghadiri ceramah Syaikh Muhammad Al-Arifi dan Syaikh A'idh
Al-Qarniy dan pernyataan beliau bahwa orang-orang yang mentahdzir dan mencela mereka
berdua, adalah dai-dai perusak dan penebar fitnah. Anda bisa dengarkan suara
Syaikh Shalih Fauzan pada link Yotube ini:
Watch "(جديد)
الشيخ صالح الفوزان: الذين يُحَذِّرُون من العريفي والقرني هم دعاة تحريش وفتنة"
on YouTube - https://youtu.be/390cbQNKcEo
Baarakallahufiikum Jamii'an.
Semoga Allah menjaga agama ini dari para
pemerkosa-pemerkosa persatuan dan ukhuwah. Aamiin...
Allahu A'lam.
Editor : Arham │ Headlineislam.com



No comments:
Post a Comment