![]() |
| Rombongan 36 WNI yang hendak berziarah ke Iran sempat bermasalah di Malaysia pada Selasa, 17 November 2015 lalu |
Headlineislam.com – Petugas
keamanan bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) pada Senin, (16/11)
tiba-tiba kalang kabut. Ada 36 warga negara Indonesia yang hari itu berencana
melakukan perjalanan dari Bandara Ahmad Yani Semarang. Yang membuat khawatir
bukan semata-mata jumlahnya, tapi tujuan penerbangannya. Dari visa yang
terdaftar, semuanya hendak menuju ke Teheran, Iran.
Sontak,
petugas bandara pun langsung memanggil Polisi Diraja Malaysia. Mereka punya
kecurigaan bahwa ke-36 WNI ini hendak pergi ke Suriah dan bergabung dengan
ISIS.
Petugas
berwenang di Indonesia juga akhirnya harus menelusuri latar belakang ke-36 WNI.
Menurut Kapolda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Noer Ali, mereka semua berasal
dari beberapa daerah di Jawa Tengah seperti Solo, Semarang dan Pati. “Mereka
juga dari beberapa profesi, ada dokter dan ada PNS juga,” kata Noer Ali seperti
dilansir dari CNN Indonesia, Rabu (18/11).
Namun
Noer mengaku belum mendapat informasi lebih lanjut tujuan para WNI ini ke
Suriah. Termasuk soal dugaan rencana mereka bergabung dengan kelompok militan
di sana.
![]() |
| 36 WNI |
Ada
sejumlah hipotesis mengapa Polisi Malaysia mencurigai ke-36 WNI yang hendak
pergi ke Iran.
Pertama, pemerintah Malaysia
telah lama melarang keberadaan ajaran Syiah di negara tersebut. Bagaimanapun
Syiah sangat identik dengan Iran. Aturan ini telah disusun sejak tahun 1989
–bertepatan dengan tahun revolusi Iran- di Negara Bagian Selangor. Kemudian,
disusul lagi dengan Keputusan Jawatan Kuasa (Komite) Fatwa Kebangsaan
(Malaysia) pada tahun 1996, tentang pengharaman ajaran-ajaran selain Ahlu
Sunnah wal-Jamaah.
Lantas
apa hubungannya antara pelarangan Syiah dengan 36 WNI pergi ke Iran?
Bagi
pemerintah Malaysia, bepergian ke Iran termasuk dianggap sebagai hal yang
sensitif. Sehingga mereka merasa perlu untuk memeriksa secara teliti identitas
orang-orang yang transit di negeri mereka dan hendak pergi ke Iran.
Saking
tabunya warga Malaysia pergi ke Iran, Kedutaan Iran merasa perlu untuk membuat
Lembaga Penggalakan Pelancongan Malaysia, untuk menggaet minat warga Malaysia
bepergian ke Iran. Mereka mengemas program terselubung seperti Pameran Kesenian
Al-Quran Iran untuk menarik minat orang sebanyak-banyaknya. (lihat:
http://en.abna24.com/260290/print.html)
Hipotesis yang kedua,
belum lama ini pemerintah Malaysia menangkap lima lelaki, termasuk seorang
warga Indonesia karena diduga terlibat kelompok ISIS dalam operasi khusus oleh
bagian kontraterorisme, unit khas Bukit Aman di Johor dan Selangor pada 9 dan
13 Nopember lalu.
Kepala Polisi Negara Tan Sri Khalid Abu Bakar
mengatakan, tiga tersangka yang ditahan diduga mempunyai kaitan dengan kelompok
militan Negara Islam (IS/ISIS). Sementara, dua lagi terlibat dengan kelompok
teroris yang dikenali sebagai Imam Mahdi. Kelompok Imam Mahdi merupakan
kelompok militan Syiah yang diketuai Imam Mahdi. (Baca juga: Polisi Malaysia Tangkap WNI Kelompok ISIS dan Militan Syiah)
Penangkapan
sejumlah orang terkait ISIS dan Milisi Syiah ini hanya berselang tiga hari
sebelum kedatangan 36 WNI yang hendak ke Teheran. Wajar saja, jika Malaysia
masih memasang sinyal waspada terkait keberangkatan para WNI dari Jawa Tengah
ini.
Ketiga, sejumlah komunitas
intelijen mensinyalir keberadaan sejumlah kelompok masyarakat di Indonesia yang
berangkat ke Timur Tengah dengan berbagai motif.
Seperti
dikutip dari laman facebook Hanibal Wijayanta, salah seorang wartawan senior,
beberapa waktu lalu seorang perwira BAIS menegaskan bahwa aparat intelijen
sebenarnya tidak terlalu khawatir terhadap warga yang bergabung ke ISIS. Sebab,
jika menilik doktrin ISIS, mereka justru sudah membakar paspor mereka, dan
tidak akan kembali ke Indonesia. Aparat intelijen justru lebih mewaspadai
kelompok-kelompok yang tidak bergabung dengan ISIS, terlebih mereka yang ke
Suriah untuk mendukung rezim Bashar Assad.
Menurut
pantauan intelijen, kelompok pendukung rezim Bashar Assad membuat program
semacam milisi enam sampai sembilan bulanan. Setelah bertugas di front Suriah
selama enam hingga sembilan bulan, mereka akan beristirahat, kembali ke
Indonesia dan diganti milisi yang diberangkatkan selanjutnya.
Artikel
di merdeka.com pada 15 Agustus 2012, terkait rencana kelompok Syiah mengirimkan
kombatan ke Suriah.
Sejak
meletusnya tragedi Suriah pada Maret 2011 lalu, sedikit demi sedikit terkuaklah
peran kelompok Syiah Indonesia dan kaitannya dengan konflik Timur Tengah. Dalam
laman beritaprotes.co, kaum Syiah Indonesia melalui Yayasan Saifik (ISIS)
bersama dengan Garda Kemerdekaan yang digagas oleh wartawan Tempo Ahmad Taufik
dan Drs. Abdul Cholik Wijaya membuka pendaftaran bagi relawan Indonesia yang
mau bertempur di Suriah.
Melihat dari muatan berita dan alasan
ideologinya, kita pasti takkan berpikir bahwa mereka ke Suriah berjuang untuk
membantu rakyat Suriah yang merupakan lawan ideologi rezim Bashar Assad. (Baca juga: Melacak Gerakan Militan Syiah di Indonesia dari Jember Hingga Lebanon)
Kemungkinan,
ada koordinasi antar aparat intelijen di Indonesia dan di Malaysia yang
menangkap kecurigaan terkait keberangkatan 36 WNI ke Iran ini.
Apa Motif Sebenarnya 36 WNI ke Iran?
Laman vivanews pada Rabu, (18/11) itu menyebutkan secara rinci nama-nama ke36 WNI yang berangkat ke Iran. Sebagaimana disinggung Kapolda Jawa Tengah, dari sekian nama tersebut mereka berasal dari wilayah Jawa Tengah seperti Solo, Jepara dan Pati.
Jika
melihat dari namanya, kebanyakan di antara mereka berasal dari keturunan Arab-Indonesia.
Ada nama marga Al-Aydrus, Al-Musawa, Al-Jufri, Sahab, dan sebagainya. Siapa
mereka dan apa tujuan mereka ke Iran menjadi sebuah pertanyaan menarik untuk
diajukan.
Penulis
melakukan penelusuran awal di dunia maya untuk menggali informasi ke 36 WNI
ini. Dari penelusuran tersebut ditemukan sejumlah informasi yang menguatkan
dugaan bahwa mereka adalah penganut Syiah. Mereka berangkat ke Iran untuk
melakukan ziarah yang dianggap suci dalam sekte Syiah, yaitu ritual Arbain.
Sebuah ritual guna memperingati 40 hari kematian cucu Nabi Muhammad SAW,
sekaligus sosok yang dianggap sebagai Imam Suci Syiah, Husein bin Ali
radiyallahu anhu.
Banner
pelepasan rombongan 36 WNI dari Bandara Ahmad Yani Semarang pada Senin, (16/11)
lalu.
Perayaan
Arbain diperingati pada tanggal 20 Safar dalam bulan Hijriyah. Tahun ini,
perayaan Arbain jatuh sekitar tanggal 3 Desember 2015.
Di
laman berita milik penganut Syiah, Islam Times, salah seorang rombongan dari 36
WNI ini mengaku bahwa mereka memang berniat berziarah ke Iran dan Irak. Mereka
tak secara eksplisit menyebut ritual Arbain, namun mereka malah menyinggung
Syekh Abdul Qadir Jailani untuk menyamarkan tujuan mereka sebenarnya. Sekaligus
mendekatkan diri dengan kultur Islam Indonesia.
“Iya,
kita memang berencana melakukan ziarah ke makam Imam Husain (as) di Baghdad,
dan kemudian menuju ke makam Syeikh Abdul Qadir Jailani. Ziarah seperti ini kan
sama yang dilakukan muslimin di Indonesia dengan menziarahi makam para wali
songo,” katanya tanpa mau disebutkan namanya.
Pengakuan
ini memperkuat hasil penelusuran penulis di media sosial, yang menemukan
pengakuan lainnya terkait keberangkatan peziarah Syiah asal Indonesia ini.
Dalam
sebuah postingan di Facebook, seorang penganut Syiah, dengan terus terang
mengaku bahwa ia baru saja mengantar rombongan peziarah Arbain ke Bandara pada
Senin, (16/11) lalu.
Hasil
penelusuran di dunia maya pada Kamis, 19 Nopember 2015.
Belakangan,
pihak KBRI di Kuala Lumpur menyangkal bahwa ke-36 WNI ini ditahan di Malaysia.
Artinya, mereka diperbolehkan melanjutkan perjalanannya ke Teheran pada 17
Nopember lalu. Dari dokumen perjalanan, diketahui bahwa mereka baru akan
kembali ke Tanah Air pada 9 Desember 2015.
Tentu
saja, bepergian ke Iran untuk melakukan ziarah merupakan hak beribadah
seseorang dan tidak melanggar hukum di Tanah Air. Tapi, mengingat adanya ajakan
dari kelompok Syiah supaya bergabung menjadi relawan dan kombatan untuk
berperang bersama rezim Bashar Assad adalah sesuatu hal yang perlu diwaspadai
oleh umat Islam dan pemerintah.
Belum
lagi, filosofi ziarah Arbain yang di dalamnya terdapat ritual berjalan kaki sambil
meratap dan merutuki sahabat Nabi SAW yang dituding sebagai penjagal Imam
Husein. Ritual tersebut hanya semakin memperlebar jarak dan memanaskan api
kebencian antara Muslim dan penganut sekte Syiah.
Jika
ritual-ritual semacam itu kerap diabaikan, lantas, siapakah sebenarnya
pihak-pihak yang berniat mengekspor permusuhan dari Timur Tengah ke Indonesia?
Ditulis
oleh: Muhammad Assad, pengamat Timur Tengah
Sumber: Kiblat







No comments:
Post a Comment