Ketika itu
mungkin emosi kita sudah memuncak hingga ubun-ubun, kepala serasa mau pecah,
dada terasa sesak. Saat itu yang kita butuhkan adalah kejernihan pikiran
sehingga bukan amarah yang menguasai kita. Disaat seperti itulah mestinya kita
mau merenungkan sebuah hadits yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dari Shuhaib radhiyallahu’anhu,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ
كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ
سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ
فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
”Sungguh
menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya.
Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan
kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya.
Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah
kebaikan untuknya.” (HR. Muslim [2999] lihat al-Minhaj Syarh Shahih
Muslim[9/241])
Anak adalah
ujian bagi orang tuanya. Jika kita mampu bersabar dalam mendidik mereka tentu
akan ada balasan pahala dari Allah, dan kelak kita akan menuai buah dari
kesabaran yang manis bagaikan madu. Yaitu ketika mereka telah dewasa, kala
mereka telah terbiasa dan terdidik dengan kebaikan yang kita ajarkan dan mereka
menjadi manusia yang taat pada Rabbnya. Doa-doa yang selalu mereka panjatkan
untuk kita adalah harta dan investasi yang tak ternilai harganya. Lalu seperti
apa saja aplikasi kesabaran dalam mendidik anak?
Berikut
beberapa contohnya aplikasi kesabaran dalam mendidik anak,
- Sabar dalam mengajarkan kebaikan pada anak
Salah satu bagian dari kesabaran yang dijelaskan para ulama adalah kesabaran dalam melakukan ketaatan pada Allah. Sabar dalam mengajarkan kebaikan pada anakpun termasuk dalam kategori ini. Mengajarkan kebaikan membutuhkan kesabaran seorang ibu. Mengajarkan doa-doa harian, adab dan akhlak yang baik, menghafal qur’an, dan lain sebagainya. - Sabar menjawab pertanyaan anak
Dalam masa tumbuh kembangnya, anak akan mengalami fase dimana ia akan selalu bertanya tentang hal-hal di sekelilingnya mulai dari hal yan besar sampai hal-hal yang sepele. Jangan keluhkan hal ini, wahai Ibu! Bersabarlah menjawab setiap pertanyaan anak kita karena dengan anak bertanya pada kita sesungguhnya ia menaruh kepercayaan pada kita sebagai orang tuanya. Jika kita ogah-ogahan atau malah marah-marah dengan pertanyaan yang anak lontarkan maka anak mungkin akan jera bertanya lagi dan ia tak akan menaruh kepercayaan lagi pada kita sehingga akan bertanya pada orang lain. Lalu apa jadinya jika ia bertanya pada orang yang tidak tepat sehingga mendapat jawaban yang berbahaya bagi agamanya? - Sabar menjadi pendengar dan teman yang
baik
Termasuk sifat sabar dalam mendidik anak adalah menjadi pendengar yang baik. Jangan pernah mengganggap remeh curhatan anak kita, dengarkan dan komentari dengan bijak serta sisipi dengan nasehat. - Sabar ketika emosi memuncak
Menghadapi kelakuan anak yang terkadang nakal memang menjengkelkan. Saat inilah dibutuhkan kesabaran. Jika amarah itu datang cobalah sementara untuk menjauh dari anak hingga emosi kita mereda. Setelah reda, baru dekati anak lagi dan cobalah menasehatinya. Menasehati anak sambil marah-marah tidak akan ada gunanya dan tidak memberikan kesadaran bagi anak. - Sabar jika ikhtiar kita dalam mendidik
anak belum menunjukkan hasil yang maksimal
Bersabarlah jika belum ada hasil yang maksimal dalam mendidik anak kita. Selalulah ingat bahwa Allah akan selalu melihat proses bukan hasil. Setiap ikhtiar kita mendidik anak akan Allah balas meskipun itu hal yang kecil. Selalulah mendoakan anak kita agar mereka menjadi anak yang shalih-shalihah.
Penuh Onak dan Duri
Mendidik anak
itu tidak mudah, akan ada onak dan duri. Memupuk kesabaran juga bukan perkara
gampang. Bukankah kita tahu bersama bahwa jalan menuju surganya Allah penuh
dengan hal-hal yang tidak kita sukai apalagi wanita memang memiliki sifat suka
berkeluh kesah. Jadi bersemangatlah berusaha menjadi ibu yang sabar, semoga
tips ini dapat membantu:
- Berlatihlah untuk sabar, dan ini harus bertahap tidaklah mungkin akan langsung bisa.
- Berdoa pada Allah agar menyuburkan sifat sabar dalam jiwa kita.
- Membaca tentang keutamaan sifat sabar dan juga kisah Nabi dan shahabat serta orang-orang shalih ketika mendidik anak-anak mereka.
- Sabar itu bisa naik dan turun, maka rajinlah mencharge kesabaran kita dengan banyak membaca, menghadiri majelis ilmu, serta berkawan dengan teman yang shalihah agar bisa menasehati kita untuk bersabar.
- Saling mengingatkan dengan partner kita dalam mendidik anak, yaitu suami kita.
Bukalah mata
kita, banyak orang tua yang belum dikaruniai anak atau dikaruniai anak namun
memiliki ‘keterbatasan’ yang menjadikan anak sukar dididik. Ingatlah hal itu
sehingga dengan itu kita akan banyak bersyukur dan berusaha keras memupuk
kesabaran dalam mendidik anak-anak kita. Selalulah ingat bahwa anak adalah
invetasi kita di akhirat kelak. Ibarat bercocok tanam, tanamlah benih unggul
dan sabarlah merawatnya, maka kelak kita akan menyemai buah yang ranum.
—
Penulis:
Nugrahaeni Ummu Nafisah
Artikel
Muslimah.Or.Id



No comments:
Post a Comment